t : piye blog-mu saiki?
j : anu, aku belum nulis lagi. masih yang dulu. susah banget rasanya. udah lama juga. (alesannya lalu mulai bercabang-cabang).
t : menulis itu jangan dijadiin beban. biarin mengalir aja.
j : ooh. gitu ya?
iya, gitu, lah. masa gitu dong.
Kamis, 15 September 2016
Minggu, 11 September 2016
ENLIGHTENMENT
Salah
satu hal yang bikin semangat ngampus bagi saya adalah dosennya. Bisa dari
penampilan, cara bertutur, atau materi yang diajarkannya. Beruntung banget bisa
'ketemu' sosok komplit seperti ini saat mengikuti Dinamika, acara perkenalan
kampus beberapa hari lalu. Lompo sorot di gedung tempat kami mengikuti acara
seolah tembus ke kepala saya. It's an enlightenment. Pencerahan!
Panggil saja beliau Pak Riko. Rambutnya lurus sedikit di bawah telinga –potongan rambutnya mengingatkan saya kepada guru kesenian waktu SMP, meski nggak ‘segondrong’ itu juga, sih--. Lelaki paruh baya tersebut memakai batik warna putih, celana abu. Resmi, but look casual. Inget juga sama dosen filsafat (yang udah pernah di tulis di blog ini – bedanya dosen filsafat pakai kaos dan jeans).
Cara beliau berbicara itu anak muda banget, ‘merangkul’, kayak sama
temannya sendiri. Tapi saya tetep hormat juga. Tema ceramah yang diusung adalah Menulis
dan Plagiarisme. Pak Riko berharap kami bisa mengerjakan skripsi atau tugas
akhir dengan sungguh-sungguh. Juga mencoba menjajaki menulis jurnal ilmiah.
Saya tuliskan beberapa poin acak yang mengendap di benak saya:
Usahakanlah, dalam dua tahun ini, kalian kembangkan keterampilan tulisan
kalian. Jangan jadikan tugas itu sebagai beban. Jadikanlah tugas itu sebagai
wahana latihan menulis (Ayay, Captain!)
Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang
IPK itu penting. Lebih penting lagi dapet IPK bagus dan skill nya bertambah.
Jangan seenaknya copy paste tugas (TA, skripsi). Lembaga kita sudah punya semacam aplikasi untuk mendeteksi apakah tulisan kita plagiat atau nggak, loh!
Dalam membuat sebuah tulisan, minimal 4-5 paragraf lah itu hasil ramuan kalian sendiri.
Kalau kalian membaca, resapi dulu, baru ditulis ulang. Beda banget nanti ketika kalian memahami dulu lalu ditulis sesuai dengan bahasa kalian sendiri dengan yang habis baca langsung dimuntahkan alias nggruduk tulis ulang.
Di film Game of Thrones, dari seri 1-5, Indonesia cocok di bagian mana ya? Klan Stark, Lannister, atau yang lain?
#Kemudianhening
lah satu gedung. Yang acungkan tangan hanya beberapa orang. Aslinya, saya nggak
pernah nonton filmnya, belum juga baca bukunya. Nggak begitu suka fantasi, soalnya
#mencobangeles.
Cara kita menulis itu unik. Coba kalau pertanyaan kayak tadi, di film Game of Thrones Indonesia itu lebih cocok mana, dari depan sampai belakang jawabannya pasti macem-macem. Ada yang suka Lannister, ada juga yang nggak. Pasti beda!
Coba, deh, kalian google nama kalian. Apa yang keluar? (cuma) Facebook? Instagram?
Beberapa waktu kemudian, saat kalian udah jadi orang tua, dan anak kalian googling, masa anak kalian bilang, ‘ih Bapak ngapain aja dulu waktu muda?’ Minimal kalau orang mau nyari sesuatu ada tulisan kalian di sana.
Tulisan, yang ilmiah khususnya, adalah salah satu persyaratan ketika kalian mengajukan beasiswa nanti. Coba googling deh, LPDP. Salah satu kriterianya adalah bikin esai. Kalau kalian ikutan Tes IELTS, biar bisa kuliah di luar negeri, kalian harus bikin karya ilmiah dalam 250 kata dalam bahasa Inggris. Nulis dalam bahasa Indonesia aja susah, gimana kalau bahasa Inggris. Mampus nggak tuh?
Referensi tulisan itu levelnya harus sama. Kalau opini ya referensinya opini. Kalau jurnal ya referensinya jurnal juga. Jangan kalian bikin skripsi preferensinya opini doang.
Jangan hanya foto-foto selfie, Instagram. Coba nge-bloglah. Nulis. atau, coba twitteran yang 140 karakter.
T: Apa bedanya Opini sama Tajuk Rencana di Kompas? Soalnya kalau di Tajuk Rencana itu menunjukkan data-data statistik, tapi dia ada argmentasi juga.
J: Sebetulnya intinya sama saja, isinya pendapat penulis dalam bentuk esai. Bedanya, kalau di Tajuk Rencana dia memaparkan data-data statistik dahulu. Ujungnya sih opini orang tersebut.
