Minggu, 19 Agustus 2012

Ketupat Sayur, Alhamdulillaah

bahagia hari ini?
tentu saja :)

masih bersama orang tua tahun ini adalah kebahagiaan
berkumpul bersama keluarga hari ini adalah nikmat tak terkira
anjang sana dengan sanak keluarga adalah berkah
bertemu teman-teman lama adalah membuat kenangan indah lagi

karena kita manusia
sedih banget kalau cuma sendiri

wah, banyaak sekali nikmat yang harus disyukuri

maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kaudustakan?

selamat berlebaran

semoga spirit ramadhan tetap bersama kita hingga ramadhan berikutnya, entah sampai yang belum terkira :)



Sabtu, 18 Agustus 2012

Film-film Masa Kecil yang Pernah Saya Tonton

 *by the way, ini juga postingan jadul. Dimana jumlah follower twitter Sherina belum menembus angka 3jt seperti sekarang :D
 
 
Setidaknya ada dua film –aseli buatan Indonesia—yang membuatku terkagum-kagum. BERAT. Joshua oh Joshua dan Petualangan Sherina. Tidak tahu pasti apakah karena pada saat itu pemikiran a la anak kelas IV SD masih terbatas atau para sineasnyakah –besutan Riri Riza, dkk-- yang memang ajib membuat film universial especially anak-anak itu. Hmm.. kolaborasi keduanya sih ya..
 

Baiklah. Akan kuulang lagi alurnya. Kurang lebihnya begini. Sherina ini harus pindah sekolah karena ayahnya dimutasi kerja. Jadilah keluarga kecil itu –ayah, ibu, dan Sherina- pindah rumah [plus pindah sekolah]. Karena si Sherina ini murid baru, maklumlah ada ledekan-ledekan kecil dari Sadam –diperankan Derby Romero-. Yang katanya inisial M pada nama panjang Sherina itu monyetlah, digojlok-gojlokkinlah, sampe adu keunggulan lewat lagu dingaa…­ --hehe, ini iank namanya sportif. Gak pake hina-hinaan gitu ya kyk anak jaman sekarang..
 
 
Intinya Sadam itu keliatan banget gak sukanya ama Sherina ! sampe akhirnya si Sherina tahu kalo Sadam tuh anaknya baeek banget, kedua orang tuanya saling mengenal, mereka jalan-jalan menuju perkebunan teh, dan akhirnya mereka berdua berusaha meloloskan diri dari kejaran orang jahat, si penculik yang baru saya tahu kalo tokohnya sering tampil di tv “,).
 
 
Eh, ada yang ketinggalan. BOSCHAnya itu looooooo ^^, ayo, siapa yang mau kesana ? –soale aku belum--
Yap! Siapapun dan dimanapun anak-anak Indonesia yang nonton film ini pasti akan terpukau. Hayo, ngaku? Kita gak hanya disuguhi alur yang menegangkan –tentang penculikan—tetapi juga bisa menikmati tayangan visual yang indah. Dari hamparan kebun teh, megahnya laboratorium Boscha, sampai si rusa imut negeri kita –bukan rusa yang ada di opening Twilight kaaan?hehe-
 
 
Btw, tentang pelaku-pelakunya. Sodara-sodara yang remaja pasti sudah tahu betapa eksisnya dua bintang utama itu –Sherina Munaf dan Derby Romero –eh dulunya kayaknya Romeo aja deh—. Sinna Sherina Munaf udah berhasil mengeluarkan albumnya yang PRIMADONA, kemudian lagu Cinta Pertama dan Terakhir, Geregetan, dan Pergilah Kaunya udah ngena banget di kuping kita, belum lagi lagunya yang jadi OST Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi.
 
 
Kita bermain-main
 siang-siang hari senin
tertawa satu sama lain
semua bahagia, semua bahagia. (Kubahagia)
 
 
Jika pembaca adalah pengguna twitter, pasti tahu deh berapa followernya Sherinna dewasa sekarang. 700 ribu lebih, bok!
 
