Seperti kutu yang bisa loncat, ide kali ini juga loncat-loncat. Loncat ke masa peralihan rok abu-abu sampe masa ngelilingin bangunan hektaran bernama kampus. Tepatnya di Offering E Sasing 2011.
Banyaak banget hal asyiknya. Kalo boleh dideskripsikan siih..
- Bisa ngikut pelajaran filsafatnya Pak Nasrul. Bukan perkara teologinya, melainkan mempelajari hal-hal yang semestinya dipahami lebih baik, tidak sekadar menjalani hidup yang sedang-sedang saja.
contoh : buat ape lu harus masuk kuliah kalau kamu tidak mendapatkan apa-apa? hatimu hampa, neuron otakmu nggak kesambung, yang ada pikiranmu melayang terbang entah kemana.
yang jelas, ketika lu udah belajar dengan rajin dan MENGERTI, tugas kamu sebagai pelajar udah selesai.
(Bukan berarti kuliah itu jelek. Yang perlu diperbarui itu niatnya)
Pak Nasrul ini seakan menyodorkan sebuah minuman lantas ketika minum tiba-tiba tersedak. Ingat akan sesuatu. Kayak gini. Bapak berambut panjang itu nerangin, terus neranginnya gini (haha, sorry for confusing). Memori manusia tidak akan hilang. Yang ada hanya tertutup sementara. Suatu saat, ketika kamu mengakses, dia akan terbuka lagi.
Kenapa sih, manusia cenderung mengingat memori buruk, mengungkitnya lagi dan lagi? Padahal memori yang indah itu nggak kalah banyaknya. Please. Be thankful.
Kalau lagi di Malang, rasanya pengen nyelundup jadi mahasiswa semester I dan ngikut kelas siang hari.
- Ketemu temen-temen yang gokiil
Offering E nampaknya menyimpan energi potensial yang sewaktu-waktu bisa meledak. Warna-warni keseluruhannya. Statis itu ngebosenin.
Bersyukur sekalii tiap hari bisa ngmong bahasa asing yang kita nggak akan diketawain atau dikasih label keminggris oleh mereka. Dosennya baik-baik. Kalau beneran ada yang nggak paham ya diusahain lah sebisa mungkin paham.
Wa.. ketika haus ilmu agama, bisa ke Cita. Ketika pengen katalog film korea yang terjamin mutunya, bisa ke Ima. Ketika butuh temen ngobrol tentang cerpen dan akhirnya ngalor ngidul, bisa ke Piekuk. Dullah buat partner dialog, Faris buat ice breaker, koordinator tugas yang memiliki koneksi langung lebih luas dengan para dosen yakni Dian, yang anggun ada Tiwi, yang minjemin hape ada Yousi, yang suka Dee ada Denis.
Oh, should I retell every inch of you guys?:')
- Di Off E, kita bisa ngintipin anak-anak Pen. Sendratari yang lain asyik nari. Katanya sih, kuliahnya tiap hari ya nari itu.
- Di Off E, kita bisa ngecengin dosen bule bernama Miss Iris.
- Kita juga bisa ketemu ibu dosen yang awet muda dan bisa nyeritain apa aja tentang Australia (otomatis bikin ngiler kita)
- Di Off E, bisa melengin jalan utama kampus dengan para-para yang haus ilmu. Menapaki ubin kaplingan dengan santai. Kurang lebih tiga ratus meter jauhnya.
- Di Off E, kita bisa main kartu pas istirahat, beli cilok di depan Matos, sholat bareng di masjid Ibnu Sina, dan foto-foto narsis.
- Dan di Off E, arena perjodohan a la anak muda juga diaplikasikan di sini :P
- Serta, di Off E, kita bisa melafalkan prononciation a la orang sana :D
*sumber : fb lidya
Yeah. Gud luck guys!
Jumat, 08 Juni 2012
FENOMENA UTS
UTS di kita itu nggak kayak UTS di tempat-tempat lainnya. Soalnya, persentase hasil UTS ini sangat besar, sama persis dengan persentase UAS. Yap. 40%. Dengan kata lain, nggak ada alasan bagi mahasiswanya buat nggak belajar.
