Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2016

LANGIT JAKARTA

LANGIT JAKARTA

Langit Jakarta menumpahkan hujannya. Sesekali kilat menyambar disertai gemuruh. Hingga azan magrib selesai berkumandang, bulir-bulir bening itu tak juga berhenti. Membasuh jalan, membasahi pepohonan, juga menempa jendela tempat Yudith bekerja.
“Lembur?”
Sebuah suara membuat Yudith mendongak, membetulkan kacamata minusnya, menggeleng, dan berkata. “Cuma nambahin beberapa detil aja untuk laporan bulanan. Kalau hujan berhenti, gue pulang.”
Di ruangannya sekarang memang sudah sepi. Hanya ada satu OB yang sedang membersihkan ruang pimpinan, dia sendiri yang menunggu hujan, dan Wulan yang di hadapannya sekarang. “Lu sendiri, ada deadline?”
“Lagi malas pulang cepat aja.”
"Ck. Pegawai teladan selalu ngeles kalau dibilang kerajinan."
Sambil duduk, Yudith merenggangkan otot-otot di tangan dan bahunya agar lebih rileks. Gemeletuk dari ruas-ruas jari lalu terdengar. “Gue mau bikin kopi. Mau?”
“Ya. Kopi hitam. No sugar, please.”
Yudith merespon dengan bergerak menuju dispenser yang terletak tak jauh dari mejanya. Sementara Wulan sudah menduduki tempat kerja Yudith, ikut membaca uraian laporan bulanan yang dimaksud temannya itu.
Wulan memiringkan kepala, membuat koreksi. “Realisasi buat konsumsi ulang tahun kita kemarin kayaknya kegedean deh, Dith.”
Jawaban Yudith diiringi denting sendok beradu dengan cangkir “Udah segitu. Pak bos minta tambahan snack sepuluh menit sebelum acara dimulai. Tahu sendiri, kan. Dirut sebelumnya berhalangan hadir.”
Wulan ber-O ria. “Biaya buat doorprize..... gede juga, ya?”
Yudith memberikan secangkir kopi untuk Wulan, secangkir kopi untuk dirinya, lalu mencebik, “Menurut lu, lima iPhone yang kita beli kemarin dari pasar gelap?”
Wulan terkekeh. “Ya. Ya. Ya. Kalau beli di pasar gelap, mending buat kamu aja, deh.”
Perbincangan mereka lalu beralih ke target perusahaan yang sepertinya tak terjangkau, rencana lembur Sabtu-Minggu yang akan mengganggu tidur siang, karyawan pindahan dari negeri seberang, sampai kedai kue baru yang luar biasa laris di hari pertama.
“Omong-omong tentang kue, gimana kalau kita ke sana?” ajak Yudith spontan.
“Sekarang?”
“Tentu aja! Lihat, udah nggak hujan lagi sekarang. Gue pesen uber nih, biar gampang.”
“Boleh. Lumayan lah buat nambah feed instagram.”
Maka itulah kesepakatan yang mereka buat. Kesepakatan atas secuil dari kisah hidup mereka yang hidup di kota metropolitan.
Yang tersisa adalah jalanan basah. Jendela yang mengembun. Dan kerlip lampu yang romantis. Langit Jakarta sudah tidak hujan (lagi).
*


Rabu, 04 November 2015

AIRIN

Jarum di arloji Airin telah menyentuh angka enam. Jarum pendek. Jarum panjangnya menunjuk  angka tiga. Airin sudah berdiri di pertigaan jalan yang menghubungkan jalur ke perkampungan, kota di sebelah timur, dan kota sebelah barat. Menunggu bus. Bukan bus sekolah, tetapi bus antar kota antar provinsi . Yang ‘kan mengantarkannya ke sekolah. Sekolah Airin tepat di pinggir jalan dan dilewati bus itu. Airin berangkat sendiri. Teman-teman dari tempat tinggalnya memilih naik motor. Lebih lekas sampai, kata mereka.

Di telinga Airin terpasang headset warna putih. Ada suara jernih vokalis Passenger di dalamnya. Kadang-kadang juga teriakan syahdu Adam Levine. Hmm, terkadang juga dia memutar lagu cover penyanyi-penyanyi independen –Boyce Avenue kesukaannya—. Di punggung Airin melekat tas warna putih yang sudah menjadi kesayangannya sejak kelas tujuh. Kini Airin kelas sepuluh. Berarti tiga tahun tas itu menemani dirinya. Tas itu tidak berat. Karena Airin hanya membawa buku secukupnya.
 