 
Kalo si Derby mah, yang saya tahu udah sukses membintangi Kepompong –yang dikelilingi cewek-cewek cakep itu--, lalu jadian ama sesama public figure –hehe, maklum aku cew jadi tau ginian--, Gelora Asmara dengan Tuhan Tolongnya juga meledak, beserta Love in Perthnya yang kelar dia bintangin di negeri Kanguru sana bareng penyanyi seriosa yang super pintar, Gita Gutawa.


Kalo Joshua oh Joshua… hmm.. pembaca mungkin juga sangat amat hapal alurnya.
 
Dan tahu nggak??
Ternyata nilai-nilai yang ada dalam Joshua oh Joshua itulah yang semestinya dilakukan buat kita kita di zaman yang kian tua ini.
 
 
Err.. maksudku gini lho. Membayangkan betapa nerimannya si Jojo –neriman doesn’t mean not trying to be a better person--, betapa SABARnya ia menghadapi ibu iank kejam, betapa ia masih menyayangi ibu angkatnya itu meskipun udah berkali-kali nyakitin *ngelindungin supaya gak diapa-apain ama ortu aslinya kan?*, 
 
 
Dan yang terpenting..
BETAPA JOJO *dan Jejen ADALAH PARA PELAJAR INDONESIA YANG GIAT BELAJAR. YANG TAK MAU KALAH OLEH KEADAAN. YANG GAK BUTA HARTA BUTA DUNIA
 
 
Ooh, apakah saya idealis?
 
 
Kalo disambung-sambungin enggak mungkin ya, kan itu termasuk hal-hal yang semestinya kta punya…
Pokoknya, kalau ingeet film itu, mungkin kita akan diam-diam malu pada diri sendiri, ketika betapa ‘polos’nya kita dulu, menjadi anak-anak yang lepas, bebas, gak kayak sekarang yang dipenuhi intrik , *gossip be’e..

Finally, kesimpulannya kedua film itu baik betul dan bisa dikonsumsi adek-adek kita yang masih kecil, tetangga-tetangga kita, anak-anak Indonesia… mungkin kalo ditayangin lagi –gappa kan?- akan mengurangi damppak dari tayangan setajam *****, musik iank berlebihan, horror, atau iank amoral.. kan konsumsi tv kita sehari2 gak jauh2 dari itu bukaan?

Yes, those are my opinion,
Bagaimana menurut anda?

semoga bermanfaaatt!

Namaku si Biru

Namaku si Biru

Bukan cinta atau Bento. Hehe

Anyway, ini postingan jadul dari blog lama yang sudah tak terjamah ID beserta passwordnya

Karena ini zaman baheula, tentu kekurangannya ada (sampai sekarang pun iya). Tidak diedit karena dengan cara inilah tahu apa aja kekurangannya.

Eh, kebetulan juga ada nama Kenny, itu nama salah seorang temanku, hihi. Entah dulu terinspirasi olehnya atau ngarang udah lupa
 
Namun aku suka aja bahasanya :P

Selamat membaca!

***

6 Maret 2011

Sebenernya cerpen ini udah lumayan lama. Ceritanya waktu itu lagi ikutan lomba cerpen yang diadakan www.mahasiswa.com.

Yap, begitulah. Alhamdulillah akhirnya menang sebagai Juara II.


Karena ada yang memprovokasi saya supaya mempublish cerpen ini *makasih banyak ya Mbah -,-* ya sudah..

itung-itung sharing hobi juga.


Oh ya. Buat Tambahan. Nama tokoh utamanya ini asli lho...!! hehe. Maksudnya emang bener ada. Mbak yang namanya tercantum di cerpen ini emang yang udah banyak membantu sy waktu nulis.. now she is studying at Gajah Mada University. Thanks a lot, Mbak ^^




NAMAKU SI BIRU


Namaku si Biru.
 
 Begitulah Junda, pemilikku memanggilku sejak dua bulan yang lalu. Hmm.. menurut kalian sosok apakah aku ini? Yang jelas, aku adalah benda elektronik yang terbuat dari bahan anti karat. Berbentuk balok, terdapat sisi yang dapat di buka, dan terdapat layar berukuran sedang di dalamnya. Dengan tuts-tuts keyboard berjumlah delapan puluh enam, kinerjaku sempurna sudah. Sering aku bertemu dengan teman-teman di perpustakaan kampus, taman kota, atau cafe-cafe di mall. Kehadiran kami yang sangat dibutuhkan menjadi pertimbangan para mahasiswa untuk memiliki benda seperti aku ini, termasuk Junda. Ya, benar. Aku adalah laptop, berwarna biru tepatnya. Oleh karena itu Junda memanggilku si Biru. 
 
