Lulu sedang asyik bersepeda
memutari jalanan sepanjang rumahnya. Jalan utama yang dihiasi beberapa pusat
perbelanjaan besar itu masih lengang. Sesekali saja angkutan berwarna biru
langit lewat, menunggu penumpang. Minggu yang cerah, meski matahari mengintip
langit kotanya malu-malu.
Lulu menyantap nasi pecel
blitar terenak di daerah itu. Sendirian. Cuma empat ribu rupiah, dia bisa
melahap nasi hangat, tempe dan tahu berbumbu kacang, dan sebuah kripik peyek
besar. Tadinya, Kak Maudy, misanannya, mau ikut. Pukul lima pagi mereka
berjanji bertemu di bundaran kampus. Namun, secara tiba-tiba Kak Maudy minta
maaf tak bisa ikut. Dia harus menemui seseorang. Tanpa Lulu tanyakan, dia sudah
mendapatkan jawabannya lewat senyum mengembang dan rutinitas serba cepat
misanan yang kerjaannya serba a la puteri keraton itu.