Rabu, 13 November 2013

ada beribu mawar terhampar, menguar, di pelataran kebun yang
menjerat embun
tak mengapa, ya, jika tak kupilih satu, yang mungkin menurutmu itu sangat memesona

ada berjuta warna menarik kornea, menyentuh halus jemari tangan
dengan berbagai corak dan nama
tak mengapa, ya, jika aku lebih memilih merah muda
yang nyalanya tak sekilat mereka

di sini aku, 
memendam gumpal rasa 
yang memilih tak bernama


di sini aku, 
berjalan penuh kesah
tunduk sedikit pada irama yang sama

di sini aku, 
menatapmu yang melukis senyum
dan sebuah toga

pada akhirnya, 

satu periode hidupmu telah khatam

satu ribu harimu telah terlewati

satu gelar telah tersemat

kebahagiaan mengelilingi sanubari
tak ada alasan untuk tak mengucapkan selamat :) 
dengan satu lengkung wajah

di sini aku, 
berbangga hati

*

orang-orang yang menenteng kamera, 
menyusun narasi-narasinya bilang, 
terima kasih lebih indah daripada kata maaf

maka terima kasih 

untuk berpasang-pasang senyum
yang mengantarku hingga
gerbang kecil di gang mungil

terima kasih untuk 
sekeranjang apel, bulir-bulir jeruk, dan 
bulir-bulir tawa
yang menghapus sejenak sedikit luka

terima kasih untuk
ratusan kata yang kuucap dan kaudengar
ratusan kata yang kauucap dan kudengar,

terima kasih untuk 
sepatu yang kauangkat, 
sepatu usang lengket (mungkin seperti besi berkarat)
yang bercipratan dengan tanah air hujan 

terima kasih untuk hantaran pada
bianglala, udara segar di samping rimba, 
dan masjid kota
aku baru menyentuhnya di sore yang deras itu

sekarang, 

mari kita harap sepenuhnya 
pada Yang Maha Segala
atas segala harap dan cemas
pengorbanan dan penyesalan
dan sekian rasa 

agar memiliki sebuah titik. 

titik balik. titik awal. titik manis. titik yang banyak disebut para pujangga

 *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut