Waktu diklat dulu, salah satu anggota KPK pernah bicara tentang gratifikasi.
Gratifikasi itu seharusnya dilaporkan ke KPK, biar bisa tahu itu bisa diterima atau nggak. Biasanya yang bisa diterima nominalnya kurang dari Rp250.000
Pertanyaannya, kalau gratifikasi --pemberian-- berupa makanan gimana? Laporan ke KPK terus nunggu keputusan baru boleh makan? Keburu basi makanannya...
Pengecualian tentang makanan, nggak perlu lapor ke KPK. Makanan itu boleh dimakan, dengan syarat harus dimakan rame-rame. Ini yang dikatakan narasumber yang menurut saya imut dan kece itu.
Untuk lebih lengkapnya bisa baca yang satu ini....
http://kpk.go.id/gratifikasi/index.php/informasi-gratifikasi/tanya-jawab-gratifikasi
Jumat, 17 April 2015
Catatan Karyawan #1
Menjadi karyawan memberi kesempatan bagi kita untuk bertemu orang banyak. Dengan datangnya sejumlah customer setiap hari, dan kembalinya mereka --orang yang sama-- pada waktu beberapa lama, ada skill yang terasah. Menghapal wajah mereka satu-satu :D. Mungkin juga udah ada minat dari sononya, jadi perhatian dengan detail segini pun ditangkap mata.
Imaji datang sebelum huruf. Wajah bisa dikenal meskipun nggak tahu nama.
Kalau sudah begini, berasa dunia selebar daun kelor. Ke Car Free Day, ketemu Mbak berambut panjang yang masang headset di telinga (gayanya persis seperti saat dia menunggu antrian). Car Free Day lagi, ada Mbak yang lagi jalan sama rekannya. Ke pusat perbelanjaan, menatap sekilas bapak-bapak yang biasa laporan. Bapak tersebut sedang turun dari elevator bersama istri dan anaknya. Aih, so sweet pisan. Ke toko lain, bertatap muka dengan bapak-bapak yang lainnya (bapaknya sendiri sepertinya agak ngeh, tapi sungkan menyapa -- saya juga :p).
Pernah bertemu. Selalu nggak hapal nama. Nggak pernah nanya juga :D hehe.
Yang asyik itu seperti ini. Saya pergi ke warung kelapa muda bersama seorang teman. Kami ngobrol. Pakai baju bebas, dong, kan nggak lagi ngantor. Waktu itu sudah malam, lepas sholat magriban. Naaah, datanglah bapak-bapak (lain lagi) yang nyamperin. Memori di kepala langsung bekerja. Ini yang biasanya juga ketemu tiap bulan...
"Beli kelapa muda, Mbak?"
"Iya, Pak."
Saya juga yang dongdong. Triggernya pakai acara nanyain kerjaan. Jadi lah bapaknya juga ngobrolin kerjaan. Tapi itu sekali aja. Lain waktu ketemu lagi di tempat yang sama, saya nggak ungkit-ungkit lagi. Kapok. Eh, bapaknya ngomongin itu lagi, pakai ngejanjiin gratifikasi lagi~
"Nanti bos saya mau ke Mbak. Mau ngasih uang 50ribu."
WHAT?? BUAT??
"...Soalnya saya suka ngerepotin Mbak, sih...." (Itung-itung balas jasa gitu)
Setengah nggondok. "Udah kerjaan saya kok, Pak."
Ada kali dua kali ngomong gitu. Jauuh hari sebelumnya, si bos memang pernah juga ketemu saya, bilang hal serupa. "Nanti saya kasih uang, yaa..."
Saya tentu nggak mau. Uangnya sih lumayan buat beli pulsa. Tapi itu kan dari jalan nggak bagus. Harga diri dan idealisme terkoyak huaa :(
Udah. Diem deh. Temen saya nyikut. Kami sama-sama mengerti. Kami biarin apa pun perkataan yang muncul.
Meski ada saat tidak enaknya, serunya juga ada, kok. Pernah makan mie ayam semeja sama bapak (yang lainnya lagi). Bedanya, si bapak nggak nanyain kerjaan saya, tapi menceritakan pengalaman bekerjanya di sini, sunu, dan sanaa. Beda kan, ya? Hehe. Nggak ada gratifikasi pula.
Being an employee makes you have opportunity to ask something about your clients' work, but just in the workday. I'll try not to ask anything about their duty on their free time. I'll try.
Imaji datang sebelum huruf. Wajah bisa dikenal meskipun nggak tahu nama.