Jalan lagu ketiga. Airin mematikan lagunya. Bus telah datang, berwarna putih bercorak hijau. Airin naik. Airin tersenyum kepada kondektur bus langganannya itu. Airin ‘kan mendengar lagu lagi, berupa omelan penumpang yang mengeluh karena ongkos naik, lagu pengamen, hingga derubus, sampai dia beranjak turun.

Airin. Kamu pernah seperti Airin?

Senin, 07 April 2014

Pertemuan di Tengah Hujan

I
Aku duduk di beranda rumah ditemani emak. Anak-anak tetangga berkumpul di depan halaman rumahnya yang luas. Mereka bermain jemblong singit. Salah satu dari mereka menangis karena harus jaga terus. Akhirnya ada yang mengalah, hingga satu per satu pulang karena hujan.  Halaman rumah jadi sepi. Aku dan Emak masuk ke dalam rumah.
 “Ngomong-ngomong, teman mondok kamu dulu itu mau menikah lo, le? Syafi’i namanya.” Kata emak membuka percakapan. Topik yang sama selama satu minggu. Mungkin juga sama untuk mingu depan.
“Iya. Sudah tahu kok, Bu.” Jawabku asal.
“Kamu kapan nyusul?”

Senin, 04 Maret 2013

DUA RATUS RIBU RUPIAH

Sumber gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Bangil


Aku menggenapkan langkah keseratus saat tiba di stasiun ramai ini. Stasiun Bangil. Stasiun yang berdiri di sudut pertigaan jalan pantura. Langkahku diiringi oleh langkah mereka yang serba cepat. Orang-orang yang membawa koper-koper itu mungkin tak sabar sampai di tempat kerja, pulang, begitu seterusnya. Hingga tiba di penghujung akhir bulan, saat mereka menerima gaji.

Tentu aku berbeda dari mereka. Aku tak ingin naik kereta api. Entah itu kelas eksekutif, bisnis, atau ekonomi. Aku hanya membutuhkan kedatangan kendaraan beroda baja itu. Lima menit saja. Aku juga tak ingin matahari pulang ke peraduan cepat-cepat. Karena satu hari –satu hari saja— sangat berarti bagiku. Aku yang berkalung tali usang, bergelang untaian puluhan bungkus kopi, dan berpangku belasan gelas mie cepat saji. Bagiku, stasiun bukanlah tempat bertemu atau berpisah. Stasiun juga bukan hanya sekadar tempat menunggu. Jika diibaratkan tubuh, stasiun serupa jantung yang harus sering dikunjungi.

Sabtu, 09 Februari 2013

TENTANG NURIZ DAN NINDYA


Tentang Nuriz dan Nindya

 Jam dinding ini, mengapa terlalu cepat berjalan? Jarum telah menunjukkan pukul sebelas malam. Padahal, lima soal kalkulus belum berhasil kukerjakan. Aduh, aku harus mengetok pintu siapa? Penghuni kamar sebelah sedang keluar. Pintu depan takut kubuka, soalnya dia ketua asrama yang tegas dan berwibawa. Aduuh, ke siapa lagi?

          Kalau sudah begini, aku menyesal meninggalkan acara asrama di hari pertama untuk berkenalan satu sama lain. Tak usah kabur karena organisasi kampus. Kupandangi foto yang tersimpan rapi di laci berpegangan hati itu, orang tuaku. Sebentar, Ibu. Anakmu sedang bergulat dengan soal-soal kuliahnya. Aku juga takkan begitu mudahnya menyerah, Ayah.

            Pandanganku mengarah kepada sosok yang sedang tertidur pulas di sana. Oh, iya. Bukankah ada Mbak Nindya? Menurut ketua asrama, dia cerdas luar biasa. Lagipula, Mbak Nindya minta dibangunkan pukul sebelas. Mau belajar katanya.

