Kamis, 14 Juni 2012

KISAH SI ITIK BURUK RUPA

Aku mengenalmu lewat kata-kata, lewat gurat wajah, lewat angin
Aku menyentuhmu dengan pena, dengan rindu, dengan air mata
Ingin aku menemuimu dalam asa yang tiada batasnya
            Ini kali ketiga aku menemukan kertas bertuliskan puisi tak bertuan. Isi dan tulisannya sama persis dengan dua kertas yang kutemukan sebelumnya. Tiga hari lalu kutemukan di kolong meja dan kemarin lusa di ruang baca favoritku di perpustakaan. Aku masih yakin ini hanyalah kebetulan. Meskipun Lena, teman sebangkuku, selalu bilang bahwa ada seseorang yang merindukanku.
            Kubuang kertas ini ke tempat sampah. Aku sudah lapar, ingin cepat-cepat pulang.
            Renny, temanku yang seorang model sebuah majalah terkenal, berjalan cepat melewati gerbang. Langkahnya menarik perhatian banyak orang. Dia tersenyum sekilas padaku. Aku tahu, aku takkan pernah bisa menyamai langkahnya itu. Seorang itik buruk rupa sepertiku, yang berkulit legam, yang tak berhidung mancung, yang wajahnya biasa-biasa saja, takkan mampu menarik perhatian banyak orang.
            Kulanjutkan langkah. Kucegat angkutan hijau yang akan melintas di hadapanku.
            *
            Aku bersyukur tinggal bersama Nenek Upa yang sangat menyayangiku. Aku juga tak menyalahkan takdir karena sejak kecil, orang tuaku telah tiada. Toh aku masih bisa berkunjung ke makam mereka. Nenek Upalah yang menyemangati hari-hariku, yang menguatkanku agar menjadi yang terbaik. Hasilnya, aku selalu mendapat ranking tiga besar di kelas.
Angkutan tua ini berjalan lurus melewati jalan protokol. Semakin lama semakin menjauh dari pusat kota. Seorang anak kecil berseragam SD yang duduk tak jauh dariku terkantuk-kantuk. Kepalanya sesekali mengangguk. Ranselnya yang berat itu didekap. Lalu dia bertanya, “Kakak, persimapangan Jalan Juanda masih jauh ya?”
Aku menggeleng. “Tinggal lima menit lagi. Adik turun di situ?”
Dia mengangguk sambil mengusap wajahnya. “Belum pernah naik angkutan sendiri. Biasanya dijemput Ayah.”
Angin semilir membelai wajahku. Aku duduk di kursi paling ujung, dekat kaca belakang. Angkutan melewati jalanan lengang penuh pertokoan tak terpakai di sebelah kiri dan kanan. Sebentar lagi adik kecil ini akan turun. Lalu aku juga akan turun. Perutku sudah berbunyi beberapa kali. Keinginanku untuk cepat-cepat sampai terganti oleh firasat buruk ketika seorang lelaki berewokan naik ke angkutan ini.
Sedari tadi, angkutan hanya diisi oleh supir, aku, dan anak SD. Entah mengapa, lelaki yang duduk di sampingku menatap tasku berkali-kali. Aku jadi curiga. Apalagi dia sepertinya tak berniat bepergian. Dia hanya membawa badan. Kedua tangannya dimasukkan pada saku jaket kulitnya yang tebal. Aku mendekat pada anak kecil SD tadi. Oh, namanya Tiara. Nama itu tertera pada seragam putihnya. Kini posisiku di dekat pintu. Jalanan masih lengang. Waktu berjalan sangat lambat.
Lelaki berewokan itu ikut pindah ke dekat pintu. Dia memilih duduk di sampingku. Aku diapit oleh dua orang sekarang. Aku bergidik ngeri ketika membayangkan berita-berita di televisi. Kupikirkan berbagai cara menghadapi kemungkinan terburuk saat ini.
“Serahkan dompetmu, atau perutmu akan tertusuk pisau tajam ini!” Seketika aku terkejut mendengar perkataan lelaki di sampingku itu. Perampokan! Tangannya menggenggam benda mengkilat berujung runcing. Benar-benar pisau. “Jangan coba-coba berteriak kalau tak ingin nyawamu berakhir naas di sini.”
“Pelankan kemudimu!” Supir di depanku ketakutan. Dia juga terancam. Dia tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti perintah lelaki itu. Aku beristighfar. Di saat yang genting ini, aku harus bertindak cepat dan tepat. Kalau tidak, bukan hanya aku saja yang tak selamat. Tiara bisa jadi korbannya.
“Cepat! Kau mau memberontak, hah?!” ujung pisau itu kian mendekat ke pinggangku, hanya berbatas kain seragam sekarang. Orang ini tidak main-main. Tiara ketakutan. Dia terisak dalam diam. Cepat-cepat kuberikan dompet warna merah jambuku. Pandangan lelaki itu kemudian tertuju pada anak kecil ini.
“Jangan coba-coba menyakitinya. Dia adikku!” ucapku tegas. Kurengkuh anak kecil tadi yang semakin menderas air matanya. Dia mengerti, di saat seperti ini, dia harus berbohong.
Tuhan Maha Besar. Satu gebrakan keras terdengar dari arah belakang. Sebuah motor polisi tiba-tiba menabrak sisi belakang angkutan. Lelaki itu ketakutan. Dia melompat keluar dan berlari cepat memasuki sebuah perkampungan.
Angkutan terhenti. Seorang polisi turun dari motornya, meminta maaf pada supir angkutan. Bapak supir malah mengucapkan terima kasih dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Polisi itu geram dan ingin mengejar. Namun kutolak, “Tidak usah, Pak. Saya hapal bagaimana wajah orang itu. Yang terpenting sekarang adalah adik kecil ini. Dia sangat ketakutan.”