Di sekolah internasional tuh, anak kecil aja udah jago nulisnya. Kita bisa kalah dengan anak kelas tiga SD, deh. Ini karena gurunya ‘memancing’ murid dengan pertanyaan-pertanyaan seru. Kamu lebih suka mana, ikan paus atau lumba-lumba?
Ngga
mungkin jawabannya ya atau tidak saja. Jadi murid itu distimulus untuk
bercerita. Saya lebih suka lumba-lumba karena bla bla bla. Diam-diam si anak diajak
analisis juga. Makannya apa sih si paus itu, makannya apa lumba-lumba itu. Dan
seterusnya.
T: Apa kategori ketika tulisan seseorang dikatakan plagiat?J: Salah satunya adalah satu, atau dua paragraf yang ditulis ‘plek’ tanpa mencantumkan sumbernya.
Salah
satu penulis favorit Pak Riko adalah James McNicholas. Penulis blog arsenal
yang bermukim di London itu kalau menulis menulis nge-pop, bahasanya nggak
kaku. Dia menceritakan sebuah pertandingan bola diawali dengan sebuah cerita,
seorang anak yang diajak bapaknya naik kereta demi nonton sebuah final sepak
bola.
Cobalah googling. How to write essay. Kalian bisa menemukan banyak sekali tips dalam bahasa Inggris.
Itulah
beberapa poin yang dapat saya jabarkan dari presentasi beliau. Dua jam saya
lalui tanpa terasa. Tentu kehadiran beliau bermanfaat sekali bagi saya (semoga
bagi yang lainnya juga). Terus terang, saya butuh dosen-dosen yang seperti
beliau. Mungkin karena minatnya sama.
Saat si
Bapak rampung memberi sambutan, saya ikut memberikan apresiasi dengan tepuk
tangan paling meriah yang bisa saya kasih.
Terima
kasih kampus sudah mendatangkan si Bapak. Makasih, ya, Pak! Jangan kapok
memberi kami pencerahan.
Cimul.
![]() |
| sumber gambar: pinterest.com |
Selasa, 06 September 2016
RUANG
Ada sebuah ruang yang kamu tinggali. Temboknya bercat
pelangi. Di dalamnya, ada sebuah piano besar yang bisa kamu mainkan (denting melodinya
begitu indah), televisi berwarna, pendingin ruangan, dan sepasang jendela kaca.
Setiap hari, akan ada seekor burung pipit menyapa, mengetuk-ngetuk dengan paruh
kecilnya, mengintip dari luar.
Kamu sangat betah tinggal di situ, seolah-olah nggak ada
ruang lain yang mungkin lebih luas, lebih indah, lebih menarik.
Karena satu dan lain hal, kamu harus angkat kaki dari ruang
itu. Beberapa barang boleh terbawa. Tapi nggak ada lagi tembok bercat pelangi,
piano, televisi, sampai burung pipit tiap pagi.
Kamu, tiba-tiba saja sedih. Sedih karena tahu bakal susah untuk
kembali. Kamu meraung. Kadang sampai menjambak rambut sendiri. Depresi? Nggak
sampai sejauh itu.
Uniknya, ada berita unik, berupa berita baik.
Berita baiknya, kamu disediakan sebuah ruang lagi. Kamu boleh
tinggal di sana dengan kondisi lebih luas, lebih lebar, lebih lega. Temboknya memang
nggak bercat pelangi, tapi hijau cukup menyejukkan hati. Nggak ada piano, tapi
sekarang ada biola. Dawainya bisa kamu mainkan lagu favoritmu. Televisi berwarna
tergantung di pojokan, masih ditambah dengan penyejuk udara.
Oh, ya. Burung pipit tiap pagi ternyata ada juga yang
menyapa di jendela.
Kamu lalu nggak sedih lagi. Kamu mulai betah di tempat ini. Sementara
ruang yang dulu kamu idolakan, ditempati oleh seseorang yang nggak kalah
betahnya dari kamu. Kamu berterima kasih sudah pernah tinggal di sana, dan
nggak lupa bersyukur dengan ruang yang baru.
Jadi, bisakah kita menganggap ruang itu sebagai hati?
Pondok Aren, 6 September 2016. 22.30.
![]() |
| sumber: pinterest.com |
Minggu, 10 Januari 2016
RENCANA
Bagi kebanyakan perantau, tanggal merah berantai diibaratkan sebagai
durian runtuh. Inilah kesempatan emas untuk pulang ke kampung halaman. Rehat
sejenak sebelum kemudian balik lagi ke tempat asal. Tanggal merah berarti
menyelamatkan sebagian kecil penghasilan karena nggak bakal dipotong oleh
selembar kertas Surat Izin.
Well, itu juga berlaku bagi
saya. Di ujung tahun 2015, ada empat hari libur yang bisa saya pergunakan untuk
pulang ke rumah. Dari tanggal 24 Desember sampai 27 Desember. Rumah saya di
Jawa Timur. Sedangkan tempat rantau saya di Jawa Barat. Actually it’s the
perfect time. Jadi saya bisa berangkat Rabu malam tanggal 23, balik hari Minggu
sore tanggal 27.
