Rabu, 13 November 2013

ada beribu mawar terhampar, menguar, di pelataran kebun yang
menjerat embun
tak mengapa, ya, jika tak kupilih satu, yang mungkin menurutmu itu sangat memesona

ada berjuta warna menarik kornea, menyentuh halus jemari tangan
dengan berbagai corak dan nama
tak mengapa, ya, jika aku lebih memilih merah muda
yang nyalanya tak sekilat mereka

di sini aku, 
memendam gumpal rasa 
yang memilih tak bernama

Senin, 21 Oktober 2013

8102.

do you really want to marry with a unusual girl?
do you want to go to jannaah with her?
do you really want to grow up with books, art, and tax?

nobody hates a hug

nobody hates a hug
he just hides it
nobody hates a hug
he don't want to make it seems too much
nobody hates a hug
he would do it when the right time, comes

RUANGAN BERPENDINGIN

ruangan berpendingin
nomor antrian
dan lelaki berkacamata

aku bertanya,
nomor antrian berapa?

aku berharap (sangat), bisa mengetikkan beberapa
tombol-tombol berisi huruf-huruf dan angka-angka

aku tahu apa yang digenggamnya
gula-gula yang manis
gula-gula yang membantu menghidupi gula-gula

aku tersenyum,
bukan takdirku
lelaki itu berjalan, tapi ke arahku
sempat terbersit untuk bertukar sapa
tapi tak sempat, apa daya

kenangan mulai tersulur
menjerat? ah, tidak
menderitakan aku? buat apa?

lelaki itu mengingatkanku pada lelaki lain
yang pada bulan-bulan sebelumnya biasanya
pergi menemani ke
ruangan berpendingin
nomor antrian
dan kertas-kertas

aku hanya berandai-andai
jika saja lelaki itu di sini
hadir,
aku akan berdiri!
keluar dari meja panjang
mencium pungung tangannya
dan berteriak ke teman-teman
bahwa dia ayahku

ayahku yang selalu
membawa buah tangan
dari kota
tempat ruangan berpendingin udara itu

itu ayahku
yang membantu aku sejak sekolah,
yang wara-wiri mengantarku
dengan konsekuensi yang tak mudah

ayahku,
yang bangga, bahagia, lega luar biasa
saat aku bisa masuk
ke ruangan berpendingin ini

aku menghibur diri
di luar sana ada sejuta warna
pelangi

lelaki berkacamata itu
boleh jadi membuatku sesak hati
tapi
harusnya memberiku arti
bahwa
alur hidup akan terus berjalan
berotasi
bumi

inilah kisah
dari
ruangan berpendingin
nomor antrian
tombol-tombol
dan sebuah kenangan


Sabtu, 07 September 2013

mungkin, sampai esok tak bisa menyamai. tapi, bukan berarti tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Aku tahu aku mencintai (kenangan indah) bersamamu
tentang foto tentang senyum anak kecil tentang kursi tua
tentang tangan yang tak jijik mengeluarkan 'limbah' hijau itu
juga tentang sepeda mini yang dikayuh saat aku kelas dua SD

Aku tahu kita ini sama-sama keras kepala
dalam menyuarakan bising hati yang semakin pekak
oleh distorsi yang entah

JELAS, aku juga tahu
aku masih sangat jauh dari kata mengabdi,
mencintai sepenuh hati,

apa karena aku ini masih muda, berkepala dua,
hingga butanya cinta menggelapkan mata
hati

apa aku harus melepas lajang dulu,
merasai duka segala
mengorbankan ke-aku-an
hingga paham yang namanya pengorbanan?

Kuharap tidak.

Aku memang harus belajar,
banyak belajar.
Ah, tidak!
bukan belajar.
kalau sudah ketemu kata belajar, kapan prakteknya?

Aku hanya perlu latihan --sebut saja seperti itu--
setiap hari.

Termasuk memburai segala kesah
dengan gamblang,
jelas,

doakan aku.

Rabu, 28 Agustus 2013

Coba Baca Lagi

Coba baca lagi. Kalau kamu lagi ujian, menghadapi soal pilihan ganda, udah mikir, pikiran sumpek, judek, dkk, dan nggak nemu jawabannya, lompati dulu, lalu baca lagi.

Kalau kamu sedang meresensi, udah menuangkannya dalam sebuah lembar kerja, merasa ada yang kurang, tinggalkan dulu, lalu baca lagi. Meski bentuknya bakal random. 

Because we never know when answer can be get :))

Jumat, 16 Agustus 2013

and they tell us about sadness
far away from here
bad news
and (actually) we should act more
than keep calm
and stay in front of computer

SHOULD.
10 Oktober 2012 – 16 Agustus 2013

Tentu bukan tempo waktu yang sebentar bagi saya, dan juga teman-teman lainnya, untuk 
melupakan segala hal berbau perkuliahan. Yaps, jalan hidup dan sebuah alur yang harus kami ikuti
membuat kami sebagian besar ada di rumah masing-masing, sibuk dengan berbagai 'kesibukan'.

Bebas. Sebuah kata yang tepat bagi kami. 

Saya juga merasa bebas. No tasks. No kuliahs. No presentasis *hehe, maksa, ding*.
Bagaimana rasanya bergelung di antara pahit hidup
Lantas tidak bisa berbuat apa-apa?

Bagaimana rasanya menyimpan ‘belati’ bertahun-tahun
Menunggu untuk dihunjamkan

Dan kauhanya mampu untuk berdesis saja?

Nestapa, tentu saja. 

Usahlah kaupakai pisau untuk menggores hati
Simpanlah ceracau yang mampu menggilas kenangan indah

Sebelum kau bertindak lebih jauh,
lihatlah rekahnya mahkota bunga
dari kuncup yang tertahan
rasakanlah betapa alaminya itu 

Usahlah kaupakai argumenmu
karena kautelah lama tenggelam dalam
segala macam
hipotesismu
sendiri 

Lepaskan ....

Biarkan ....

Karena hidup untuk cinta
dan melihat bintang-bintang di angkasa
merasai sentuhan angin pada layar kapal
juga gemericik hujan pada atap

Betapa
sederhananya


Pengikut