Tiara hanya mau pulang bersama polisi itu jika kutemani. Aku setuju. Kuantarkan dia sampai ujung gang rumahnya. Selanjutnya, biarlah polisi itu yang menemui orang tuanya. Sebelum berpisah, Tiara memberikanku sebuah sapu tangan yang digunakannya untuk mengusap wajahnya tadi. “Terima kasih,” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Aku mengangguk. Kuminta dia melupakan kejadian tadi.
Aku pulang naik ojek. Nenek Upa menyambutku seperti biasa, cerah dan bahagia.  Aku tak memberi tahu apa yang baru terjadi karena beliau pasti akan sangat khawatir. Yang terpenting aku selamat. Akan kuurus kartu-kartuku di kemudian hari.
Kupejamkan mata. Aku bermimpi Tiara tersenyum dengan binar matanya yang indah.
***
            “Cha, kamu dapat puisi lagi tidak hari ini? Wah, aku sudah tak sabar..” seru Lena sehabis dari kantin Bu Iyah.
            “Belum. Ah, semoga saja benar-benar tidak dapat. Penulisnya pasti sudah menemukan alamat yang asli, bukan ditujukan kepadaku, si itik buruk rupa.” Pikiranku masih terbayang-bayang peristiwa kemarin. Sekali lagi, aku bersyukur telah selamat. Tak ada luka sesayat pun yang tergores dari tubuhku, juga gadis mungil bernama Tiara itu. Bagaimana kabarnya sekarang? semoga dia baik-baik saja.
            “Aduh, sudah kali berapa kubilang, puisi itu benar-benar untuk kamu! Kamu itu peri angsa, kamu cantik. Kamu bukan itik buruk rupa. Percayalah itu.” Lena bersungut-sungut.
Hening. Lena menunggu responku. “Ngomong-ngomong, ada anak dari Geng Sablon yang mengancammu? Bilang aku saja. Akan kulaporkan pada guru BK.”
            Aku menggeleng pelan. “Tak satupun anggota Geng Sablon yang mengancamku.” Pekan lalu, kulaporkan rencana pembalasan tawuran terhadap sekolah sebelah oleh Geng Sablon pada guru BK. Mereka akan melakukan aksi yang cukup brutal. Teman-teman sudah tahu, tapi diam karena diancam. Aku tak hanya menjadi itik yang jelek, tetapi juga nekat. Syukurlah rencana itu tak pernah terjadi. Apakah Geng Sablon tahu bahwa akulah pelapor itu, aku tak peduli. Aku akan baik-baik saja.
            Lena mengajakku kembali ke kelas. Baru saja duduk santai di atas bangku, Lena sudah terpekik histeris. “Waah, akhirnya puisi cinta itu datang!”
            Lena menjulurkan tangannya pada kolong bangukuku, mengambil sebuah gumpalan kertas. Dibukanya benda itu cepat-cepat, lalu membaca tulisan yang tergores di dalamnya. “Cha, jika cinta ingin bermuara, kita bisa bertemu di kelas ini sepulang sekolah. Dari pengagum rahasia.”
Aku kehabisan kata-kata.
“Dia menyebut namamu, Cha! Benar kan apa kataku. Kamu bukan itik buruk rupa. Kamu itu puteri angsa, Cha. Maukah kubantu mempersiapkan penampilanmu bertemu pengagum rahasia nanti sore? Kira-kira, siapa ya pangeranmu? Pastilah dia lelaki yang tampan nan bersahaja.”
“Ti..dak mungkin..” Tidak mungkin kumiliki seorang pegangum rahasia.
            Lena membujukku dan memberikan segala argumentasinya, bahwa aku benar-benar pantas memiliki pengagum rahasia. Tak akan acara sekadar menggodaku apalagi pembalasan Geng Sablon. Aku tercenung, terpengaruh. Aku memang punya hak untuk dicintai. Aku mulai iri dengan teman-teman lain yang sudah punya kekasih. Aku setuju untuk menemui pemilik puisi itu nanti sore. Sendirian, empat mata. Jantungku berdebar-debar. Perasaanku berkecamuk tak karuan. Aku ingin pelajaran segera berakhir.
            ***
Pelan kutapaki tangga menuju kelas. Kelasku berada di lantai dua sehingga terkadang aku merasa nyeri ketika harus naik-turun setiap hari. Anehnya, aku tak merasakan sakit apa-apa saat ini. Kuatur napas. Untuk menemui seorang pegagum rahasia saja begini mendebarkannya.
Aku berdoa semoga tidak pingsan atau mati kutu dalam bicara. Ya, baru kali ini ada lelaki yang mau mengajakku bertemu! Pastilah dia mengajakku berbicara. Kuberikan senyum terbaikku saat bertatapan dengannya. Lelaki ini.. menawan! Terlalu menawan untuk itik buruk rupa sepertiku. Aku tidak pernah mengenal dia sebelumnya.
Dia.. meskipun pada awalnya kikuk juga, dia ikut tersenyum. Kalimat pertamanya membuatku meleleh. “Ocha, ya? Aku yang mengirimkan puisi-puisi itu..”
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Melihat malaikat seperti dia, kugenggam tali ranselku erat-erat. Bibirku terkunci rapat.
“Aku Rey, kelas 9E. Kita memang belum pernah bertemu. Tetapi aku selalu mengamatimu dari jauh.” Duhai, apa yang dikatakannya barusan? Mengamatiku dari jauh?
“Cha, kamu harus bersikap santai. Kalau tidak, nanti kamu benar-benar terlihat seperti orang yang tak pernah ditemui lelaki..” Kuingat perkataan Lena. “Apa kabar?” kupaksakan kata sapaan itu muncul.
“Luar biasa,” jawabnya. Aku tertawa kecil. Gayanya seperti orang yang sedang ikut seminar. Dia benar-benar mampu membuat suasana lebih santai. “Mau ini?” pintanya sembari memberi sebuah kudapan padaku.
Lagi-lagi aku tersenyum. Sial. Aku tak dapat menutup kenyataan bahwa aku terpesona akan keindahannya. “Pastel itu dibuatkan adikku. Dia sangat jago memasak meskipun masih kecil.”