Sudah menjadi tugasku untuk mempekerjakan sistem operasi agar aktif, menampilkan tampilan word untuk tugas paper, dan tak luput dari aktifitas internet. Aku bersyukur menjadi kebutuhan primer Junda, dan dapat menemani kesehariannya. Dia adalah mahasiswi semester dua prodi biologi yang pandai. Tak pernah ada kata absen atau bolos mata kuliah, selalu tepat waktu mengerjakan tugas, dan dapat memanfaatkanku dengan sebaik-baiknya. Meski ada banyak film di folder E-ku, dia tidak mau menyentuh ikon judul film sama sekali saat ada tugas. Dan meskipun sinyal wi-fi penuh lima undakan, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bercakap-cakap tak jelas di dunia maya. Aih, intinya Junda adalah mahasiswi berkualitas. Tak hanya segi intelektualitas, tetapi kepribadiannya. Selalu cermat dalam keuangan, dan tak pernah mempertontonkan aurat. Tak pernah bergaul terlalu bebas, juga tak pernah bergaya borjuis seperti yang dianut mahasiswa obsesi selebritis. Tahu sendiri, bukan? masih ada mahasiswa yang suka berkedok kaya padahal dia telah menyakiti orang tua secara perlahan, menghabiskan uang. 
 
Mentari telah kembali ke peraduan. Gemintang yang berkilauan nampak redup ditingkahi lampu-lampu metropolitan. Qira’ah Ar-Rahman yang disetel di masjid terdengar merdu. Namun alunan sucinya dikalahkan dengan suara televisi yang dinyalakan di rumah-rumah.
 
Junda masih menekan tuts-tuts keyboard di tubuhku, rupanya dia sedang menulis proposal.
 
“Jun, apakah perusahaan itu akan menerima proposal kita? LSM saja ditolak mentah-mentah. Fadhil sudah menjadi korbannya,” ujar Rina, teman kosan Junda.
 
“Semoga saja, Dik Rina. Kalau ada tembusan dari rektor bisa memperkuat proposal kita. Kita juga mengundang pewarta berita. Lagipula, apa salahnya coba, organisasi kepenulisan kampus mengadakan festival sastra untuk anak-anak berkemampun luar biasa?” Junda menjawab dengan senyum. Lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
 
“Baiklah. Terserah kakak saja, lah.” 
 
Hmm.. Aku suka ini. Lihat, Junda telah menyelesaikan proposalnya. Efisien sekali waktunya. Hanya satu jam. 
 
Dengan tujuan mengoptimalkan potensi anak-anak istimewa, kami selaku pengurus Okus –Organisasi Kepenulisan Kampus- berencana mengadakan festival sastra yang akan diikuti siswa SMPLB se-kota kabupaten. Oleh karena itu, diharapkan dengan sangat kontribusi perusahaan untuk mensponsori acara kami.”
 
Itu adalah kutipannya. Kalian tahu, selain aktif di organisasi kepenulisan, Junda juga mengikuti kegiatan mahasiswa yang bermanfaat seperti ini. Tetapi kewajiban utamanya untuk kuliah tak dia tinggalkan. Buktinya IPK pertama sampai sekarang tak pernah lepas dari angka 3,5. 
 
Namaku si Biru.
 
Angin bertiup semilir. Suhu kamar kosan Junda tidak sesejuk ini. Hm..mungkin ini yang disebut taman kota. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat ini. Untuk mencari referensi tugas atau juga menulis. Menulis apa saja. Oh, ya, aku lupa memberitahu kalian kalau Junda juga berprofesi sebagai jurnalis. Artikelnya tentang kesehatan remaja sering diterbitkan majalah nasional. Empat cerpennya yang ditulis di folderku juga telah terbit dalam kumpulan cerpen para penulis muda. Apakah sekarang dia akan membuka Word yang terprogram dalam organ tubuhku?
 