Rabu, 30 Januari 2013

Pertemuan Kedua


PERTEMUAN KEDUA

Entah bagaimana caranya, pandanganku yang sedari tadi gelap perlahan menjadi terang benderang. Semua baik-baik saja saat aku berdiri di tengah kerumunan orang dalam sebuah acara yang luar biasa padat. Malang Tempoe Doele, sebuah festival tahunan bagi warga Malang. Segala jajanan tersedia. Berbagai pagelaran terlaksana. Dari Tarian Beskalan hingga orang-orang berkostum jaman biyen1. Yang lelaki memakai baju batik sederhana dan celana tiga perempat dari kain katun. Sedang yang perempuan bersanggul di kepala, memakai baju kebaya dan jarik2 sampai bawah lutut. Sepanjang Jalan Ijen, jalan utama di kota Malang, benar-benar padat.

“Hei, kamu baik-baik saja?” ujar seseorang di sampingku.

Restu masih saja memperhatikanku dengan gelisah. Lelaki yang menemani kami sedari tadi itu seperti tak mau aku jauh-jauh. Bahkan saat kami bertiga memarkir motor di dekat sebuah ATM drive through.  Aku tersenyum. “Ya, aku baik-baik saja.” Mungkin karena seminggu telah mengenal watakku yang sering bepergian tanpa pamit, dia takut aku hilang atau dicuri oleh maling yang iseng atau ekstrimnya, dirampok pembunuh bayaran.

Selasa, 08 Januari 2013

SEBUAH KISAH DI SUDUT DESA LOK BAINTAN



SEBUAH KISAH DI SUDUT DESA LOK BAINTAN

Sebuah jeruk siam banjar menggelinding di atas lantai kayu. Berputar-putar, lantas berhenti. Galuh memungutnya, kemudian berlari ke dapur untuk mencucinya dengan air bersih. Dikupasnya buah berwarna hijau tua itu dengan cekatan. Saat kulit ari sempurna terkelupas, dia makan dengan lahap. “Segar! Segar!“ serunya sambil mengejap-ngejapkan mata. 

Syahbana, sang paman (yang sebenarnya hanya berumur dua tahun lebih tua itu), memperhatikannya, lalu berceloteh, “Kau masih seperti dulu, Luh, seperti anak kecil. Masih ingat tidak, saat kau bersemangat menaiki anak tangga Masjid Mujahiddin hingga nyaris tercebur ke dalam sungai?” 

Galuh seketika terbahak. Gigi-gigi putih mentimunnya terlihat. “Iih, Paman. Masih ingat saja. Iya, waktu itu umurku masih tujuh tahun. Imut benar, ya? Sarung buat sembahyang sudah basah, masih ditakut-takuti pula kalau ada ikan paus di sungai Paku Alam ini.”

Kamis, 20 Desember 2012

LOLITA DAN SEBUAH AYUNAN




LOLITA DAN SEBUAH AYUNAN


Namanya Lolita. Ia adalah anak tunggal dari keluarga Pak Ridwan. Ia juga menjadi cucu pertama di keluarga besarnya. Itu berarti, kasih sayang mereka dicurahkan betul kepada anak yang satu itu. 

Meski dimanja, ia nyatanya tetap menjadi pusat perhatian bagi orang orang-orang di sekelilingnya. Ia benar-benar mewarisi garis keturunan yang baik, macam dominan pada resipien pertama dalam biologi. Matanya cokelat muda, bening sekali bila diterpa matahari. Tubuhnya tegap, kulitnya sawo matang. Manis. Wajah natural orang Jawa. Seringkali bocah-bocah kecil mengunjungi rumahnya, bercanda-canda dengannya. 

Sabtu, 08 Desember 2012

PENCITRAAN


PENCITRAAN

Lagi-lagi aku mendapati sesosok bayangan yang sedang membungkuk itu. Tengah malam begini. Sendirian. Celingukan. Terkadang memandang ke kanan, terkadang memandang ke kiri. Sangat mencurigakan. Biasanya, yang dilakukannya adalah berjalan mengendap-endap melewati rumah kecilku, juga rumah-rumah tetanggaku, lalu berbelok ke kiri. Hilang. Tak ada kabar kemalingan atau apapun memang. Namun kurasa, yang dilakukan orang itu benar-benar ganjil.