Untuk menjaga keanggunan sebagai itik yang akan berenkarnasi menjadi puteri angsa, kukunyah pastel itu pelan-pelan. Rasanya memang enak.
“Kamu cantik apa adanya. Kamu tahu, kamu berhasil membuat Geng Sablon mati kutu di hadapan guru BK dan wakil kepala sekolah.” Aku tersipu, bagaimana dia bisa tahu? Pelan tapi pasti, pastel itu kutelan. Tapi, ada apa ini? Mula-mula wajahku terasa gatal, lalu tanganku juga gatal.
“Kenapa?” katamu bernada khawatir.
Sungguh terlalu! Aku lupa kalau aku alergi telur. Pastel ini pastilah ada telurnya. Sebentar lagi aku benar-benar menjadi itik buruk rupa. Ruangan kelas yang penuh debu membuatku terbatuk-batuk dan bersin-bersin. Oh, tolonglah. Jangan alergi sekompleks ini sekarang.
Rey menatapku, menahan tawa. Dia mencari sesuatu di sakunya. “Tak usah repot-repot.” Kurogoh-rogoh isi tasku. Sapu tangan.. aku butuh sapu tangan. Syukurlah aku masih menyimpan pemberian Tiara kemarin sore. Kututupi sebagian mukaku dengan sapu tangan. Aku tak boleh membuat lawan bicaraku terdiam seperti patung. Jadi, perbincangan harus tetap diteruskan. “Maaf ya, Rey. Kamu ikut panik.”
Rey masih menatapku. Kali ini benar-benar terdiam. Dia memandangiku seperti aku ini sebuah lukisan mewah. “Kenapa? Aku jelek ya? kamu harusnya sadar, aku hanya seekor itik buruk rupa..”Oh, matilah aku. Aku sudah merusak reputasiku sendiri.
Dengan cepat dia keluar kelas, membuang sebuah kresek hitam ke tengah taman sekolah. “Jangan! kamu bisa kena sanksi karena membuang sampah sembarangan,” aku berteriak, dia tak peduli. Rey tersenyum, lalu mengatakan kalimat yang tak terduga sebelumnya. “Aku harus pergi. Maaf.”
Aku harus pergi. Maaf. Itukah kata-kata terakhir dari seorang pengagum rahasia? Pertemuan yang mengagumkan. Aku terduduk lemas. Rasanya? tidak dapat dideskripsikan. Aku harus menyadari sebelumnya bahwa aku ini hanyalah itik buruk rupa. Jatuh cinta saja tak pantas, apalagi sakit hati.
Lena tergopoh-gopoh masuk kelas. Dia sudah melihat apa yang terjadi dari kejauhan. Lena menguat-nguatkanku agar tetap sabar. Ia merasa bersalah.“Tenang, Cha. Siapa sih, Rey itu? Kamu itu puteri angsa. Kamu akan mendapat yang lebih baik daripada orang-orangan sawah itu!”
Lena menungguiku, mengantarkanku ke toilet, dan menraktirku makan siang. Kubilang aku baik-baik saja, meskipun sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Saat tiba di rumah, kutolak permintaan Nenek Upa untuk makan bersama. Itik ya tetap itik. Tak akan jadi puteri angsa walau diapa-apakan.
Malam ini bulan bersinar cerah, tak seperti aku. Kupandangi kawan-kawannya, gemintang yang juga tak kalah cemerlang. Pertama kali disukai seseorang, lalu bertindak memalukan di depan orang itu? Oh, andai aku bisa operasi plastik. Rey pasti pergi begitu saja ketika benar-benar menyadari aku ini jelek. Jauh dari sempurna.
Aku tak dapat membayangkan bagaimana reaksiku jika bertemu dengannya. Nyaris aku beranjak ke tempat tidur kalau tak kulihat sebuah benda yang terlempar ke kamarku. Hooh, siapa? Tak ada siapa-siapa di luar. Sebuah gumpalan kertas lagi! Kakiku kembali ngilu. Mungkinkah Rey menuliskan sebuah surat penolakan untukku? Tak mungkin, tetapi benar! Guratan tulisan pada kertas itu..dia yang menulis.
“Kurasa kamu tidak dapat menerka apa yang kumau. Mengapa aku menulis puisi-puisi itu padamu, mengajakmu bertemu, lalu berlalu begitu saja. Kamu tahu Geng Sablon? Tidak banyak yang tahu bahwa akulah kepala geng itu..”
Cerita macam ini? Rey kepala geng itu? Pastilah dia ingin membuatku merana, dan dia berhasil.
“Awalnya aku ingin membalas hukuman skors semingguku dengan membuatmu gatal-gatal sepanjang hari dan pingsan karena setengah lusin cicak yang kubawa. Ya, surat cinta itu hanyalah rekaan, benar-benar fiktif. Tapi, setelah melihat sapu tangan yang kau kenakan, kau menjadi malaikatku. Aku jadi teringat adikku yang kusayangi melebihi diriku sendiri.”
Adik? Sapu tangan? Tunggu-tunggu. Tiarakah maksudnya?
“Kautahu? Tiara begitu takjub ketika bercerita tentangmu, seperti menceritakan seorang Wonderwoman. Kaubalut ketakutannya dengan pelukanmu. Sungguh, sudah lama dia tak mendapat kasih sayang seorang ibu. Ayahku yang buruklah yang menceraikan wanita sebaik dia. Terima kasih telah menolong Tiara. Maafkan aku, Cha. Aku janji, Geng Sablon tak akan berulah lagi.”
Seketika itu juga aku bersimpuh. Frame demi frame tentang Tiara tersibak dalam pikiranku. Lalu tentang Geng Sablon. Tuhan, begitu manisnya Engkau menolongku. Aku tak peduli jika aku menjadi itik buruk rupa hingga tak ada seorangpun mencintaiku. Namun aku senang membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Termasuk gadis kecil pemilik senyum manis itu..
“Ada apa, Cha? Kamu kok nangis-nangis terus senyum-senyum sendiri?” Nenek Upa masuk ke dalam kamar. Kupandang wajah ayunya yang belum hilang dimakan usia. Aku tahu, banyak cerita yang belum kubagi padanya.***