Waktu berjalan sekian menit sampai tak ku sadari ada teman Junda yang datang menemuinya. Aku ter-shut down.
***
 “Aduuh. Maaf Jun, aku terlambat. Rico terlambat menjemputku dari M-Studio,” sesosok perempuan bertubuh tinggi menghampiri Junda yang duduk di kursi kayu panjang dekat air mancur. Penampilannya sangat berbeda dengan Junda.  Sepatu high heel, T-shirt ketat, celana jeans, juga rambut yang dibiarkan tergerai. Rapi, namun dandanannya terkesan menor.
 
“Oh.. Ya, tak mengapa. Jadi kamu benar-benar membutuhkan ini sekarang?” jawab Junda, melirik sebentar ke arah si Biru.
 
Kenny, nama perempuan itu, kawan satu jurusan mengangguk. Binar matanya menyorotkan keagresifan. Namun air mukanya nampak berlawanan, dibuat sepolos mungkin.“Ya, benar sekali. Laptop yang dibelikan papaku di Singapur rusak berat. Monitornya retak. Aku membutuhkan laptopmu untuk mengerjakan tugas Pak Herman. Tahu sendiri bukan jadwal pemotretanku di majalah fashion sangat padat? Tak mungkin juga aku berpanas-panas ria pergi ke rental. Aku juga ingin menganalisis masalah dengan tenang di rumah. Tak perlu diketikkan orang lain.”
 
 “Baiklah, silahkan kamu bawa. Tetapi usahakan dua hari lagi kamu kembalikan, ya?” Junda terlihat iba. Berharap anak pejabat DPRD kota ini tertolong. Kenny adalah mahasiswi cerdas. Buktinya dia bisa masuk universitas tanpa tes.
 
“Tenang saja. Aku hanya membutuhkan waktu satu hari untuk menyelesaikan semuanya.” Sahut Kenny cepat.  Lalu melirik arloji di tangan kirinya. “Sekali lagi maaf. Sekarang aku harus cepat pulang. Lebih baik ku kerjakan tugas itu sekarang.” Pamit Kenny. 
 
“Oh.. Ya, silahkan. Aku juga ada kegiatan di kampus.”
 
“Baiklah. Err..Assalamu’alaikum..” Ujar Kenny gagap.
 
“Wa’alaikum salam..”
 
Berlalulah Kenny, sambil membawa si Biru yang telah berada di tas mahal miliknya.
***
Namaku si Biru.
 
Huah.. Lama sekali aku tertidur. Mungkin aku akan mengabdi lagi pada jalan hidup Junda. Ayo, Jun. Lekaslah, kerjakan proposal lagi, atau operasikan Word untuk tugas biologimu. Aku takkan menyesal menjadi laptop mahasiswi baik seperti  kamu.
 
Perlahan sisi badanku terbuka. Hey! Tunggu. Ini bukan tangan Junda. Tangannya selalu pelan menyalakan aku. Saat ini badanku kesakitan karena begitu kuatnya dia membuka sisi monitor. Sudut kemiringanku juga tak pernah seekstrem ini. Sakkiiit!
 
Perlahan crystal eyeku mendeteksi sesosok manusia. Ya, ini bukan Junda. Tetapi Kenny, majikan Cerry, si laptop berwarna ungu. Semoga aku tak diapa-apakan olehnya. Karena menurut penuturan Cerry, Kenny sangat sembrono dan berhati keras.
 
Proses booting selesai. Tapi, apa-apaan ini? Membuka foldernya banyak sekali. Flashdisk harus dibaca segera. Semua folder ini milik Junda.
 
Dengan cepat dia mengklik folder E yang berjudul “TuGas Pak HerMaN”. Aku menjadi cemas karenanya. Bukankah ini tugas yang harus dikumpulkan besok lusa? Jangan-jangan dia mau menjiplak tugas majikanku?
 
Benar saja. Folder ini langsung saja di copy pada flashdisk Kenny. Ingin rasanya aku berkata jangan. Junda telah menyelesaikan tugas ini semalam suntuk. Sambil menunggu waktu sahur puasa sunnahnya. Huh, benar kata Cerry, dia bukan mahasiswi cerdas seperti yang orang bilang.
 