Meski demikian, nampaknya metode SKS lebih efektif bagi kami. Karena sebagian besar dari kami merasa kurang efektif dengan metode lama (alias ilmunya lebih nyantol kalo bener-bener kepepet). Game online, dan macam-macam cobaan yang cukup dahsyat menyatroni kita, per detik, per jam, per hari.
Logis sih..
Kalo mau ujian kan yang ada di pikirannya cuma ujian doang. Nggak ada tuh mikirin facebook, mikirin uang jajan, apalagi pa..
Tapi tetep kok : belajar sungguh-sungguh dimana pun dan kapanpun, nggak peduli mau ujian apa nggak, yang penting ngusir ketidaktahuan menjadi pengetahuan lebih BENAR adanya.
Semoga UTS ini lebih baik daripada yang kemarin. Semoga.. uang sakunya cepat turun (loh?:P), dan semoga bisa pulang kampung dengan selamat nantinya.
Karena keluarga adalah muara terakhir, sejauh-jauhnya kamu melangkah, ya kamu pasti akan ke sana juga. It reminds where you come from, then it reminds you to be more thankful.
16 hari menuju UTS. Semoga :)
Senin, 04 Juni 2012
SERBA-SERBI BANDUNG
Bandung itu kota yang kompleks.
Beragam warna. Dari putih sampai biru ada di sini. Apa aja sih? Yuk, baca
postingan berikut.
KERETA API
Iya.
Kereta api merupakan salah satu jantung akses perekonomiannya warga Bandung dan
sekitarnya. Aktivitas per-kereta apiannya hidup banget! Salah satu indikasi
pentingnya kereta adalah dipasangnya papan nama dengan lebih dari empat bahasa.
Penulisannya dari huruf cina sampe huruf latin. Bergerbong-gerbong kereta disediakan
dengan ratusan manusia yang seakan tak pernah habis menaiki kendaraan beroda
baja ini.
Trayeknya lumayan jauh, seperti
Padalarang-Kiara Condong yang tentu melewati Stasiun Bandung. Jaraknya
dimisalkan Singosari-Malang lah. Ongkosnya pun murah meriah. Cuma, sabar aja
kalau lagi naik kereta ekonomi ini, especially buat yang nggak begitu
suka kebisingan dan tempo lama. Bakalan ada banyak penjual sepanjang perjalanan
kereta, dari donat sampai kalender. FYI, kalau dari Cimahi ke Bandung, lebih
baik naik kereta aja (apalagi kalau waktunya menipis di siang hari). Karena eh
karena, macetnya bakalan membunuh waktu secara perlahan. Jangan dibayangin
pokoknya. Palagi kalau trayeknya melewati Pasar Baru pada weekend.
Untungnya,
kalau mau lebih cepet dan nggak ada satu pun penjaja barang konsumsi bisa naik
kereta patas. Nggak kalah sama bus, kan? Lima ribu perak, tapi dijamin bakalan
sebanding dengan kecepatan kereta. Eh, tentu saja, kalo naik kereta yang satu
ini, nggak lewat stasiun kecil layaknya kereta ekonomi, melainkan wuuush.. dari
ujung ke ujung stasiun gede (berangkat dari Stasiun Bandung dan tiba di Stasiun
padalarang).
PASAR
BARU
Pernah
kebayang nggak, pasar modern dengan enam lantai? Ya Pasar Baru ini. Beragam hal
dijual di sini. Dari tas, pakaian, dan aksesoris (Bandung kan juga terkenal
sebagai kota mode kan, bok). Kata dosen Hukum Keuangan Negara, warga asing juga
berbondong-bondong ke sini khususnya Malaysia dan Singapura. Kalau nggak mau
nawar, ada harga terjangkau, tapi di bagian pelataran luar Pasar Baru.
Siap-siap menawar harga mah kalau di Pasar Baru. It’s not just about market,
but modern and more expensive goods.
MOJANG
BANDUNG
Jika orang bilang mojang Bandung itu
geulis-geulis, nggak salah juga siih. Emang bener kok. Soalnya.. pas ada acara
di Jonas, ada puluhan anak SMA, terbukti mereka modis dan attractive. Mungkin
faktor cuacanya dan dataran tinggi yang bikin sejuk juga yang membuat kulit
mereka lebih cerah. So, nggak heran kalau banyak model, artis, aktor dari kota
kembang ini. BTW, aku blum pernah lihat rangkaian bunganya.