         Bagaimana tidak ganjil jika dia hanya seorang diri berjalan –seperti tanpa arah?- dia tidak mabuk, terbukti dari jalannya yang tak sempoyongan. Dia juga tidak berjudi, karena yang kutahu markas judi terbesar ada di sebelah timur, bukan di sebelah barat. Yang paling membuatku penasaran adalah siapakah dia? Wajahnya selalu tertutupi caping hitam, persis ninja di televisi yang biasa ditonton anakku.

Senin, 01 Oktober 2012

Teman, Sebuah Pilihan



“Ikut, yuk!” ajakan Khizril seperti kembang api yang meledak-ledak, bersinar di depan matanya. Warda sampai menjatuhkan pensil ke tanah hingga berbunyi nyaring. Ini siang yang terik, bukan hujan gerimis romantis dengan angin yang semilir. Tiba-tiba saja, di tengah jadwal kuliah yang padat betul, pemuda yang juga jurusan seni rupa itu rela menemui Warda di selasar kampus –tempat yang sangat tidak disukai Khizril– demi sebuah janji. Janji untuk memperkenalkan Warda bersama komunitas design interior-nya.
“Kapan lagi kamu menjadi arsitek handal jika tidak dimulai dari sekarang!” Khizril mengompori semangat Warda agar kian membara. Ah, Warda memang belum lama mengenalnya. Tak lebih dari sebulan setelah ospek jurusan diadakan, tetapi Khizril telah menjelma menjadi kakak tingkat yang begitu membantu. Informasi apa saja didapatkan. Beasiswa untuk mahasiswa semester satu, tempat kos yang nyaman, hingga tempat toko buku murah.
Ledakan itu sungguh membuat dada Warda bergemuruh. Komunitas itu, komunitas yang bisa membantu mengembangkan bakatnya. Namun, dia tetap menimbang-nimbang. Apa yang akan menjadi respon ayahnya, apa yang akan menjadi keputusan ibunya bila mereka mengetahui ia akan pergi sejauh 100km hanya untuk dengan teman-teman Khizril; yang tak jelas siapa mereka semua; apakah ada perempuan berjilbab seperti dirinya.
“Tidak mengajak yang lain?” tanya Warda antusias. Bagaimanapun, menjadi arsitek handal adalah impiannya. Ia bisa pergi jika bersama satu saja teman perempuan lain.
“Ada! Citra dan Mega akan menemanimu,” sahut Khizril mantap.
Warda berusaha keras menguak memori tentang dua nama itu. Citra dan Mega. Mereka adalah teman yang cukup baik. Selalu menutupi mahkota kepala mereka dengan jilbab, santun, dan pintar. Namun Warda bimbang, Citra dan Mega bertindak aneh akhir-akhir ini. Mereka berdua sering membolos kuliah tanpa alasan yang jelas, sering terkikik kala dosen memberikan kuliah, dan beberapa kali dilihatnya mereka melepas jilbab saat pergi ke kampus.
 “Lihatlah profil komunitas ini, Kak. Visi mereka tak jelas. Masa diskusi tentang wallpaper rumah saja sampai di café yang buka 24 jam?” Warda seketika teringat apa yang ditunjukkan Tiwi, teman satu kos dan satu jurusan tempo hari. Situs tumblr Komunitas Merah, komunitas yang digadang-gadang Khizril sebagai komunitas seni rupa terbaik di kota ini. Tak ada yang menarik baginya karena acara hanya berputar pada perkenalan di café A selama lima jam, café B selama empat jam, dan seterusnya. Tak ada fasilitas makalah, tutor yang diundang, atau yang lainnya. Selain itu, mengapa harus membayar dua ratus ribu hanya untuk satu kali pertemuan?
Warda menerawang langit senja, berharap akan menemukan jawaban atas apa yang dipikirkannya. Tak ada, tentu saja. Ia harus meminta izin ibu terlebih dahulu. Singkat, dikirimnya sebuah pesan. “Bu, bolehkah aku ikut pertemuan komunitas seni rupa pukul sembilan malam?” satu menit, dua menit, lima menit. Tak ada balasan. Ah, pastilah ibu belum turun sawah sembari berjalan ke pematang. Sementara itu, Khizril masih menungguinya dengan tenang.
