Selasa, 17 Februari 2015

Should I...?

Q : I had an NPWP or Nomor Pokok Wajib Pajak card. I...
     don't earn any money from my job.
     am too lazy to go to tax office.
     don't have any time to calculate all these things.
     'm jobless now.
     'm single *eh?
     Should I send tax return (SPT Tahunan)?

A : As long as you have a valid NPWP card, you must send tax return. Every year. To the tax office. The deadline is in last March for person and last April for Entity. Thank you! :)

DOA



Siang yang terik. Sudah waktunya istirahat. Perut mulai terasa lapar. Saya dan ketiga teman memutuskan untuk ke luar mencari makan. Biasanya sih, saya memilih yang dekat-dekat saja; di dekat kosan atau di kantin. Biar lebih lama juga istirahatnya. Berhubung ada perlu juga, ya sudah lah. Let we go. Dari kantor, kami berempat naik motor. Jarak tempat makan nggak jauh, mungkin bisa ditempuh lima sampai sepuluh menitan sahaja.

Tempat ini belum pernah saya masuki. Paling banter hanya numpang lewat (dengan kondisi toko tutup) dan melihat selebaran yang dipasang di depan. Dengar-dengar sih, lumayan. Soalnya, kalau kantor punya acara, pesan makannya di sini. Asyik. Di warung makan bergaya peresmanan ini –alias njupuk-njupuk dewe atau ambil-ambil sendiri—, lauk-lauknya terhidang menggoda. Ada tempe bacem, urap-urap, sayur bening, ikan bakar, ayam, daging sapi olahan, sampai lalapan segar. Oke, tentu saya tidak heran karena memang lazim sekali ada lalapan di warung makan di tanah sunda.

Saya pun mengambil piring, menyendok nasi, memilih lauk. Lauk pilihan saya jatuh pada ikan bakar berukuran lumayan dengan lumuran bumbu hitam. Hmm. Sepertinya ada bumbu jahenya, deh. Soalnya harum-harum gitu wanginya :D.

Kami berempat berhadap-hadapan. Ruang makan tidak besar, tidak pula kecil. Setelah cuci tangan, makanlah kami. Everything goes well. Acara ini diselingi dengan obrolan tentang postingan di media sosial, harga kosan di sekitar situ (soalnya bangunan kosan tersebut tinggi dengan fasilitas wah), dan sebagainya, dan sebagainya.

Oke, terlepas dari perbincangan, saya menikmati hidangan makan siang hari ini. Lapar, saudara-saudara. Apalagi dengan pesanan jus alpukat yang hmm, kayaknya seger banget. Piring saya habis, eh, nasinya habis, beserta lauknya. Tinggal tulang belulang saja Hehehe.
           
         Ada satu titik di mana saya merasa malu, lupa, dan kesindir. Di tengah makan tadi, ada seorang ibu dengan dua anak berseragam sekolah. Mereka duduk tak jauh dari posisi saya. Mereka juga sama, mengambil nasi dan lauk. Hidangan sudah tersaji. Tapi kok, tapi kok, mereka nggak langsung makan?
        
       Oh. Itu dia. Karena mereka berdoa. Berdoanya nggak sebentar. Terlihat khusyu’. Duh, mereka berdua masih anak-anak, belum sampai SMP. Saya jadi malu. Tadi itu saya sudah berdoa belum, yaa? Kalaupun berdoa, sudah khusyu’ belum, yaa? Setiap saat sudah membiasakan belum, ya? Agama saya mengajarkan basmalah, juga dengan doa “Allaahumma baariklana dst…”. Masalahnya, apakah doa itu sudah dilaksanakan dengan tulus? Paling nggak diri ini bersyukur masih bisa makan beratus butir nasi. Gimana dengan doa setelah makannya? :(
          
          Jaman TK dulu, pasti ada jeda waktu untuk berdoa bersama. Sayangnya bukan anak TK lagi *sigh*.

            Alasan paling klasik saat nggak berdoa adalah lupa. Lupa karena buru-buru. Lupa karena yang dimakan sedikit. Lupa karena yang dimakan hanya sebutir permen. Berarti, harus lebih dibiasakan lagi, nih, berdoanya.