Kalau sudah begini, berasa dunia selebar daun kelor. Ke Car Free Day, ketemu Mbak berambut panjang yang masang headset di telinga (gayanya persis seperti saat dia menunggu antrian). Car Free Day lagi, ada Mbak yang lagi jalan sama rekannya. Ke pusat perbelanjaan, menatap sekilas bapak-bapak yang biasa laporan. Bapak tersebut sedang turun dari elevator bersama istri dan anaknya. Aih, so sweet pisan. Ke toko lain, bertatap muka dengan bapak-bapak yang lainnya (bapaknya sendiri sepertinya agak ngeh, tapi sungkan menyapa -- saya juga :p).
Pernah bertemu. Selalu nggak hapal nama. Nggak pernah nanya juga :D hehe.
Yang asyik itu seperti ini. Saya pergi ke warung kelapa muda bersama seorang teman. Kami ngobrol. Pakai baju bebas, dong, kan nggak lagi ngantor. Waktu itu sudah malam, lepas sholat magriban. Naaah, datanglah bapak-bapak (lain lagi) yang nyamperin. Memori di kepala langsung bekerja. Ini yang biasanya juga ketemu tiap bulan...
"Beli kelapa muda, Mbak?"
"Iya, Pak."
Saya juga yang dongdong. Triggernya pakai acara nanyain kerjaan. Jadi lah bapaknya juga ngobrolin kerjaan. Tapi itu sekali aja. Lain waktu ketemu lagi di tempat yang sama, saya nggak ungkit-ungkit lagi. Kapok. Eh, bapaknya ngomongin itu lagi, pakai ngejanjiin gratifikasi lagi~
"Nanti bos saya mau ke Mbak. Mau ngasih uang 50ribu."
WHAT?? BUAT??
"...Soalnya saya suka ngerepotin Mbak, sih...." (Itung-itung balas jasa gitu)
Setengah nggondok. "Udah kerjaan saya kok, Pak."
Ada kali dua kali ngomong gitu. Jauuh hari sebelumnya, si bos memang pernah juga ketemu saya, bilang hal serupa. "Nanti saya kasih uang, yaa..."
Saya tentu nggak mau. Uangnya sih lumayan buat beli pulsa. Tapi itu kan dari jalan nggak bagus. Harga diri dan idealisme terkoyak huaa :(
Udah. Diem deh. Temen saya nyikut. Kami sama-sama mengerti. Kami biarin apa pun perkataan yang muncul.
Meski ada saat tidak enaknya, serunya juga ada, kok. Pernah makan mie ayam semeja sama bapak (yang lainnya lagi). Bedanya, si bapak nggak nanyain kerjaan saya, tapi menceritakan pengalaman bekerjanya di sini, sunu, dan sanaa. Beda kan, ya? Hehe. Nggak ada gratifikasi pula.
Being an employee makes you have opportunity to ask something about your clients' work, but just in the workday. I'll try not to ask anything about their duty on their free time. I'll try.
Selasa, 17 Februari 2015
katamu rindu
katamu rindu
pada jemari yang menari-nari
di atas awan putih berbingkai hitam
katamu iri
pada tulisan-tulisan rekan-rekan
yang dimuat di tiap akhir pekan
katamu sesak
saat kata-kata hanya menggumpal di tenggorokan
tak terucap dan tak tertuliskan?
mengapa tak kau tumpahkan saja
hujan kesedihan
mendung kegalauan
angin kebencian
rintik keinginan
biar dua kantong udara di balik dadamu itu
menjadi seperti udara di pegunungan
atau juga bianglala
yang kokoh di tengah kota
katamu rindu
mengapa tak kau katakan saja?
pada jemari yang menari-nari
di atas awan putih berbingkai hitam
katamu iri
pada tulisan-tulisan rekan-rekan
yang dimuat di tiap akhir pekan
katamu sesak
saat kata-kata hanya menggumpal di tenggorokan
tak terucap dan tak tertuliskan?
mengapa tak kau tumpahkan saja
hujan kesedihan
mendung kegalauan
angin kebencian
rintik keinginan
biar dua kantong udara di balik dadamu itu
menjadi seperti udara di pegunungan
atau juga bianglala
yang kokoh di tengah kota
katamu rindu
mengapa tak kau katakan saja?
Should I...?
Q : I had an NPWP or Nomor Pokok Wajib Pajak card. I...
don't earn any money from my job.
am too lazy to go to tax office.
don't have any time to calculate all these things.
'm jobless now.
'm single *eh?
Should I send tax return (SPT Tahunan)?
A : As long as you have a valid NPWP card, you must send tax return. Every year. To the tax office. The deadline is in last March for person and last April for Entity. Thank you! :)
don't earn any money from my job.
am too lazy to go to tax office.
don't have any time to calculate all these things.