KERIPIK PEDAS MAK ICIH
Maicih adalah salah satu jajanan
pedas yang branded di kota ini. Yang katanya pengusahanya bisa
menghasilkan omset milyaran itu loh! Ada juga sih yang lain, kayak Karuhun.
Yang lainnya biasanya tanpa label tapi tetep pedas. Tapi mending yang udah
jelas labelnya aja deh. Kita nggak pernah tahu darimana asal pedasnya keripik
itu kaan?
MAKANAN
Dimanapun,
tentu saja ada makanan. Karena kebutuhan manusia itu makan. Kalau nggak ada makanan..
(oke, stop ceramahnya). Outlet makanan banyak banget di sini. Dari penjaja
makanan dengan motor, gerobak, kedai, warung, sampai restoran. Iyalah. Bandung
gitu loh :p.
Seperti
warganya yang multietnis, beragam makanan ada di sini. Tapi.. tetep aja, adaa
aja Masakan Padang. Waw. Salut juga ya. Emang masakan Padang udah ada
dimana-manaa gitu.
Mau
tahu apa makanan khasnya?
Peuyum.
Yang kalo di ‘Jawa’ namanya “T-A-P-E.”
Ada
juga : BATAGOR, cimol, cireng, dan bolu pisang.
Ngg..
jadi lapeer.
UNIVERSITAS
Uyee..
siapa yang tak kenal Institut Teknologi Bandung (ITB) yang namanya sering
banget disebut-sebut orang media massa, dengan simbol Ganesha (patung gajah)
itu? ITB itu institut ter-beken, dan tentu saja mahasiswa dari seluruh
Indonesia pengen berkumpul di sini. dari Banyuwangi, Pasuruan, Surabaya, Palembang,
Jogja, dsb.. dsb.. Konon, fakultas tekniknya diakui oleh para bangsawan
industri minyak gas dan bumi sehingga, IP di bawah 3,00 pun bisa kerja dengan
mereka.
Btw,
Masjid Salmannya juga asik loh. Biasanya dibuat markas FLP oleh para
anggotanya.
Ada
lagi nih.. Universitas Padjajaran (Unpad), UPI (Universitas Pendidikan
Indonesia), Polban (Politeknik Negeri Bandung), Politeknik Pos (yang Kantor Pos
Pusatnya sumpa, guede banget), UNPAR (Universitas Parahyangan), Maranata, STT
Telkm, dan.. masih banyak lagi.. FYI, UPI tuh deket banget dengan Masjid Daarut
Tauhid, salah satu masjid yang penceramahnya tersohor di negeri ini. Masjidnya
UPI itu gede banget dah, masuk kandidat masjid kampus terbesar di Indonesia.
TENTANG
NAMA
Kalau
di Bandung, biasanya pakai bahasa sunda sebagai bahasa sehari-hari—terlebih
yang informal. Tapi, tentang nama, memang ada yang unik niih..
Kalau
di Jawa Tengah, Jogja, dan Jawa Timur rata-rata pake intonasi O meskipun
hurufnya A, di sini, pake A baik huruf maupun intonasinya..
Contoh
: Monggo (artinya silahkan dalam bahasa Jawa) di sini jadinya Mangga.. (dengan
tambahan tanda petik di akhir kata)
Banyak
kok sebenarnya kosa kata yang mirip, kayak mulih = pulang, dhahar = makan, sare
= tidur. Cuma, dhahar dan sare itu penggunaannya informal banget. Ada yang
lebih halus seperti tuang dan tidur.
Penamaan
orang-orang di sini cenderung berulang, misalkan Jajang Sujajang. Kayak gitu..
pokoknya ber-rima gitu lah XD
PASAR
MINGGU
Seperti
Malang, tiap minggu ada juga pasar minggu, letaknya di Gazeebo (dekat Kantor
Kerja Gubernur Jawa Barat). Ratusan orang bakalan memadati lapangan ini. Mata
bakalan dipuasin dari segala pernak-pernik rumah tangga sampai sepatu buat para
mahasiswa. Harganya .. nggak bikin tercekik laah.