            Jadi teringat candaan seorang penulis. Dia makan dan minum. Saat makan, dia tidak 
berdoa. Saat minum, malah berdoa. Lalu ditanya, kenapa tidak berdoa? Biar setannya cegukan karena habis makan langsung didoain :p

            Jam terus berputar. Saya mulai ketar-ketir sekarang, pengin balik ngantor. Selesai makan, mampir ke tempat lain sebentar, kami pun pulang. Kembali ke rutinitas lagi.

Makananya tadi sudah bayar? Sudah doong …. :). Ternyata lumayan, ya, ikannya. Nasi plus tempe bacem dua potong plus ikan plus jus alpukat dihargai Rp21 ribu *otak langsung membandingkan dengan harga makan per bungkus a la anak kosan yang bisa sampai 4ribu saja*.

            Saya berharap kapan-kapan bisa ke sana lagi. Mm, ketemu adik-adik imut itu lagi. Kapan-kapan yang belum pasti kapan. Yang pasti, saya dapat pelajaran. Saya kembali diingatkan, untuk berdoa sebelum makan. Thank you, fellas!

Minggu, 02 November 2014

q & a

q: saya seorang karyawan. pajak atas penghasilan saya tiap bulan dipotong perusahaan. yang laporan juga perusahaan. apakah saya masih punya kewajiban perpajakan?
a: ya. selain kewajiban membayar pajak, seseorang yang bernpwp wajib laporan SPT Tahunan setiap tahunnya :). bisa lapor ke kantor pajak terdaftar atau kantor pajak di seluruh indonesia paling lambat akhir maret tahun berikutnya.

terlambat lapor?

seorang ibu maju ke loket tempat pelayanan terpadu. beliau mau lapor pajak, lapor spt masa pph 21. hatinya lega tak terkira. akhirnya dipanggil juga. antrinya udah cukup lama.

meski nihil, aturan mengatakan spt masa pph 21 memang tetap harus dilaporkan. siapa saja yang lapor? pemberi kerja yang antara lain terdiri dari sekolah-sekolah, pemilik CV, bank, perusahaan, hingga perseorangan.

karena hari ini tanggal 19 dan hari Jumat, beliau tancap gas aja ke kantor pajak. besok tanggal 20, hari Sabtu. kantor pajak tutup. padahal tanggal 20 tanggal terakhir laporan. ya sudah. yang penting udah laporan. otomatis nggak terlambat. nggak kena denda.

saat di depan, ekspresi wajah ibu berubah. pasalnya, petugas mengatakan spt ibu itu tidak lengkap. belum distempel (cap sekolah) dan ditanda tangan. demi jarak dekat dan demi ketepatan waktu, ibu tersebut pulang untuk menyetempel spt dan balik lagi dengan tanda terima di tangan.

yang menjadi pertanyaan adalah, kalau batas waktu pelaporan jatuh pada hari libur, laporan pajaknya jadi maju atau mundur?

jawabannya mundur :). jadi wajib pajak bisa memilih untuk laporan pada hari kerja selanjutnya dan nggak akan dianggap terlambat.

misal. 20 november 2014 jatuh pada hari kamis. hari kamis merupakan hari kerja. no penalty.
           20 desember 2014 jatuh pada hari sabtu. maka laporan pajak pph 21 diundur sampai hari senin.

si ibu tersenyum. beliau lalu keluar ruangan. di benaknya, ada niat untuk lapor di awal bulan berikutnya saja biar tidak tergesa-gesa.



undangan

ada berbagai jenis undangan di dunia ini. undangan rapat, undangan seminar, undangan syukuran dapat kerjaan, undangan syukuran khitanan, sampai.... undangan menghadiri pernikahan.