tebaktebak hayo tebak




I fell down, and I couldn't stand by my self anymore
+ thinking : udah besar, ayoo jalan lagi :D


I sank in the deepest painful ocean 
+ thinking : ayoo belajar renang

I got lost, I didn't know where my home is
+ thinking : sedia peta sebelum tersesat :))


Rabu, 13 Juni 2012

SUDAHKAH ANDA MEMBAYAR PAJAK?

Ya. Pertanyaannya adalah sudahkah Anda membayar pajak?



tuk. tuk. tuk.

udah dapat jawabannya?

apa? belum bayar? kenapa? bagaimana bisa?

FADE OUT

 Tulisan ini akan sedikit membahas pajak. Lazimnya, orang nggak akan mau membayar pajak kalau nggak dipaksa, kan? Naah, negara berbaik hati mungut pajak karena ujung-ujungnya buat kemakmuran rakyat. Serius. Kan, jutaan orang nyetor pajak nih. Uangnya tuh dikumpulin, buat bangun jalan raya, buat bangun sekolah, sampai beasiswa master yang digelontorkan pemerintah pada instansi-instasi perguruan tinggi pun dari pajak..

Kembali ke pertanyaan. Sudahkah Anda membayar pajak?

Sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, pembaca nyaris berhubungan sama membayar pajak setiap harinya.

Contoh 1 : pergi ke minimarket, terus beli sebotol Aqua. Harganya Rp1700. Ada tulisan PPN Rp170 yang tertera di struk belanja. Pajak Pertambahan Nilai kan, salah satu macam pajak?:D

Contoh 2 : bawa motor ke ATM. Pas pulang dari ATM, bayar retribusi parkir. Retribusi itu pajak daerah, jadi masih nggak jauh-jauh dari pajak juga...

Contoh 3 : ke counter, beli hape yang harganya Rp2.500.000. Itu sebenernya udah kehitung PPN 10% lagi looh.

Intinya, pajak itu nggak sebatas pajak yang nominalnya gede kayak empunya perusahaan multinasional di negara kita. Bukan hanya gaji orang tua sebagian besar remaja di negeri ini saja yang dikenakan pajak.

Hal-hal yang kecil pun dapat kita temukan..

Ketika kita bayar PBB juga termasuk pajak kaan? Bedanya, wilayah kabupaten/ kota tuh yang biasanya mendapat bagi hasil pajak yang lebih besar.

Oke. Let make it simplier.

Pajak penghasilan, pajak yang mengurangi gaji itu.. dikenakan bagi orang-orang yang berpenghasilan di atas 1,32 juta. Setornya ke kas negara, yang mengelola dan memiliki wewenang untuk mengolah hasilnya adalah pusat. 

Begitu juga dengan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). PPN merupakan salah satu pajak pusat. Jadi, jangan kaget kalau pas ke toko buku di mal-mal, segala barang terkeena PPN. Soalnya, pengusaha toko buku (dan yang lainnya) yang udah punya peredaran uang sebesar lebih dari 600 juta harus memotong dan memungut PPN pada konsumennyaa.

Kalau yang di daerah itu kayaak pajak reklame, pajak hiburan (klo ada konser), PBB, dan pajak restoran. Jadi, pas kita bayar bill  ke restoran secara nggak langsung udah termasuk pajaknya...

Satu pertanyaan yang mungkin dipertanyakan banyak orang: kenapa banyak orang korupsi pajak?

Sebenarnya, yang bener-bener berintegritas banyaak banget. Yang korupsi tuh yang hatinya lagi nggak bener aja. Hanya saja, yang jelek-jelek terkesan mencolok bagi masyarakat. Padahal, lagi-lagi, yang kerjanya s i p itu banyaak banget. Hanya oknumnya ajaa yang sering di-blow up (yang bisa nego pajak dg perusahaan berdasarkan peraturan tp diselewengin). 

Perpajakan di negara kita ini ada aturannya. Yang bayar pajak kalau nggak bener ada sanksinya, fiskus (pengatur pajak)nya pun kalau nggak bener ya ada sanksinya juga..