Jadi,
ini adalah salah satu aksen khas Kota Bandung. You can visit here and enjoy new
things around you. Thank you ! J
Jumat, 25 Mei 2012
M T D
Tahu
tidak? Malang, layaknya kota-kota lainnya, mempunyai tradisi sendiri untuk
mengungkap kembali sejarah dalam bentuk festival. Namanya Malang Tempoe Doele,
atau yang dikenal dengan MTD (bacanya Em-Te-De). Ini even tahunan. Seperti namanya,
festival ini dapat diartikan sebuah acara hiburan, bukan pesta, tapi meriah,
karena disuguhi berbagai macam hal. Mulai kesenian sampe jualan (90%). MTD,
secara formatif, tentu bertujuan mulia, menguak sejarah kota Malang sendiri.
Dan, pemkotnya udah sukses menarik banyak pengunjung ke sini.
Apapun
itu, MTD patut diapresiasi. Mm.. soalnya, ribuan anak manusia bakalan berkumpul
di sini. Tua-muda, sekolah-ngampus-udahnggaksekolah, dari tukang parkir ampe
mahasiswa kedokteran. Seru saat berada di keramaian. Bisa dibayangin nggak,
Malang itu udah zona universitas, karena memang banyyak kampus bertaburan.
Tentu saja, konsekuensi logisnya adalah ribuan mahasiswa tumpek-bleg di sini.
Entah dari Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas
Kanjuruhan, atau universitas-universitas lainnya. Naah, MTD itu udah populer
bagi para mahasiswa di kota Malang. Bisa sebagai hiburan di tengah kesibukan
kuliah (FYI, di saat-saat seperti ini mahasiswa cukup diributin persiapan UAS
buat dua minggu ke depan. Ada juga yang udah libur), bisa juga silaturrahmi
bareng keluarga, nyari makanan, iseng-iseng, naluri pembolang, de el el.
Jalan
Ijen, jalan protokol sepanjang seratus meter (LEBIH) di kota Malang ini ditutup
sebagai tempat festival selama tiga hari. Dua ruas jalan dipenuhi oleh satu benteng
gede di dekat monumen bunga, warung makan, kios-kios, pernak-pernik sejarah,
dan kerumunan manusia.
Kalo
bosen jalan, ngirit, nggak pengen jajan atau belanja, bisa juga main-main ke
Museum Brawijaya atau Perpustakaan Umum Kota Malangnya. Perpusnya oke looh, oke
gila. One of the most recommended Perpus. Klo non warga Malang Raya (Batu-Kab.
Malang-Kota Malang), biaya administrasinya seratus ribu buat minjem buku dan
bakalan dikembalikan klo lulus. Adem, ber-AC. Ribuan buku! Loh ya, cerita perpustakaan
jadinya.
Banyak
sekali hal yang bisa ditemukan di Malang Tempoe Doele. Yang paling favorit,
tentu saja makanan. Yeah, makanan. Mulai dari kerak telor, cilok, jagung bakar,
gula-gula, gulali, gudeg, and others. Namanya juga Festival, tentu nggak lengkap
klo nggak ada makanannya. Asupan gizinya ngimpor juga dari kota lain, hehe. Ada
juga orang-orang yang jualan lukisan, jualan tas-tas batik, jualan baju,
melayani jasa naik dokar, de es be. Beberapa institusi juga show off di sini
loh : BRI, hotel, restoran (klo penulis nggak lupa) untuk keeksikan mereka
tentu saja. Monggo, silahkan dipilih apa yang dimau J. Hati-hati dengan barang bawaan : hape, uang,
dll. Bagi pengidap photoholic bisa tebar blitz kamera di sini. Kalo nyari
masjid harus masuk ke Museum Brawijaya
dulu atau ke sekitaran Jalan Kahuripan aja buat sholat..
MTD
mengular nggak hanya di Jalan Ijen, tapi sampai masuk ke pelataran Museum
Brawijaya. Klo ada acara gede gini yang tak boleh dilewatkan adalah… jasa
parkir ! Dua ratus motor nggak ada tempat parkirnya nggak lucu, donks.