yang terakhir ini intens saya dapatkan beberapa bulan terakhir. nggak banyak sih, tapi juga nggak bisa dibilang sedikit. yaa, saya memang bukan anak sma lagi. sudah tiga tahun lalu sejak saya diwisuda :p

undangan pernikahan memang bervariasi. dari segi warna, boleh jadi merah marun, biru langit, hijau muda, atau kuning pastel. dari gaya huruf pun banyak. mau times new roman, calibri, dan yang lainnya. tapi, intinya sama. undangan pernikahan tetaplah undangan pernikahan. ada dua insan di sana, yang mengharapkan kehadiran kita, untuk ikut merasakan kebahagiaan, ikut mendoakan.

omong-omong tentang penulisan nama, saya setuju dengan 'tidak memberi gelar pada kedua nama mempelai'. kita tidak sedang melamar pekerjaan. kita melamar anak orang #eh #mulaingelantur.

undangan yang bagus bagi saya adalah undangan yang bisa dibaca, simpel, dan tidak berfoto. mm.. sekarang kan sedang tren memamerkan foto juga tuh --khususnya pra wedding with hugging or something else--. saya mending milih yang pake tulisan aja deh. atau kalau pun mendesak, diakalin fotonya, ga sampai deketan. berpose romantis dengan pasangannya nanti saja setelah nikah. nanti bisa di-share di medsos buat pemantik semangat yang lain. hehe.

undangan softcopy? nggak masalah :) kadangkala undangan ini nggak kalah menarik dan lebih hemat tempat.

undangan. satu kata. banyak kesan bagi yang membacanya. undangan. sekali saja diberi. untuk waktu yang sangat lama.

manakah undangan yang akan anda pilih?





"Tidakkah kalian tahu, kalau setelah hijrahnya Rasulullah, tak ada lagi hijrah di muka Bumi ini, kecuali kesungguh-sungguhan untuk berbuat baik?"--Tanjung Samin bin Muhammad Abduh--, kalimat pembuka kumpulan cerpen Cinta Tak Pernah Tua-nya Benny Arnas

Sabtu, 20 September 2014

SMARTFREN ANDROMAX G: SMARPHONE KEREN HARGA SATU JUTA-AN



   


Jika kamu punya budget satu jutaan dan pengin punya smartphone baru yang stylish, keren, gaul, kaya fitur, maka Smartfren Andromax G lah jawabannya.
        
      “Apa sih Smartfren Andromax G itu? Apa saja fiturnya? Berapa skor antutunya? Kameranya gimana? Buat ngegame nggak nge-hang kan?”

         Eits, tenang, Saudara-Saudara. Dijawab satu-satu dulu, ya, pertanyaannya.

Senin, 07 April 2014

Pertemuan di Tengah Hujan

I
Aku duduk di beranda rumah ditemani emak. Anak-anak tetangga berkumpul di depan halaman rumahnya yang luas. Mereka bermain jemblong singit. Salah satu dari mereka menangis karena harus jaga terus. Akhirnya ada yang mengalah, hingga satu per satu pulang karena hujan.  Halaman rumah jadi sepi. Aku dan Emak masuk ke dalam rumah.
 “Ngomong-ngomong, teman mondok kamu dulu itu mau menikah lo, le? Syafi’i namanya.” Kata emak membuka percakapan. Topik yang sama selama satu minggu. Mungkin juga sama untuk mingu depan.
“Iya. Sudah tahu kok, Bu.” Jawabku asal.
“Kamu kapan nyusul?”
so, please tell me why you wrote so many absurd things?
I don't know. I just want to write, sedikit demi sedikit saja. Err.. a little bit I know is ... I'm lazy (enough) to write more words *sigh*. Please forgive.


Akan Ada Masanya

Akan ada masanya kamu pergi (lagi)
menjauh dari tanah yang nyata-nyata kamu pijaki selama berbelas tahun
menyingkir dari angin yang membelai rambut merayu wajah
menghampiri rerumputan dan ilalang di sudut itu

Akan ada masanya kamu menatap (bukan meratap)
matahari pagi
dari sudut itu
juga gemintang biru
dan awan-awan

Selalu ada pergi sebelum kembali
selalu ada sedih setelah senang, senang setelah sedih

Mereka bilang ini rotasi
sementara kamu sebut ini sedikit diskriminasi

Percayalah
hujan dan kemarau bisa mengantarmu pada
lentiknya pelangi


Pengikut