“Ku harap kau baik-baik saja dengan perbuatanku ini. Mudah sekali menipu orang setolol kamu. Sok alim, kuno pula. Lihat aku, lihat kemampuanku menarik hati para adam. Tak usah belajar keras untuk mendapat nilai tinggi, toh papa selalu siap membiayai sogokanku seperti tes pertama dulu. Aku juga tak perlu mengerjakan tugas karena memiliki trik ini. Cukup mengumpulkan lebih awal. Hm.. yang penting penampilan dan karir. Agama dan otak nomor buncitlah....” perkataannya itu benar-benar membuatku ingin hang. Atau mematikan SO secara tiba-tiba. Busuk.
 
Aku sudah menyangka Kenny tidak sebaik yang orang-orang sangka, seperti yang menjadi penilaian Junda. Kenny tidak murni sebagai mahasiswi cerdas.
 
Kenny lalu menyalakan Cerry. Kondisinya masih bagus. Sangat berkilau. Ingin cepat-cepat ku sapa dia, berbagi cerita.
 
“Hai,” pekikku.
 
Cerry memandangku. Heran. “Kenapa kau bisa ada di sini, si Biru?”
 
“Kenny telah mengcopy folder tugas Junda. Betapa jahatnya dia.” Jawabku sendu.
 
“Hmmh.. sabar sajalah si Biru. Ini tidak seberapa. Bandingkan dengan aku yang sudah muak menemani hari-harinya selama ini.”
 
“Tidak seberapa, maksudmu?” tanyaku penasaran.
 
“Hmh.. Aku tahu, Junda adalah anak manusia yang baik. Aku sering mendengarkan cerita teman-teman lain tentang kelebihan majikanmu  itu. Cerdas, pandai mengatur waktu, juga berperilaku yang baik. Aku kesal dengan perbuatan Kenny. Dia selalu membantingku saat stres. Dia tak meghiraukan jerih payah orang tuanya. Webcamku dipergunakan untuk berpacaran saja. Memakai pakaian seronok pula. Folder-folderku juga tak bermutu. Tak ada satupun tugas yang menjadi karyanya. Semua hasil plagiat. Kamu tahu, malam hari aku masih menyala, namun harus ku telan pil pahit Kenny mengoperasikanku dalam keadaan mabuk. Aku menjadi benda yang tak berguna.”
 
Aku terperangah. Sebegitukah?
 
“Lalu, bagaimana dengan Junda? Tak mungkin ku biarkan majikanku teraniaya. Bisa saja dia bermasalah dengan Pak Herman nanti.
 
Cerry kembali menatapku. “Maafkan aku. Tak ada yang bisa ku lakukan.”
 
Kalau aku menjadi manusia, aku akan menangis. Menangis sekeras-kerasnya. Aku juga akan memberitahu Junda agar tak meminjamkanku lagi pada Kenny ini.  
 
Namaku si Biru.
 
Tuhan Maha Adil. Meskipun harus berurusan dengan dosen karena kesamaan tugas mereka, akhirnya Junda memenangkan “kasus” ini. Kenny tidak bisa melawan kebijaksanaan Pak Herman. Huah! Ku harap mahasiswa Indonesia tidak seperti Kenny ini.  Apapun strata sosial atau jabatan yang mereka miliki.
***

Jumat, 17 Agustus 2012

setelah berharap
lantas terkabul
kini merasa terbatasi?

ego. lagi-lagi ego


If stories come to you, care for them. And learn to give them away
where they are needed. Sometimes a person needs a story more than food
to stay alive. BARRY LOPEZ

Merdeka

Dilahirkan menjadi seorang Warga Negara Indonesia adalah sebuah pilihan. Ya, awalnya adalah takdir. Kan, ketika lahir, kita tidak bisa menentukan mau dilahirkan dimana. Bisa jadi orang tua kita turut menentukan. But it is almost impossible to reach another country, jika kedua orang tua sama-sama asli berbangsa tanah air.

Anggun. Dia adalah wanita Indonesia, awal mulanya. Kedua orang tuanya adalah seniman, asli Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berpindah kewarganegaraan : Perancis. Meskipun demikian, darah dan tulangnya tetap Indonesia (menurut penuturannya di Wikipedia). Perkara ganti WNI bukanlah hal yang mudah bagi saya, maka saya memilih stay di sini. Hehe.