Tenang
aja.. ada juga kok hal-hal yang benar-benar mengingatkan kita pada Malang yang
jadul. Yakni, foto. Iya, foto. Sebagai contoh, ada foto perempatan jalan yang
menembus RS. Saiful Anwar- Alun-alun (samping Jalan Kahuripan) yang dulunya
masih sederhana dan sepi banget sekarang udah modern dengan Bank BCA dan
beberapa rumah makan di sana.
Kostum
ke MTD sih bebas, nggak ada yang nyuruh pake ini-itu apalagi kembenan. Cuma, rata-rata pada suka pake
batik kalau ke MTD. Dulu sih, makenya jeans plus baju lengen panjang aja..
wkwkw.
Hmm,
festival ini berlangsung pada 24-26 Mei sodara-sodara. Jadi, bagi siapapun yang
ingin datang, monggo.. jangan sia-siakan kesempatan studi di Malang dengan
nggak mengitari tempat perantauanmu.. yang pengen datang tapi nggak bisa, sabar
ya Kaka.. :D
Selasa, 20 Maret 2012
CAKAP-CAKAP
H: Misalnya nih. Ada tangga dari nomor satu sampe sepuluh. Semakin tinggi nomor tangganya, semakin bahagialah kamu di sana. Gimana perasaan kamu, kalau kamu awalnya di tangga nomor dua, terus kamu bisa melonjak ke tangga nomor sepuluh. Tiba-tiba kamu harus turun ke tangga nomor delapan?
Q: Biasa ajah.. (ya iyalah. Dari nomor 2 ke 10 kan untung banget. Perkara turun dua tangga ya nggak masalah)
H: Yho wes koyok ngunu iku kita saiki..
(percakapan bersama seorang teman, siang hari)
Minggu, 19 Februari 2012
PELANGI FLP DI JAGAT PERBUKUAN INDONESIA
Ups.
Kenapa harus FLP?
Oke-oke,
sebelumnya perkenankan saya menyajikan pengantar.^^
Kebutuhan
hidup ini bermacam-macam. Dari makan, minum, sampai membaca. Kok membaca? Iya.
Bayangin aja. Sudah lama banget kita sekolah, duduk di atas papan kayu bernama
bangku dan mendekap buku-buku pelajaran dengan berbagai macam judul. Setiap
hari. Kalau tidak matematika, ya bahasa Indonesia. Ada saatnya IPA, ada saatnya
juga IPS. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang kita tempuh semakin bergantunglah
pada aktivitas membaca. Rasanya tiada hari tanpa hadirnya buku.
Bagi
ummat muslim pun, membaca telah menjadi suatu seruan,
“Iqro’.” Bacalah!
Banyak
sekali hal yang dapat diperoleh dari membaca. Contoh kecilnya tidak mudah
tertipu. Dengan baca tarif naik angkutan di brosur dekat pintu angkutan,
bayarnya bisa pas, tanpa rekayasa. Manfaat lain adalah menambah wawasan. Yes,
we all have known. Kesimpulan bahwa bumi terdiri dari lautan dan daratan
didapat dari membaca atlas. Kemerdekaan Indonesia dapat diketahui dari membaca
buku sejarah. Dan bagaimana proses fotosintesis dijelaskan secara gamblang pada
buku-buku IPA.
Kebanyakan
buku-buku yang kita punya adalah bersifat wajib, karena tuntutan pendidikan.
Tentu tidak ada salahnya untuk dibaca, bahkan sangat bermanfaat bagi jenjang
kehidupan ke depan. Farthemore, selain menambah wawasan, membaca juga bisa
menghilangkan penat, kesal, galau, dan sebangsanya.
Iya,
selain menambah wawasan, dengan membaca kita juga bisa terhibur. Saat weekend
tiba, di titik jenuh menghadapi tugas-tugas sekolah atau kerja, otak kita bisa
rileks dengan bacaan-bacaan yang menghibur. Karena tidak hanya berpikir secara
otak kiri, tapi juga otak kanan, dimana efek perasa yang dominan. Istilahnya,
emosi bisa stabil.
Bacaan-bacaan
yang ditulis oleh para anggota FLP (Forum Lingkar Pena) hadir untuk menyegarkan
dahaga pembacanya. FLP itu asli produk Indonesia, dan pengaruhnya sangat besar.