'm jobless now.
'm single *eh?
Should I send tax return (SPT Tahunan)?
A : As long as you have a valid NPWP card, you must send tax return. Every year. To the tax office. The deadline is in last March for person and last April for Entity. Thank you! :)
DOA
Siang yang
terik. Sudah waktunya istirahat. Perut mulai terasa lapar. Saya dan ketiga
teman memutuskan untuk ke luar mencari makan. Biasanya sih, saya memilih yang
dekat-dekat saja; di dekat kosan atau di kantin. Biar lebih lama juga
istirahatnya. Berhubung ada perlu juga, ya sudah lah. Let we go. Dari
kantor, kami berempat naik motor. Jarak tempat makan nggak jauh, mungkin bisa
ditempuh lima sampai sepuluh menitan sahaja.
Tempat ini
belum pernah saya masuki. Paling banter hanya numpang lewat (dengan kondisi
toko tutup) dan melihat selebaran yang dipasang di depan. Dengar-dengar sih,
lumayan. Soalnya, kalau kantor punya acara, pesan makannya di sini. Asyik. Di
warung makan bergaya peresmanan ini –alias njupuk-njupuk dewe atau ambil-ambil
sendiri—, lauk-lauknya terhidang menggoda. Ada tempe bacem, urap-urap, sayur bening,
ikan bakar, ayam, daging sapi olahan, sampai lalapan segar. Oke, tentu saya
tidak heran karena memang lazim sekali ada lalapan di warung makan di tanah sunda.
Saya pun mengambil
piring, menyendok nasi, memilih lauk. Lauk pilihan saya jatuh pada ikan bakar
berukuran lumayan dengan lumuran bumbu hitam. Hmm. Sepertinya ada bumbu
jahenya, deh. Soalnya harum-harum gitu wanginya :D.
Kami berempat
berhadap-hadapan. Ruang makan tidak besar, tidak pula kecil. Setelah cuci
tangan, makanlah kami. Everything goes well. Acara ini diselingi dengan
obrolan tentang postingan di media sosial, harga kosan di sekitar situ (soalnya
bangunan kosan tersebut tinggi dengan fasilitas wah), dan sebagainya, dan
sebagainya.
Oke,
terlepas dari perbincangan, saya menikmati hidangan makan siang hari ini. Lapar,
saudara-saudara. Apalagi dengan pesanan jus alpukat yang hmm, kayaknya seger
banget. Piring saya habis, eh, nasinya habis, beserta lauknya. Tinggal tulang
belulang saja Hehehe.
Ada
satu titik di mana saya merasa malu, lupa, dan kesindir. Di tengah makan tadi,
ada seorang ibu dengan dua anak berseragam sekolah. Mereka duduk tak jauh dari
posisi saya. Mereka juga sama, mengambil nasi dan lauk. Hidangan sudah tersaji.
Tapi kok, tapi kok, mereka nggak langsung makan?
Oh.
Itu dia. Karena mereka berdoa. Berdoanya nggak sebentar. Terlihat khusyu’. Duh,
mereka berdua masih anak-anak, belum sampai SMP. Saya jadi malu. Tadi itu saya
sudah berdoa belum, yaa? Kalaupun berdoa, sudah khusyu’ belum, yaa? Setiap saat
sudah membiasakan belum, ya? Agama saya mengajarkan basmalah, juga dengan doa “Allaahumma
baariklana dst…”. Masalahnya, apakah doa itu sudah dilaksanakan dengan tulus?
Paling nggak diri ini bersyukur masih bisa makan beratus butir nasi. Gimana
dengan doa setelah makannya? :(
Jaman
TK dulu, pasti ada jeda waktu untuk berdoa bersama. Sayangnya bukan anak TK
lagi *sigh*.
Alasan
paling klasik saat nggak berdoa adalah lupa. Lupa karena buru-buru. Lupa karena
yang dimakan sedikit. Lupa karena yang dimakan hanya sebutir permen. Berarti,
harus lebih dibiasakan lagi, nih, berdoanya.
Jadi
teringat candaan seorang penulis. Dia makan dan minum. Saat makan, dia tidak
berdoa.
Saat minum, malah berdoa. Lalu ditanya, kenapa tidak berdoa? Biar setannya
cegukan karena habis makan langsung didoain :p
Jam
terus berputar. Saya mulai ketar-ketir sekarang, pengin balik ngantor. Selesai
makan, mampir ke tempat lain sebentar, kami pun pulang. Kembali ke rutinitas
lagi.