Baiklah. Karena saya sudah 19 tahun, dan sudah mempelajari sedikiit tentang epistimologi, saya akan mengupas kemerdekaan dari sudut pandang saya sendiri. 

Lagi-lagi, saya tidak bisa menjadi saksi sejarah ketika Indonesia merdeka. Pas saya sudah lahir, jluk, ini looh negara Indonesia itu. Ketika saya tumbuh dan berkembang, internalisasi pendidikan kewarganegaraanlah yang membuat saya semakin mengenal dengan negara Indonesia ini. Bagaimanakah suasananya secara riil, perang itu seperti apa, saya tidak bisa merasakannya. Jadinya, saya hanya bisa menyemarakkan saja. Mendukung. Tidak kurang dan tidak lebih.

Sekarang, masih menyemarakkan? Ya, masih. Dengan menonton televisi. Tidak dengan perlombaan. Sekarang lagi puasa. Dan tak ada lomba macam balap karung atau lomba kelereng. Bedanya, 250juta penduduk Indonesia ini, yang terkoordinir dalam sebuah wadah supeer besar bernama pemerintah ini, saya sudah mulai nimbrung, malah akan ikut andil menjadi seorang pekerja di dalamnya. It means, saya harus turut bela negara. Namun, bela negara yang seperti apa? Seperti koruptor?

O, tentu tidak dong :) bela negara itu, simpelnya, dari kompilasi aturan islam. Maksudnya, negara memang sudah didirikan secara historis, dan kita tidak bisa kembali ke sana. Negara dipimpin oleh pimpinan yang dipilih langsung oleh rakyat beserta jajarannya bernama ulil amri. Sepanjang ulil amrinya nggak nyleneh, ya justru harus respek, harus taat. Peraturan kan dibuat untuk melindungi rakyatnya juga. Hidup yang sekali ini nggak ada salahnya dimanfaatin buat negara. Sebaik-baik manusia adl yang berkontribusi bagi sesamanya.

Dengan demikian, dengan menebak-nebak umur yang nggak bakalan sampai seribu tahun (untuk membangun peradaban bangsa), kiranya sudah bagus jika merayakan kemerdekaan dimulai dari diri sendiri. Merdeka untuk memilih, merdeka untuk mengutarakan pendapat, intinya mah, merdeka untuk tidak bergantung pada orang lain :-)D dan juga merdeka untuk tetap menjaga kemerdekaan. Ya, sangat susah jika harus memberangus penjajahan terselubung dari luar yang sudah terkapitalisasi (Bapak Menteri Koperasi, ITB, 2012). Meski demikian, semangat berdikari nggak boleh luntur.

Selamat ulang tahun, Indonesiaku.
67 tahun. Tambah sepuh. Tambah berkualitas yaaaw ^^

Pasuruan, 16 Agustus 2012

Maki


Maki yang terucap
Maki yang terdengar
Kadangkala takkan luntur dalam sehari
Jejaknya membekas dalam putaran bulan, bahkan matahari
Hanya karena kaukedepankan kemauanmu sendiri

Tetapi tenang saja,
Kau takkan mati karena maki
Karena mati seutuhnya genggaman-Nya
Maki-maki yang terkumpul di sudut-sudut gelap
Di rawa-rawa pengap
Biarkan saja berlalu
Seperti angin
Semilir
Jejaknya bahkan menyejukkanmu

Karena Ia tidak tidur
Ia tahu cara terbaik untuk menghadiahkanmu yang lebih indah dari yang kaubayangkan
Pandangi saja Ia
Kau takkan dapat maki
Malah terberkati :)

16 Agustus 2012

Jumat, 10 Agustus 2012

WIFI-an di Stasiun

Hai, teman :)

Kalau postingan-postingan yang lalu saya ngebahas tentang apa aja yang ada di stasiun (salah satunya adalah seni musik di sana), kali ini ada yang beda lagi : WIFI gratis di stasiun !

Eh, jangan bercanda, dong!?