Semangat FLP di Indonesia menulari orang-orang yang berada di luar negeri untuk
menjalin komunitas yang sama. FLP tak hanya menghibur, tak jarang kita dapat
wawasan daripadanya. Jika membahas fiksi FLP, paket komplit wawasan dan hiburan
bisa didapat.
FLP
membantu menyajikan bacaan berkualitas tapi tetap menghibur. Ini sejalan dengan
misi FLP untuk meningkatkan mutu dan produktivitas (tulisan) para anggotanya
sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat. FLP juga bermisi turut meningkatkan
budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia.
Dan,
saya rasa, misi FLP tersebut berhasil dijalankan.
Waktu
itu, saya masih kelas dua SMP. Salah satu magnet terbesar saya adalah sebuah
perpustakaan yang ada di pusat kecamatan. Bangunannya bagus, bersih, nyaman.
Dan buku-bukunya itu looh..
Magnet
itu punya daya tarik. Dan daya tariknya adalah buku-buku yang terpampang di
sana. Saya bergerak ke tempat bacaan dewasa. Ada banyak sekali buku yang
bercover menarik. Ukurannya tidak terlalu besar, tidak juga terlalu tebal. Ada
tulisan FLP di belakangnya. Saya baca perlahan. Dan, menarik!
Ada
kumcer berjudul Mencari Jalan ke Hati Bunda di sana. Pengarangnya Fithri. Dan
beliau adalah anggota FLP. Ceritanya tentang seorang anak yang berusaha sekuat
tenaga agar sang ibu tidak ngambek. Entah karena apa, sang ibu tidak mau
bicara. Ia hanya bicara lewat tuts-tuts keyboard dan penyebabnya ternyata
karena si anak kurang perhatian pada ibunya.
Ada
juga kumcer berjudul Loving U. Dengan gaya ngocol a la anak muda, Adzimattinur
Siregar muda telah sukses membuat saya jatuh cinta pada karyanya. Saya ingat
settingnya, Bandung Indah Plaza. Tempat jauh yang empat tahun kemudian saya
kunjungi. Zhizi juga mampu mendeskripsikan jatuh cinta dengan cara yang apik.
Dan..
tara!! Ada buku non fiksi yang juga tak kalah menghebohkan. Jatuh Bangun
Cintaku. Dibukukan oleh Asma Nadia. Tentang kisah para penulis yang merasakan
cinta. Manis-asem-pahit. Saya membacanya berkali-kali dan tidak bosan =D. Ada
banyak hikmah yang bisa diambil dari sana.
Masih
ada lagi. Angin Padang Iroquis, Diorama Dua Hati, serial Syakila, Gosip! Gosip!
Gosip!. Ada juga Muara Kasih-nya Muthmainnah yang bikin feel lain saat
settingnya di Australia dan Indonesia. Ah, rasanya terlalu banyak jika
disebutkan satu-satu. Yang jelas, karya-karya para penulis FLP membantu
membiaskan pelangi sukacita saya saat masih begitu muda (sekarang masih muda
loh, hehe). Kebutuhan membaca terpenuhi. Makasih ya, FLP ^^
KARENA MEMBACA SAJA TIDAK CUKUP..
Dalam
dunia perbukuan, tidak mungkin hanya ada pembaca. Dibutuhkan penulis sebagai
pemroduksinya. FLP memiliki peran membidani para penulis dalam menghasilkan
karya-karya mereka. Ada diskusi, workshop, ikutan Islamic Book Fair.. Yang saya
amati, FLP itu organisasi yang rata-rata anggotanya berkerudung lebar. Meski
demikian, FLP itu bukan komunitas berisi kalangan mayoritas kok. All can do it.
Semua bisa jadi anggota. Tak hanya muslim, melainkan juga non muslim.
Menulis.
Banyak orang membincang tentangnya. Banyak motivasi juga di dalamnya. Tentu FLP
membantu mewujudkannya. FLP tidak hanya stuck
pada satu genre saja. Buktinya sekarang ada bang Benny Arnas dengan sastra
melayunya. Selain itu, sudah banyak penulis FLP yang memenangkan lomba karya
ilmiah. FLP merambah berbagai media, segala segmen J
KESAN DAN PESAN
Sebagai
seseorang yang pernah baca karya FLP, saya berharap FLP bisa menjaga
eksistensinya. Tetaplah membingkai kami, pembaca di Indonesia dengan spektrum
semangatmu yang indah yang terjalin lewat tulisan. Tentu remaja Indonesia (dan
semua kalangan) menginginkan bacaan yang menjernihkan hati dan menambah
wawasan. Di usia FLP yang ke-15, saya berharap FLP tidak tergerus jaman, malah
ada dalam garda terdepan. Seperti Mbak Asma Nadia yang cemerlang. Mbak Afifah
Afra yang semangatnya selalu berkibar, dan Bunda Helvy Tiana Rosa yang perkasa
dengan karya-karyanya.