I used to go home with train.
Minggu, 15 November 2015
PAYUNG
Aku anak pertama dari empat bersaudara. Namaku Mei.
Ya, aku lahir di bulan kelima tanggal sepuluh pukul enam pagi. Ibuku bilang, beliau
menamaiku Mei biar gampang. Gampang membuat akta kelahiran, gampang hapalan
dalam kelas –tidak di awal tidak pula diakhir saat dipanggil bu Guru, dan tentu
saja, gampang dalam menulis nama di ujian. Asal kamu tahu, namaku bukan Mei
Hwa, Mei Intansari, Mei Kusumadewi, atau yang lain. Namaku Mei. Mei saja.
Pasti kamu
bertanya-tanya, apa kaitan payung dengan aku, seorang Mei?
Begini. Sebagai
seorang anak, kamu pasti pernah mendengar nasihat orang tua untuk selalu
membawa payung di musim hujan, bukan?
Aku yakin
seratus persen, tidak ada yang menyuruh kamu membiarkan benda yang bisa
mengembang itu tergeletak di pot besar rumah saat kilat sudah mulai
menyambar-nyambar. Aku juga ragu, kalaupun tak bawa payung karena kamu naik
motor, pasti terselip jas hujan di jok dudukmu. Ibuku bilang, tak baik kalau
hujan-hujanan. Bisa jadi aku demam setelahnya. Senjata paling pamungkas adalah
payung.
Begitu juga
dengan teman-temanku. Di musim penghujan seperti ini, payung mereka
warna-warni. Merah totol-totol, biru polos, sampai warna-warni pelangi yang
berseri. Payung-payung itu akan mengembang sempurna saat serbuan air menyerbu
tanah bumi. Ada malah, temanku yang suka mengoleksi payung. Beberapa payung
favoritnya dibeli di negeri empat musim.
Aku sendiri,
aku tak pernah bawa payung. Aku lebih senang hujan-hujanan, berkecimpung dengan
genangan air, bulir-bulir yang menetes dari lampu jalan, dan juga pakaian basah.
Aku tak peduli dengan seragamku yang kotor. Toh aku punya pakaian cadangan dan
aku mencuci sendiri seragam-seragam itu. Kalau sudah menjejakkan kaki di rumah
dengan rambut yang sudah layu, tas yang sudah didekap di dada, raut ibuku akan
berubah. Ibuku tak marah, mungkin sudah menyerah dengan kelakuanku.
Hujan
barusan sungguh istimewa, seperti hujan-hujan sebelumnya. Bebanku seakan
terangkat seiring dengan menguapnya panas tanah ke udara. Aku juga banyak
menemui anak kecil yang bermain bola. Yang perempuang berlari-larian dengan
temannya.
Hmm.
Secangkir cokelat panas sangat cocok untuk menghangatkan badanku.
Namaku Mei.
Kamu mau bermain hujan denganku? Atau kamu mau duduk-duduk bercengkerama dengan
secangkir cokelat panas juga? Datanglah ke rumahku. Rumahku dekat perempatan
jalan, di samping toko bakeri yang tak pernah sepi. Pagar rumahku bercat putih
dengan bel di dekat pintu (oh, tentu saja).
Besok, hujan
tidak, ya?
Rabu, 04 November 2015
AIRIN
Jarum di arloji Airin telah menyentuh angka enam. Jarum pendek.
Jarum panjangnya menunjuk angka tiga.
Airin sudah berdiri di pertigaan jalan yang menghubungkan jalur ke perkampungan,
kota di sebelah timur, dan kota sebelah barat. Menunggu bus. Bukan bus sekolah,
tetapi bus antar kota antar provinsi . Yang ‘kan mengantarkannya ke sekolah. Sekolah
Airin tepat di pinggir jalan dan dilewati bus itu. Airin berangkat sendiri.
Teman-teman dari tempat tinggalnya memilih naik motor. Lebih lekas sampai, kata
mereka.
Di telinga Airin terpasang headset warna putih. Ada suara
jernih vokalis Passenger di dalamnya. Kadang-kadang juga teriakan syahdu Adam
Levine. Hmm, terkadang juga dia memutar lagu cover penyanyi-penyanyi independen
–Boyce Avenue kesukaannya—. Di punggung Airin melekat tas warna putih yang
sudah menjadi kesayangannya sejak kelas tujuh. Kini Airin kelas sepuluh.
Berarti tiga tahun tas itu menemani dirinya. Tas itu tidak berat. Karena Airin
hanya membawa buku secukupnya.
Jalan lagu ketiga. Airin mematikan lagunya. Bus telah datang,
berwarna putih bercorak hijau. Airin naik. Airin tersenyum kepada kondektur bus
langganannya itu. Airin ‘kan mendengar lagu lagi, berupa omelan penumpang yang
mengeluh karena ongkos naik, lagu pengamen, hingga derubus, sampai dia
beranjak turun.
Airin. Kamu pernah seperti Airin?
Langganan:
Postingan (Atom)