Makananya
tadi sudah bayar? Sudah doong …. :). Ternyata lumayan, ya, ikannya. Nasi plus
tempe bacem dua potong plus ikan plus jus alpukat dihargai Rp21 ribu *otak
langsung membandingkan dengan harga makan per bungkus a la anak kosan yang bisa
sampai 4ribu saja*.
Saya
berharap kapan-kapan bisa ke sana lagi. Mm, ketemu adik-adik imut itu lagi. Kapan-kapan
yang belum pasti kapan. Yang pasti, saya dapat pelajaran. Saya kembali
diingatkan, untuk berdoa sebelum makan. Thank you, fellas!
Minggu, 02 November 2014
q & a
q: saya seorang karyawan. pajak atas penghasilan saya tiap bulan dipotong perusahaan. yang laporan juga perusahaan. apakah saya masih punya kewajiban perpajakan?
a: ya. selain kewajiban membayar pajak, seseorang yang bernpwp wajib laporan SPT Tahunan setiap tahunnya :). bisa lapor ke kantor pajak terdaftar atau kantor pajak di seluruh indonesia paling lambat akhir maret tahun berikutnya.
a: ya. selain kewajiban membayar pajak, seseorang yang bernpwp wajib laporan SPT Tahunan setiap tahunnya :). bisa lapor ke kantor pajak terdaftar atau kantor pajak di seluruh indonesia paling lambat akhir maret tahun berikutnya.
terlambat lapor?
seorang ibu maju ke loket tempat pelayanan terpadu. beliau mau lapor pajak, lapor spt masa pph 21. hatinya lega tak terkira. akhirnya dipanggil juga. antrinya udah cukup lama.
meski nihil, aturan mengatakan spt masa pph 21 memang tetap harus dilaporkan. siapa saja yang lapor? pemberi kerja yang antara lain terdiri dari sekolah-sekolah, pemilik CV, bank, perusahaan, hingga perseorangan.
karena hari ini tanggal 19 dan hari Jumat, beliau tancap gas aja ke kantor pajak. besok tanggal 20, hari Sabtu. kantor pajak tutup. padahal tanggal 20 tanggal terakhir laporan. ya sudah. yang penting udah laporan. otomatis nggak terlambat. nggak kena denda.
saat di depan, ekspresi wajah ibu berubah. pasalnya, petugas mengatakan spt ibu itu tidak lengkap. belum distempel (cap sekolah) dan ditanda tangan. demi jarak dekat dan demi ketepatan waktu, ibu tersebut pulang untuk menyetempel spt dan balik lagi dengan tanda terima di tangan.
yang menjadi pertanyaan adalah, kalau batas waktu pelaporan jatuh pada hari libur, laporan pajaknya jadi maju atau mundur?
jawabannya mundur :). jadi wajib pajak bisa memilih untuk laporan pada hari kerja selanjutnya dan nggak akan dianggap terlambat.
misal. 20 november 2014 jatuh pada hari kamis. hari kamis merupakan hari kerja. no penalty.
20 desember 2014 jatuh pada hari sabtu. maka laporan pajak pph 21 diundur sampai hari senin.
si ibu tersenyum. beliau lalu keluar ruangan. di benaknya, ada niat untuk lapor di awal bulan berikutnya saja biar tidak tergesa-gesa.
meski nihil, aturan mengatakan spt masa pph 21 memang tetap harus dilaporkan. siapa saja yang lapor? pemberi kerja yang antara lain terdiri dari sekolah-sekolah, pemilik CV, bank, perusahaan, hingga perseorangan.
karena hari ini tanggal 19 dan hari Jumat, beliau tancap gas aja ke kantor pajak. besok tanggal 20, hari Sabtu. kantor pajak tutup. padahal tanggal 20 tanggal terakhir laporan. ya sudah. yang penting udah laporan. otomatis nggak terlambat. nggak kena denda.
saat di depan, ekspresi wajah ibu berubah. pasalnya, petugas mengatakan spt ibu itu tidak lengkap. belum distempel (cap sekolah) dan ditanda tangan. demi jarak dekat dan demi ketepatan waktu, ibu tersebut pulang untuk menyetempel spt dan balik lagi dengan tanda terima di tangan.
yang menjadi pertanyaan adalah, kalau batas waktu pelaporan jatuh pada hari libur, laporan pajaknya jadi maju atau mundur?
jawabannya mundur :). jadi wajib pajak bisa memilih untuk laporan pada hari kerja selanjutnya dan nggak akan dianggap terlambat.
misal. 20 november 2014 jatuh pada hari kamis. hari kamis merupakan hari kerja. no penalty.