Jika aku pergi ke sana pukul sembilan malam, aku tak dapat memastikan pukul berapa pulang ke kosan. Pasti sangat larut. Lagipula, hati kecilku bilang ini bukan komunitas yang kucari. Aku pun sudah melihat situs tumblr mereka. Ini hanya perkumpulan anak muda yang tak jelas juntrungnya. Namun, tak ada salahnya untuk berteman. Toh dia masih semester satu. Tak banyak tugas. Gelora di hati Warda berkecamuk.
Saat itu, Warda menangkap bayangan Izzah, teman sekelasnya yang berjalan melewati selasar perpustakaan. Langkahnya tenang dan berwibawa. Sebuah buku diktat besar digenggamnya. Ada perasaan iri dalam diri Warda –iri yang baik- karena perempuan itu telah mengikuti berbagai kejuaran tingkat nasional bahkan internasional. Warda memperhatikan bagaimana Izzah membalut tubuhnya dengan busana muslim yang rapi itu.
“Bagaimana, Warda, kamu ikut?” Khizril mendekat. Aroma rokok yang tajam menusuk hidung, membuatnya sedikit menjauh.
Citra dan Mega datang. Mereka turut menyemangati gadis berjilbab itu agar ikut. Khizril sampai setengah berlutut di hadapan Warda. Tak usah menunggu jawaban ibu, Warda telah mendapat jawabannya.
*
Motor melaju dengan sangat kencang di tengah jalanan yang ramai. Warda nampak khawatir saat dibonceng di belakang Citra. Mega dan Khizril mengendarai motor masing-masing. “Pelan-pelan saja, Cit!”
“Ah, nasihatmu seperti nasihat orang tua! tenang…”
“Kamu yakin bensinnya sudah diisi penuh?”
“Ya. Sebelum menjemput kamu, aku pergi ke pom bensin.”
“Kalau rem motornya, nggak blong, kan?”
Citra tertawa,  “Kamu ini seperti orang mau mati saja. Tak akan, percayalah. Kakakku selalu mengecek motornya setiap hari. Sampai bosan aku melihatnya.”
Warda memejamkan mata, terus berdoa. Entahlah. ini bukan malam minggu. Lazimnya jalan tak seramai di akhir pekan. Namun, ada kekhawatiran yang membayanginya. Khawatir yang bercampur dengan ketakutan. Khawatir motor ini akan bertabrakan dengan kendaraan lain, dan juga takut jika komunitas itu tak seperti harapannya.
Citra terus mengendarai motornya kencang-kencang. Warda mulai membuka mata. Ah, aman. Dua jam perjalanan dan ia sudah hampir sampai. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Komunitas Merah, komunitas terbaik di kota ini.
“Sudah sampai. Yuk!” Citra menggamit tangan Warda secara kasar.
Sebuah café yang dipenuhi dengan hiruk pikuk remaja. Warda meringis melihat pemandangan di depannya. Citra dengan santainya membuka jilbab di hadapannya, lantas menggelayut manja kepada seorang pemuda. Begitu pula dengan Mega. Nyali Warda untuk belajar seni rupa menciut. Ia tak mengekor bergabung dengan perbincangan yang sama sekali tidak ia mengerti, juga gaya hidup yang tak ia terima.
Ah, ada apa ini? Mengapa mereka membuka jilbab? Tak risihkah mereka seperti ini?
Khizril, yang sedari tadi turut sibuk dengan teman-temannya,  menangkap pertanyaan tersirat Warda dengan nada sumbang, “Kalau jilbab dibawa-bawa di komunitasku, mereka takkan diterima. Haha.” Betapa nyaringnya tawa Khizril. Betapa sempoyongannya caranya berjalan. Kini, Warda tahu benar apa yang terjadi. Ini bukan Komunitas Merah, komunitas terbaik. Ini bukan sarana pembelajaran seni rupa. Warda hanya dijadikan sebagai kelinci taruhan saja.
Ooh. Tiba-tiba Warda ingin kabur dari tempat ini. Tak peduli dingin malam yang menyeringai. Tak peduli jika harus naik truk boks besar sekalipun. Tak peduli jika dia tak dianggap sebagai adik tingkat lagi oleh kampus. Ia ingat bapak, ia ingat ibu.