Enggak, ah. Saya nggak bercanda. Suer. Bener :). Lokasinya tetap di Stasiun Bandung, Jawa Barat. Saudara-saudara yang punya laptop dan bawa chargernya bisa menikmati jaringan internet di sini. Kecepatannya bisa mencapai 26Mbps looh. Kalah beuud deh koneksi modem yang saya pakai di kosan. Hehe. Pilih aja yang IM2-KAI : tanpa username tanpa password.

Selain itu, sebenarnya bagi yang ponselnya lagi lowbat bisa nge-charge gratis di sini. Lumayan menghemat jika dibandingkan dengan jasa charge toko di stasiun yang mencapai 3000/30 menit. Stop kontak bisa ditemukan di dekat Station Master Room (Ruang Kepala Stasiun). Sedikit ndelosor (duduk tanpa alas) tapi tak mengapa. Because the connection is very well. Yeah, seenggaknya cocok bangetlah sama agan-agan yang backpacker :))

Any question? comment here.


Perpisahan (Bukan?)


Perpisahan
Awalnya tak kuseka air mata untuk perpisahan
Buat apa? Toh nanti, pikirku, akan kembali juga
Toh kita akan kembali tertawa, bersama, dan seperti semula

Perpisahan
Ini bukanlah perpisahan tak berujung (insyaallah)
Karena jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi

Perpisahan
Jika waktu mampu memudarkan rasa angkuh dalam hati
Dan menarik kemauan tuk mau
Aku bersyukur
Karena ini berarti tak serupa tragedi
Yang berdarah-darah, berlinangan air mata, dan hal-hal lainnya

Perpisahan
Terima kasih untuk dekap hangat dari kalian
Di sini, kutemukan juga teman-teman yang mau mengantarkan hasratku ke tempat-tempat idaman
Di sini, aku dibimbing oleh teman-teman yang mau menemaniku di kegelapan
Aku bahkan menemukan salah satu teman terbaik di sini
Yang kita tidak pernah bertemu sebelumnya
Namun pertolongan selalu menempa
Perpisahan
Yang kubenci tapi kini kurindu pada akhirnya

Perpisahan
Kami juga punya impian yang sama
Kami tak jauh berbeda
Meski hakikatnya kita sangat tak sama

Perpisahan
Terima kasih atas keramahtamahan
Dukungan, semangat, pujian, kritikan, candaan
Marilah kita puas-puaskan diri di kampung halaman
Rindu menderu-deru
Dahaga keluarga tak jemu-jemu
Sembari terus menyibak cahaya rembulan ramadhan
Semoga nyalamu tak padam, teman

Perpisahan
Semoga kita bertemu kembali :)


Selasa, 07 Agustus 2012

.... Dia menunggu di pelataran terminal yang lumayan sepi. Yang ada adalah para kondektur bus patas yang juga menawarkan jasa mereka. Dia memilih duduk di antara pedagang kecil yang sedang duduk santai menemani anaknya yang tertidur. Satu, dua, tiga. Satu bus pun belum terisi juga. Sementara dia sibuk berharap, dia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah. Minggu kali ini lebih penat dari biasanya. 
(2012-2013)

 

A POEM WITHOUT TITLE

you may suffer in such condition which make you asking,
"what is it called?"

may be it's a gift
then you must say, "alhamdulillaah"

or it is actually the proof from the Creator to be closer to the Creator.
that asking something again and again will never be useless!
you just need the time
then you must have something better

it's the challenge also
are you ready to still go or
stuck?
like social media, may be :p
then you can choose which one will be chosen

in conclusion,
one thing can be meant some things :D

thank you

Minggu, 05 Agustus 2012

Sudut Pandang

         Terkadang kita memandang seseorang dengan penilaian MUTLAK dari diri sendiri. Padahal sebenarnya yang kayak gitu itu nggak bagus. Apalagi kalau yang dinilai jauuh (dan sangat jauh) lebih baik dari diri sendiri.

         Getting many points seems to be so easy. Padahal mungkin perjuangannya nggak mudah. Benar-benar nggak mudah. Bahkan jauh lebih sulit. Galau, sedih, senang, sudah biasa. Sangat tawar mungkin. Sudah kebal. Sakit, apalagi. Terlihat hanya kamu satu-satunya yang menderita padahal masih BANYAK yang jauh lebih sakit. Berjuang. Nggak cengeng.