 So, mari bayar pajak ! :D





 


Selasa, 12 Juni 2012

KELAS SENI DADAKAN

Ramuan diperoleh pada Juni, 12/ 2012.
Episode hari ini seperti oase di tengah padang pasir. Apa pasal? Pasalnya adalah ketika penghuni kelas berseragam putih hitam membuat sedikit ‘keonaran’ di kelas. 
Tidak terbayangkan rasanya ketika kelas PPSP tidak jadi, kemudian kelas ditutup  dan lampu dimatikan. Layar proyektor berubah menjadi biru yang terlihat kelam. Dua anak manusia berjejeran sambil berebut mic, berbicara seperti sedang on air di sebuah radio.
“Hai pemirsa,” Sapa Bang Ruhut. “apa kabar Anda hari ini? Mari kita dengarkan kisah yang berikut ini..”
Dan mulailah Halim melancarkan aksinya, “Malam itu, aku baru saja memarkir motor Jupiter Mx-ku..”dia berbicara dengan suara perutnya.  Merk motor ini merujuk pada motor seorang teman yang berada di kelas kami, Imam. Yang dimaksud mesem saja, tabah merk motornya dicuplik oleh Halim dan Ruhut.
“Lalu, Ya Tuhaaan!..” terdengar jeritan pilu, menyayat, dan sontak membuat kelas yang gaduh ini sunyi senyap. “.. ada seorang anak kecil yang tersenyum kepadaku… !!” Cerita lalu berlanjut dengan ending bergantung (terserah pemirsa). Teman-teman terkikik-kikik, termasuk Puspa juga J
Trust me, sepasang matamu takkan mau untuk tak memberikan perhatian pada mereka berdua!
Setting kelas yang udah kayak suasana “Uji Nyali” itu bertambah komplit ketika Bang Ruhut memainkan lagu Lingsir Wingi, sebuah lagu Jawa yang katanya bikin merinding. Benar-benar jam kosong yang menakjubkan!
Hihihi, beberapa kali Halim menampilkan ekspresi yang begitu menyedihkan, dan.. berhasil menyedot perhatian kami memang.
Sesi on air radio ini ditutup dengan cukup sukses, saudara-saudara.
Yo! Acara kemudian berganti dengan Halim yang jadi motivator a la ESQ. Setting lagu pun berubah menjadi Koi. Halim tetap menjadi the main artist. “Kita masih bersyukur bisa bernapas hari ini. Napas masih gratis dan Tuhan masih menyayangi kita. Kalau begitu, apa yang telah Anda berikan kepada Tuhan? Apa? Apa?”
Ada peluru hati nancap ke hati.
Beberapa menit kemudian (seperti episode sinetron yang dinamis dan bergerak begitu cepat), ada Fadil dan Nasaor yang membawa gitar. Akhirnya, rame-rame kita bikin karaokean di dalam kelas. Do you believe that STAY STUDENTS CAN BE MORE CREATIVE IN THE PASTIME, GUYS? XD.
Sutradara Fadil mencari relawan yang menjadi vokalis. Dan pilihan akhirnya jatuh kepada Reshita. Dengan perform yang nggak kalah sama pertunjukan pensi di sekolah-sekolah mereka menampilkan aksinya.
Not just one song, but a lot ! :D
Kami nyanye rame-rame. Kami melepas penat. Melepas galau. Menghalau lapar. Memperbanyak syukur karena bisa ketemu teman-teman yang nggak nyangkanya bisa diajak ‘gila’ juga.
Begitulah, saudara-saudara. Menit demi menit kami lewati bersama dan kelas “otak kiri” ini memulai gaya hidup natural alamiahnya –yang otak kanan bangeet— dengan sukses. Yeah, we still remember beberapa hari lagi UTS kok. We remember. And we believe in our God and our capacity.
Eh, ternyata hal-hal yang menyenangkan tidak berakhir sampai di sini. Saat pelajaran PPN pun kami masih bisa ketawa gara-gara melakukan tipuan otak.
Caranya nih, ya. Lazimnya kan kalau dosen bilang gajah, masis harus bilang BESAR dan gerakan tangannya akan membentuk sebuah lingkaran besar. Kalau dosen bilang semut, masis akan bilang KECIL dengan gerakan tangan membentuk sebuah lingkaran kecil. Sekarang dibalik. Kalau gajah tetap bilang besar TAPI gerakan tangannya membentuk lingkaran kecil. Buat semut juga begitu. Semut itu keciiil (tapi lingkarannya harus gede) Diulang-ulang tuh sampe ada yang salah. Absolutely permainan ini menelan banyak korban :P. Level ditingkatkan dengan menambah kadal (pendek tapi tapi tangannya harus terulur panjang) dan ular (sebaliknya), rumput dan gedung (rendah dan tinggi).
Hmm.. are they confusing? Definitely not! It’s amusing. You can try this at home.
Can’t do this one? You can ask me. Hehe.
Terketik-ketik dengan sporadis pada 13-6-12. 12.12

Jumat, 08 Juni 2012

Asyiknya di Offering E

Seperti kutu yang bisa loncat, ide kali ini juga loncat-loncat. Loncat ke masa peralihan rok abu-abu sampe masa ngelilingin bangunan hektaran bernama kampus. Tepatnya di Offering E Sasing 2011.


Banyaak banget hal asyiknya. Kalo boleh dideskripsikan siih..

- Bisa ngikut pelajaran filsafatnya Pak Nasrul. Bukan perkara teologinya, melainkan mempelajari hal-hal yang semestinya dipahami lebih baik, tidak sekadar menjalani hidup yang sedang-sedang saja.

contoh : buat ape lu harus masuk kuliah kalau kamu tidak mendapatkan apa-apa? hatimu hampa, neuron otakmu nggak kesambung, yang ada pikiranmu melayang terbang entah kemana.

               yang jelas, ketika lu udah belajar dengan rajin dan MENGERTI, tugas kamu sebagai pelajar udah selesai. 

               (Bukan berarti kuliah itu jelek. Yang perlu diperbarui itu niatnya)

Pak Nasrul ini seakan menyodorkan sebuah minuman lantas ketika minum tiba-tiba tersedak. Ingat akan sesuatu. Kayak gini. Bapak berambut panjang itu nerangin, terus neranginnya gini (haha, sorry for confusing). Memori manusia tidak akan hilang. Yang ada hanya tertutup sementara. Suatu saat, ketika kamu mengakses, dia akan terbuka lagi.

Kenapa sih, manusia cenderung mengingat memori buruk, mengungkitnya lagi dan lagi? Padahal memori yang indah itu nggak kalah banyaknya. Please. Be thankful.

Kalau lagi di Malang, rasanya pengen nyelundup jadi mahasiswa semester I dan ngikut kelas siang hari.


-  Ketemu temen-temen yang gokiil


Offering E nampaknya menyimpan energi potensial yang sewaktu-waktu bisa meledak. Warna-warni keseluruhannya. Statis itu ngebosenin. 


Bersyukur sekalii tiap hari bisa ngmong bahasa asing yang kita nggak akan diketawain atau dikasih label keminggris oleh mereka. Dosennya baik-baik. Kalau beneran ada yang nggak paham ya diusahain lah sebisa mungkin paham. 


Wa.. ketika haus ilmu agama, bisa ke Cita. Ketika pengen katalog film korea yang terjamin mutunya, bisa ke Ima. Ketika butuh temen ngobrol tentang cerpen dan akhirnya ngalor ngidul, bisa ke Piekuk. Dullah buat partner dialog, Faris buat ice breaker, koordinator tugas yang memiliki koneksi langung lebih luas dengan para dosen yakni Dian, yang anggun ada Tiwi, yang minjemin hape ada Yousi, yang suka Dee ada Denis.


Oh, should I retell every inch of you guys?:')




- Di Off E, kita bisa ngintipin anak-anak Pen. Sendratari yang lain asyik nari. Katanya sih, kuliahnya tiap hari ya nari itu.


- Di Off E, kita bisa ngecengin dosen bule bernama Miss Iris.


- Kita juga bisa ketemu ibu dosen yang awet muda dan bisa nyeritain apa aja tentang Australia (otomatis bikin ngiler kita)


- Di Off E, bisa melengin jalan utama kampus dengan para-para yang haus ilmu. Menapaki ubin kaplingan dengan santai. Kurang lebih tiga ratus meter jauhnya.


- Di Off E, kita bisa main kartu pas istirahat, beli cilok di depan Matos, sholat bareng di masjid Ibnu Sina, dan foto-foto narsis.


- Dan di Off E, arena perjodohan a la anak muda juga diaplikasikan di sini :P


- Serta, di Off E, kita bisa melafalkan prononciation a la orang sana :D




*sumber : fb lidya


Yeah. Gud luck guys!









FENOMENA UTS


UTS di kita itu nggak kayak UTS di tempat-tempat lainnya. Soalnya, persentase hasil UTS ini sangat besar, sama persis dengan persentase UAS. Yap. 40%. Dengan kata lain, nggak ada alasan bagi mahasiswanya buat nggak belajar.

Meski demikian, nampaknya metode SKS lebih efektif bagi kami. Karena sebagian besar dari kami merasa kurang efektif dengan metode lama (alias ilmunya lebih nyantol kalo bener-bener kepepet). Game online, dan macam-macam cobaan yang cukup dahsyat menyatroni kita, per detik, per jam, per hari.

Logis sih..

Kalo mau ujian kan yang ada di pikirannya cuma ujian doang. Nggak ada tuh mikirin facebook, mikirin uang jajan, apalagi pa.. 

Tapi tetep kok : belajar sungguh-sungguh dimana pun dan kapanpun, nggak peduli mau ujian apa nggak, yang penting ngusir ketidaktahuan menjadi pengetahuan lebih BENAR adanya.

Semoga UTS ini lebih baik daripada yang kemarin. Semoga.. uang sakunya cepat turun (loh?:P), dan semoga bisa pulang kampung dengan selamat nantinya.


Karena keluarga adalah muara terakhir, sejauh-jauhnya kamu melangkah, ya kamu pasti akan ke sana juga. It reminds where you come from, then it reminds you to be more thankful.


16 hari menuju UTS. Semoga :)

Senin, 04 Juni 2012

SERBA-SERBI BANDUNG


            Bandung itu kota yang kompleks. Beragam warna. Dari putih sampai biru ada di sini. Apa aja sih? Yuk, baca postingan berikut. 

            KERETA API
Iya. Kereta api merupakan salah satu jantung akses perekonomiannya warga Bandung dan sekitarnya. Aktivitas per-kereta apiannya hidup banget! Salah satu indikasi pentingnya kereta adalah dipasangnya papan nama dengan lebih dari empat bahasa. Penulisannya dari huruf cina sampe huruf latin. Bergerbong-gerbong kereta disediakan dengan ratusan manusia yang seakan tak pernah habis menaiki kendaraan beroda baja ini.

            Trayeknya lumayan jauh, seperti Padalarang-Kiara Condong yang tentu melewati Stasiun Bandung. Jaraknya dimisalkan Singosari-Malang lah. Ongkosnya pun murah meriah. Cuma, sabar aja kalau lagi naik kereta ekonomi ini, especially buat yang nggak begitu suka kebisingan dan tempo lama. Bakalan ada banyak penjual sepanjang perjalanan kereta, dari donat sampai kalender. FYI, kalau dari Cimahi ke Bandung, lebih baik naik kereta aja (apalagi kalau waktunya menipis di siang hari). Karena eh karena, macetnya bakalan membunuh waktu secara perlahan. Jangan dibayangin pokoknya. Palagi kalau trayeknya melewati Pasar Baru pada weekend.