“Hei, mau kemana kamu?” Khizril menahan langkahnya. “Di sini sajalah dulu. Tunggu sampai matahari terbit.” Bau alkohol menguar tajam. Warda mencari celah dari langkah Khizril cepat-cepat.
“Aku mau pulang saja. Sendirian.”
Khizril terbahak. “Tidak, tidak. Kau tak bisa. Tak ada yang akan mau mengantarkanmu.”
“Tak mengapa. Aku bisa naik motor sendiri.” Kini keberanian itu semakin muncul. Kekuatannya juga. Kekuatan untuk mempertahankan apa yang diyakini Warda sebelumnya. “Aku mau pulang.” Tegasnya sekali lagi.
Khizril mengangkat bahu, tak mau tahu. Dari kejauhan Citra dan Mega memanggil-manggil namanya, turut membawa botol minuman keras itu. Yang lain juga seperti itu. Warga bergidik. Tak ingin membuang waktu lagi, diacungkannya jempol saat sebuah mobil bak bermuatan sayur lewat. Ia melompat sekuat tenaga ke dalam mobil bak. Namun ada sesuatu yang menahannya.
“Mau kemana kau?” Tangan kasar Mega menarik ujung roknya. Citra melakukan hal yang sama. Warda mengaduh. Kakinya tercakar. Bagaimana bisa kedua temannya menjadi seberingas ini? Kedua tangan Warda meraih ujung karung berisi wortel, membuatnya tubuhnya lebih mudah masuk ke dalam bak mobil. Hap! Berhasil. Ia berhasil lepas dari amukan kedua gadis itu. Namun mereka terus mengejar sembari mengeluarkan sebuah belati. Belati tajam yang mengarah ke mata kanannya. “Anak bau kencur, kau takkan bisa lepas dari komunitas kami!”
*
“Kak, ayo bangun,” suara khas Tiwi, serak dan basah, memantul-mantul di kamar kos di pagi yang dingin. “Ayo sholat subuh!”
Warda terperanjat. Ia merasa terpisah dengan kejadian yang dialaminya barusan. Matanya berkedip, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Kak, kenapa, habis mimpi buruk, ya?”
Mendengar pertanyaan itu, Warda langsung bangkit, tetapi kepalanya berdenyut-denyut. Pening.
Rekonstruksi cerita melingkupi memori otak Warda. Barusan ia dikejar-kejar Mega dan Citra. Namun, kejadian sebelumnya menghampirinya, kejadiaan yang benar-benar nyata. Saat kemarin sore, saat Khizril menemuinya di selasar perpustakaan dan mengajaknya ke komunitas tak jelas itu, ketika ia bimbang, lalu berpapasan dengan Izzah, lalu ia menolaknya. Khizril pulang dengan tampang kecewa, begitu pula dengan Citra dan Mega. Lantas ia pulang ke kosan seperti biasa, sholat maghrib dalam keadaan capai luar biasa, makan, sholat isya, lantas tertidur. Dan ternyata barusan hanya mimpi! sungguh, hanya mimpi!”
 “Subhanallah… alhamdulillaah…” Warda merasakan kelegaan yang amat sangat. Diperiksanya kaki kanannya. Tak ada bekas cakaran. Pun dengan roknya yang baik-baik saja. Warda merasa sangat beruntung karena menolak ajakan kemarin sore. Ya, ia ingat perkataan Izzah, teman sekelasnya yang sangat cerdas itu. Pilihlah teman yang kamu anggap baik. Jika ragu, jangan pilih.
“Kamu akan menyesal, War, telah menolak ajakanku!” umpat Khizril kemarin sore, sebelum pergi. Warda tak peduli. Ia tahu teman yang baik. Dan Khiril bukan teman yang baik. Ia sendiri yang melihat Khizril melakukan hal yang sama kepada Izzah minggu sebelumnya.
“Ada berita buruk, Kak,” ucap Tiwi dengan suara tertahan, “Komunitas yang kutunjukkan di tumblr itu ternyata benar-benar membahayakan. Dan koordinatornya dibekuk polisi karena acara yang berkedok transaksi narkoba tadi malam.”
Warda beristighfar dalam hati. Ia tahu siapa yang dimaksud. Khizril lah koordinatornya. Lagi-lagi ia bersyukur tak mengikuti acara hitam itu. Ia lalu bergegas sholat subuh, mengejar cinta untuk bertemu dengan-Nya.*

-diikutsertakan pada lomba cerpen di fanpage Indahnya Islam. Feel free for comments or anything :)

Pengikut