Rabu, 15 Februari 2012
KAMIS MANIS
itu
doaku untuk hari ini.
hey, kita bertemu saat makul Pengantar Ilmu Hukum. Lagi.
dan, yang menjadi sesuatu banget kali ini adalah dosen kami yg tiba-tiba
bercerita tentang kisah tragis seorang yang lupa akan ibunya.
maling kundang modern. era abad 21.
dimana diraihnya gelar gemilang di luar negeri, punya anak punya istri, dan.. tsah!
lupa akan ibunya.
dan kematian yang membuatnya tahu bahwa ibunya sangat menyayanginya,
dari mata yang kini membantunya melihat, itu dari ibunya.
aargh. galau.
apalagi dengan celetukan dosen yang ngikutin gaya kita, "ma, pulsa dooong.." (bukan sms penipuan) saat
kita nelpon mereka.
terus mamanya jawab, "ah, pasti klo nelpon pulsa lagi deh."
buat siapa lagi kalo bukan buat doi
bayangin kalo pas kamu lihat ibu kamu terlelap terus ternyata ibu kamu gak bangun lagi.
ya Allah :'(
kayak perkataan bapak guru pas di mts dulu.
lindungi kedua penjaga kami, Tuhan..
hey, kita bertemu saat makul Pengantar Ilmu Hukum. Lagi.
dan, yang menjadi sesuatu banget kali ini adalah dosen kami yg tiba-tiba
bercerita tentang kisah tragis seorang yang lupa akan ibunya.
maling kundang modern. era abad 21.
dimana diraihnya gelar gemilang di luar negeri, punya anak punya istri, dan.. tsah!
lupa akan ibunya.
dan kematian yang membuatnya tahu bahwa ibunya sangat menyayanginya,
dari mata yang kini membantunya melihat, itu dari ibunya.
aargh. galau.
apalagi dengan celetukan dosen yang ngikutin gaya kita, "ma, pulsa dooong.." (bukan sms penipuan) saat
kita nelpon mereka.
terus mamanya jawab, "ah, pasti klo nelpon pulsa lagi deh."
buat siapa lagi kalo bukan buat doi
bayangin kalo pas kamu lihat ibu kamu terlelap terus ternyata ibu kamu gak bangun lagi.
ya Allah :'(
kayak perkataan bapak guru pas di mts dulu.
lindungi kedua penjaga kami, Tuhan..
Selasa, 14 Februari 2012
Detik-detik Menjelang UTS
Kota
sem-lo-hai, pagi yang sejuk, masih dinaungi kesehatan buat kuliah.
Alhamdulillah..
Kamis,
2 Februari 2012
Sejujurnya,
ini adalah hari kedua terakhir kami di minggu ke-delapan perkuliahan. Dimana
setelahnya akan ada UTS yang 40%nya dibuat perhitungan buat nilai akhir. Wih,
gak keroso, yoh? Dimana lagi kalau bukan di kampus tercinta, STAY!
Menjalani
rutinitas seperti biasa; sarapan dengan nasi-sambelgoreng-telur-mie atau tidak
sarapan sama sekali :D
Dan
membudayakan telat, tentu saja (harus dihilangkan -_-), dimana pada kamis pagi
kami mengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum jam setengah tujuh pagi. Wrarr!
Tahukah
kalian,
Sedikit
berubah sekarang pandanganku mengenai subjek makul tersebut. Kukira, ilmu hukum
melulu mempelajari bagaimana memenangkan kasus. Bagaimana cara pengacara bo’ong
dan sebagainya. Rada males juga karena hukum banyak dibuat-buat, diselewengkan,
dan dilanggar. Yes, everybody knew.