Untungnya, kalau mau lebih cepet dan nggak ada satu pun penjaja barang konsumsi bisa naik kereta patas. Nggak kalah sama bus, kan? Lima ribu perak, tapi dijamin bakalan sebanding dengan kecepatan kereta. Eh, tentu saja, kalo naik kereta yang satu ini, nggak lewat stasiun kecil layaknya kereta ekonomi, melainkan wuuush.. dari ujung ke ujung stasiun gede (berangkat dari Stasiun Bandung dan tiba di Stasiun padalarang).

PASAR BARU

Pernah kebayang nggak, pasar modern dengan enam lantai? Ya Pasar Baru ini. Beragam hal dijual di sini. Dari tas, pakaian, dan aksesoris (Bandung kan juga terkenal sebagai kota mode kan, bok). Kata dosen Hukum Keuangan Negara, warga asing juga berbondong-bondong ke sini khususnya Malaysia dan Singapura. Kalau nggak mau nawar, ada harga terjangkau, tapi di bagian pelataran luar Pasar Baru. Siap-siap menawar harga mah kalau di Pasar Baru. It’s not just about market, but modern and more expensive goods.


MOJANG BANDUNG


            Jika orang bilang mojang Bandung itu geulis-geulis, nggak salah juga siih. Emang bener kok. Soalnya.. pas ada acara di Jonas, ada puluhan anak SMA, terbukti mereka modis dan attractive. Mungkin faktor cuacanya dan dataran tinggi yang bikin sejuk juga yang membuat kulit mereka lebih cerah. So, nggak heran kalau banyak model, artis, aktor dari kota kembang ini. BTW, aku blum pernah lihat rangkaian bunganya.


            KERIPIK PEDAS MAK ICIH
            Maicih adalah salah satu jajanan pedas yang branded di kota ini. Yang katanya pengusahanya bisa menghasilkan omset milyaran itu loh! Ada juga sih yang lain, kayak Karuhun. Yang lainnya biasanya tanpa label tapi tetep pedas. Tapi mending yang udah jelas labelnya aja deh. Kita nggak pernah tahu darimana asal pedasnya keripik itu kaan?


            MAKANAN
Dimanapun, tentu saja ada makanan. Karena kebutuhan manusia itu makan. Kalau nggak ada makanan.. (oke, stop ceramahnya). Outlet makanan banyak banget di sini. Dari penjaja makanan dengan motor, gerobak, kedai, warung, sampai restoran. Iyalah. Bandung gitu loh :p.
Seperti warganya yang multietnis, beragam makanan ada di sini. Tapi.. tetep aja, adaa aja Masakan Padang. Waw. Salut juga ya. Emang masakan Padang udah ada dimana-manaa gitu.
Mau tahu apa makanan khasnya?
Peuyum. Yang kalo di ‘Jawa’ namanya “T-A-P-E.”
Ada juga : BATAGOR, cimol, cireng, dan bolu pisang.
Ngg.. jadi lapeer.


UNIVERSITAS
Uyee.. siapa yang tak kenal Institut Teknologi Bandung (ITB) yang namanya sering banget disebut-sebut orang media massa, dengan simbol Ganesha (patung gajah) itu? ITB itu institut ter-beken, dan tentu saja mahasiswa dari seluruh Indonesia pengen berkumpul di sini. dari Banyuwangi, Pasuruan, Surabaya, Palembang, Jogja, dsb.. dsb.. Konon, fakultas tekniknya diakui oleh para bangsawan industri minyak gas dan bumi sehingga, IP di bawah 3,00 pun bisa kerja dengan mereka.


Btw, Masjid Salmannya juga asik loh. Biasanya dibuat markas FLP oleh para anggotanya.


Ada lagi nih.. Universitas Padjajaran (Unpad), UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Polban (Politeknik Negeri Bandung), Politeknik Pos (yang Kantor Pos Pusatnya sumpa, guede banget), UNPAR (Universitas Parahyangan), Maranata, STT Telkm, dan.. masih banyak lagi.. FYI, UPI tuh deket banget dengan Masjid Daarut Tauhid, salah satu masjid yang penceramahnya tersohor di negeri ini. Masjidnya UPI itu gede banget dah, masuk kandidat masjid kampus terbesar di Indonesia.


TENTANG NAMA
Kalau di Bandung, biasanya pakai bahasa sunda sebagai bahasa sehari-hari—terlebih yang informal. Tapi, tentang nama, memang ada yang unik niih..


Kalau di Jawa Tengah, Jogja, dan Jawa Timur rata-rata pake intonasi O meskipun hurufnya A, di sini, pake A baik huruf maupun intonasinya..


Contoh : Monggo (artinya silahkan dalam bahasa Jawa) di sini jadinya Mangga.. (dengan tambahan tanda petik di akhir kata)


Banyak kok sebenarnya kosa kata yang mirip, kayak mulih = pulang, dhahar = makan, sare = tidur. Cuma, dhahar dan sare itu penggunaannya informal banget. Ada yang lebih halus seperti tuang dan tidur.


Penamaan orang-orang di sini cenderung berulang, misalkan Jajang Sujajang. Kayak gitu.. pokoknya ber-rima gitu lah XD


PASAR MINGGU


Seperti Malang, tiap minggu ada juga pasar minggu, letaknya di Gazeebo (dekat Kantor Kerja Gubernur Jawa Barat). Ratusan orang bakalan memadati lapangan ini. Mata bakalan dipuasin dari segala pernak-pernik rumah tangga sampai sepatu buat para mahasiswa. Harganya .. nggak bikin tercekik laah.