20 desember 2014 jatuh pada hari sabtu. maka laporan pajak pph 21 diundur sampai hari senin.
si ibu tersenyum. beliau lalu keluar ruangan. di benaknya, ada niat untuk lapor di awal bulan berikutnya saja biar tidak tergesa-gesa.
undangan
ada berbagai jenis undangan di dunia ini. undangan rapat, undangan seminar, undangan syukuran dapat kerjaan, undangan syukuran khitanan, sampai.... undangan menghadiri pernikahan.
yang terakhir ini intens saya dapatkan beberapa bulan terakhir. nggak banyak sih, tapi juga nggak bisa dibilang sedikit. yaa, saya memang bukan anak sma lagi. sudah tiga tahun lalu sejak saya diwisuda :p
undangan pernikahan memang bervariasi. dari segi warna, boleh jadi merah marun, biru langit, hijau muda, atau kuning pastel. dari gaya huruf pun banyak. mau times new roman, calibri, dan yang lainnya. tapi, intinya sama. undangan pernikahan tetaplah undangan pernikahan. ada dua insan di sana, yang mengharapkan kehadiran kita, untuk ikut merasakan kebahagiaan, ikut mendoakan.
omong-omong tentang penulisan nama, saya setuju dengan 'tidak memberi gelar pada kedua nama mempelai'. kita tidak sedang melamar pekerjaan. kita melamar anak orang #eh #mulaingelantur.
undangan yang bagus bagi saya adalah undangan yang bisa dibaca, simpel, dan tidak berfoto. mm.. sekarang kan sedang tren memamerkan foto juga tuh --khususnya pra wedding with hugging or something else--. saya mending milih yang pake tulisan aja deh. atau kalau pun mendesak, diakalin fotonya, ga sampai deketan. berpose romantis dengan pasangannya nanti saja setelah nikah. nanti bisa di-share di medsos buat pemantik semangat yang lain. hehe.
undangan softcopy? nggak masalah :) kadangkala undangan ini nggak kalah menarik dan lebih hemat tempat.
undangan. satu kata. banyak kesan bagi yang membacanya. undangan. sekali saja diberi. untuk waktu yang sangat lama.
manakah undangan yang akan anda pilih?
yang terakhir ini intens saya dapatkan beberapa bulan terakhir. nggak banyak sih, tapi juga nggak bisa dibilang sedikit. yaa, saya memang bukan anak sma lagi. sudah tiga tahun lalu sejak saya diwisuda :p
undangan pernikahan memang bervariasi. dari segi warna, boleh jadi merah marun, biru langit, hijau muda, atau kuning pastel. dari gaya huruf pun banyak. mau times new roman, calibri, dan yang lainnya. tapi, intinya sama. undangan pernikahan tetaplah undangan pernikahan. ada dua insan di sana, yang mengharapkan kehadiran kita, untuk ikut merasakan kebahagiaan, ikut mendoakan.
omong-omong tentang penulisan nama, saya setuju dengan 'tidak memberi gelar pada kedua nama mempelai'. kita tidak sedang melamar pekerjaan. kita melamar anak orang #eh #mulaingelantur.
undangan yang bagus bagi saya adalah undangan yang bisa dibaca, simpel, dan tidak berfoto. mm.. sekarang kan sedang tren memamerkan foto juga tuh --khususnya pra wedding with hugging or something else--. saya mending milih yang pake tulisan aja deh. atau kalau pun mendesak, diakalin fotonya, ga sampai deketan. berpose romantis dengan pasangannya nanti saja setelah nikah. nanti bisa di-share di medsos buat pemantik semangat yang lain. hehe.
undangan softcopy? nggak masalah :) kadangkala undangan ini nggak kalah menarik dan lebih hemat tempat.
undangan. satu kata. banyak kesan bagi yang membacanya. undangan. sekali saja diberi. untuk waktu yang sangat lama.
manakah undangan yang akan anda pilih?
Sabtu, 20 September 2014
SMARTFREN ANDROMAX G: SMARPHONE KEREN HARGA SATU JUTA-AN
Jika
kamu punya budget satu jutaan dan pengin punya smartphone baru
yang stylish, keren, gaul, kaya fitur, maka Smartfren
Andromax G lah jawabannya.
“Apa sih Smartfren Andromax G itu? Apa saja fiturnya? Berapa
skor antutunya? Kameranya gimana? Buat ngegame nggak nge-hang kan?”
Eits, tenang, Saudara-Saudara. Dijawab satu-satu
dulu, ya, pertanyaannya.
|
Langganan:
Postingan (Atom)