Mempelajari
hukum, seenggaknya saya tahu apa sih esensinya hukum itu? Oh, ternyata buat
nyari keadilan. Terus gimana pembagiannya. Minimal manfaat real hukum adl gak
gampang dikadalin orang. Bagaimana jika besok ada perjanjian bisnis terus harus
ada saksinya. Bagaimana nasib yang ngelakuin perjanjian tapi di bawah umur, and
so on.
Dosen
kami ini terbilang masih muda, dengan track record akademik yang yahud. Beristri
satu dan jumlah anak belum diketahui. Pokoknya, kalo sama dosen ini mah,
InshaAllah gak bakal ngantuk.
Dan
jeng, jeng, setelah beberapa saat mengetahui bahwa kuis statistika ditiadakan
(sujud.syukur), masih terbekas juga kata-kata dosen KU kami sebelumnya. Apa itu
KU? Yang jelas bukan KU-A atau KU-B atau KU-C. Guess what. Kami mempelajari
gimana sih cara membayar pajak itu, apa’an tuh SSP, apaan tuh SPT, sampai ice
breaking keren nan mencengangkan. *rada heboh
Tidak
seperti hari biasanya dimana kami bertatap muka, percakapan antara dosen di
depan dan murid di belakang, hari ini kami presentasi. Yups, tentang apa aja
sih kaitannya pajak dengan patriotisme (ternyata seyogyanya pembayar pajak
harus bayar dengan perasaan rela berkorban, men), apa kaitannya pajak dengan
syari’ah, dan apa aja kendalanya.
Satu
jam buat mikir akhirnya diselingi dengan satu jam berbincang-bincang bahasa
campuran. Campur sari.
“Oke,
coba kamu ngomong loro,” seru temanku, yang dalam bahasa jawa artinya dua. Cara baca huruf O kayak orang
ngomong “melongo.”
“Oke,
sekarang loro,” kali ini nada O diucapkan seperti ucapan kata “dosa.”
Temanku
tergelak saat aku tidak bisa mengatakan Ciateul, Leuwipanjang, Pasteur, de es
be. You knowlah kalau perkara suara
dalam dengan nada eu a la sundanese
itu kami gak expert. Heheh.
Presentasi
disajikan. Didi, teman baik satu domain, mengajak dengan lantang, “Jadilah
generasi muda yang mampu membuat citra pajak lebih bagus.”
Sederetan
teman, dimulai dari Dede, yang namanya mirip artis juga mulai presentasi, lalu
temanku Mami yang tiba-tiba beken *karena acara lipsing cherrybelle dan ia
keren banget, dan akhirnya Bapak Jamrud anggota kelompokku.
“Buat
apa kalo punya uang banyak tapi korupsi. Memangnya dibawa matiii??”
diulang-ulang kalo gak salah sampe 5kali =.=”
Great
applause from our listeners. Karena emang kenyataannya harus begitu, bukan?:)
And
well, that’s enough for today.
“Pak, gimana nih soal utsnya? Sulit gak?”
“Gak..
tenang aja… paling cuman SPT, SSP, hah, gitu kalian juga bisa…”
“Klo
gitu A ya pak!”
“Ya
lihat dulu, dong. Kalo kalian emang cakap ya dapat A. buat apa dapet nilai A
tapi besok di lapangan jawabnya salah mulu. Yang penting tuh PEMAHAMAN kalian.”
Mak-jleb-jleb.
Rantai
neuron otakku mulai nyambung. Ooh, gelisah ini bukan karena takut gak dapet A
atau A- aja, tapi gelisah ini karena belum belajar dengan optimal.
Seperti
kata karibku,
“Aku
tuh menilai oke gak perjalanan kuliah dengan kapasitas segimana banyak apa yang
telah aku peroleh, bukan segimana lux nilai scoreku.”
Nanenanena,
Terkadang
waktu memang berputar cepat, seperti roda, kau tidak akan menyadarinya karena
kau terlalu asyik menjalankan apa yang kau lakukan. Bisa juga sedikit melambat
karena ada perih. Ya, apapun itu, waktu itu relatif.
Ready,
Steady, and Go for Exam!
Semoga
UTSnya lancar, ganbatte :D!
Wanna
share yours?
Langganan:
Postingan (Atom)