Jadi, ini adalah salah satu aksen khas Kota Bandung. You can visit here and enjoy new things around you. Thank you ! J

Jumat, 25 Mei 2012

M T D


Tahu tidak? Malang, layaknya kota-kota lainnya, mempunyai tradisi sendiri untuk mengungkap kembali sejarah dalam bentuk festival. Namanya Malang Tempoe Doele, atau yang dikenal dengan MTD (bacanya Em-Te-De). Ini even tahunan. Seperti namanya, festival ini dapat diartikan sebuah acara hiburan, bukan pesta, tapi meriah, karena disuguhi berbagai macam hal. Mulai kesenian sampe jualan (90%). MTD, secara formatif, tentu bertujuan mulia, menguak sejarah kota Malang sendiri. Dan, pemkotnya udah sukses menarik banyak pengunjung ke sini.

Apapun itu, MTD patut diapresiasi. Mm.. soalnya, ribuan anak manusia bakalan berkumpul di sini. Tua-muda, sekolah-ngampus-udahnggaksekolah, dari tukang parkir ampe mahasiswa kedokteran. Seru saat berada di keramaian. Bisa dibayangin nggak, Malang itu udah zona universitas, karena memang banyyak kampus bertaburan. Tentu saja, konsekuensi logisnya adalah ribuan mahasiswa tumpek-bleg di sini. Entah dari Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Kanjuruhan, atau universitas-universitas lainnya. Naah, MTD itu udah populer bagi para mahasiswa di kota Malang. Bisa sebagai hiburan di tengah kesibukan kuliah (FYI, di saat-saat seperti ini mahasiswa cukup diributin persiapan UAS buat dua minggu ke depan. Ada juga yang udah libur), bisa juga silaturrahmi bareng keluarga, nyari makanan, iseng-iseng, naluri pembolang, de el el.

Jalan Ijen, jalan protokol sepanjang seratus meter (LEBIH) di kota Malang ini ditutup sebagai tempat festival selama tiga hari. Dua ruas jalan dipenuhi oleh satu benteng gede di dekat monumen bunga, warung makan, kios-kios, pernak-pernik sejarah, dan kerumunan manusia.

Kalo bosen jalan, ngirit, nggak pengen jajan atau belanja, bisa juga main-main ke Museum Brawijaya atau Perpustakaan Umum Kota Malangnya. Perpusnya oke looh, oke gila. One of the most recommended Perpus. Klo non warga Malang Raya (Batu-Kab. Malang-Kota Malang), biaya administrasinya seratus ribu buat minjem buku dan bakalan dikembalikan klo lulus. Adem, ber-AC. Ribuan buku! Loh ya, cerita perpustakaan jadinya.

Banyak sekali hal yang bisa ditemukan di Malang Tempoe Doele. Yang paling favorit, tentu saja makanan. Yeah, makanan. Mulai dari kerak telor, cilok, jagung bakar, gula-gula, gulali, gudeg, and others. Namanya juga Festival, tentu nggak lengkap klo nggak ada makanannya. Asupan gizinya ngimpor juga dari kota lain, hehe. Ada juga orang-orang yang jualan lukisan, jualan tas-tas batik, jualan baju, melayani jasa naik dokar, de es be. Beberapa institusi juga show off di sini loh : BRI, hotel, restoran (klo penulis nggak lupa) untuk keeksikan mereka tentu saja. Monggo, silahkan dipilih apa yang dimau J.  Hati-hati dengan barang bawaan : hape, uang, dll. Bagi pengidap photoholic bisa tebar blitz kamera di sini. Kalo nyari masjid harus masuk ke Museum  Brawijaya dulu atau ke sekitaran Jalan Kahuripan aja buat sholat..

MTD mengular nggak hanya di Jalan Ijen, tapi sampai masuk ke pelataran Museum Brawijaya. Klo ada acara gede gini yang tak boleh dilewatkan adalah… jasa parkir ! Dua ratus motor nggak ada tempat parkirnya nggak lucu, donks.

Tenang aja.. ada juga kok hal-hal yang benar-benar mengingatkan kita pada Malang yang jadul. Yakni, foto. Iya, foto. Sebagai contoh, ada foto perempatan jalan yang menembus RS. Saiful Anwar- Alun-alun (samping Jalan Kahuripan) yang dulunya masih sederhana dan sepi banget sekarang udah modern dengan Bank BCA dan beberapa rumah makan di sana.

Kostum ke MTD sih bebas, nggak ada yang nyuruh pake ini-itu apalagi  kembenan. Cuma, rata-rata pada suka pake batik kalau ke MTD. Dulu sih, makenya jeans plus baju lengen panjang aja.. wkwkw.

Hmm, festival ini berlangsung pada 24-26 Mei sodara-sodara. Jadi, bagi siapapun yang ingin datang, monggo.. jangan sia-siakan kesempatan studi di Malang dengan nggak mengitari tempat perantauanmu.. yang pengen datang tapi nggak bisa, sabar ya Kaka.. :D



Selasa, 20 Maret 2012



the older I am, the more I get complication about life. just enjoy it 

CAKAP-CAKAP

H: Misalnya nih. Ada tangga dari nomor satu sampe sepuluh. Semakin tinggi nomor tangganya, semakin bahagialah kamu di sana. Gimana perasaan kamu, kalau kamu awalnya di tangga nomor dua, terus kamu bisa melonjak ke tangga nomor sepuluh. Tiba-tiba kamu harus turun ke tangga nomor delapan?

Q: Biasa ajah.. (ya iyalah. Dari nomor 2 ke 10 kan untung banget. Perkara turun dua tangga ya nggak masalah)

H: Yho wes koyok ngunu iku kita saiki..
(percakapan bersama seorang teman, siang hari)

Pengikut