          Ah, jadi malu. Dengan wajahnya yang bersih. Dengan sikapnya yang ramah. Dengan nggak mau dicium punggung tangannya. Dengan usahanya yang kian pesat. Dengan anak-anak. Dengan perannya menjadi ibu. Dengan tanpa alasan-alasan lainnya. 

          Sudut pandang itu kayak orang makan buah. Buah yang dimakan itu sudut pandang sendiri. Jeruk misalnya. Kalau jeruk itu dimakan setiap hari, terus-terusan, pasti membosankan. Flat. Coba kalau makan apel, sesekali sirsak, sesekali melon.

         Bukankah perbedaan itu indah? apalagi ada banyaaak banget hal baik yang bisa kita contoh dari sana.


Suatu Sore

Macet. Panas. Orang-orang berdesak-desakan.Tak ada yang mau kompromi
Jalan mengular, jalan lurus, jalan berbelok-belok
Diiringi teriakan para pedagang, sesekali juga penjual minuman
Yang pengen jalan kehimpit badan orang, yang pengen keluar, menepi harus bersabar
Pasar
Pertanyaannya, mengapakah bisa sesak sedemikian rupa?

Tapi inilah faktanya :)
manusia tidak hidup sendirian,
siklus ini mungkin takkan berubah
karena seperti inilah kehidupan
tidak bisa protes karena diam-diam kau juga melakukan hal yang sama



seni musik di stasiun

Banyak hal yang bisa ditemukan ketika berada di stasiun, khususnya Stasiun Bandung. Salah satu hal yang menarik adalah mendengarkan pagelaran musik yang berada di ujung pintu keluar sebelah utara. Aa, bagiku, nggak kalah keren dengan konser-konser band anak muda yang ngerock.

Sembari menunggu KRD (Kereta Rel Diesel) atau kereta lokal, kamu bisa duduk santai di depan sebuah grup tanpa panggung berkayu. Tanpa diminta, mereka pun menyanyi. Tapi, tahu bedanya kan, mana yang biasanya bernyanyi asal dapat uang dan bernyanyi dengan sepenuh hati? Grup ini memegang posisi kedua. Sang vokalis menyayi dengan baguus. Isi lagunya tuh nyampe.

Anehnya, perempuan berumur 19 tahun yang mendengarkan (saya maksudnya :p) bisa nggak protes sama lagu jadul
"Sepanjang jalan kenangan...." 

Perempuan itu memang memilih menunggu kereta ekonomi yang seribu perak daripada kereta patas yang lima ribu. Entah, mungkin lagi pengen hemat dan pengen nyelonjorin kaki di deretan kursi penunggu.

Awalnya dia mendengarkan dengan sedikit abai. Akhirnya, dia terhenyak sendiri dengan pagelaran itu. Udah suara bagus, no excuse pula. Apa pasal? They, who were performing music beautifully couldn't see the world clearly. Menengok pada sang gitaris yang nggak sumbang memetik nada, juga dengan pianis yang memainkan kunci secara sempurna, dan penabuh gendang yang kelihatan sekali menikmati aktivitasnya. Vokalis? jangan ditanya. Uuuh. Sebuah tamparan kecil bagi yang kurang bersyukur.

"Apakah ada yang ingin request?" tanya sang vokalis. Lantas, seorang lelaki menghampirinya (bisa ketebak juga sih, soalnya dianya menghayati banget lagu itu. hehe). Lelaki itu berbisik, lalu para pemain mencoba-coba dulu.

Dan, taraa! sebuah lagu sukses bikin melayang. Angin senja nampak lebih halus dari biasa.
"Cinta, akan kuberikan bagi hatimu yang damai...."
Perempuan itu nggak malu-malu buat ikut nyanyi.

Masih. Bagus.

Lagu itu tidak terdengar sampai akhir. Soalnya KRD keburu datang.

But it's okay. Pokoknyah, recommended beud deh untuk yang satu ini. 
If you visit Bandung by the train, please take a rest for a while and listen to this marvelous song.
:D



Pengikut