Sabtu, 18 Agustus 2012

Namaku si Biru

Namaku si Biru

Bukan cinta atau Bento. Hehe

Anyway, ini postingan jadul dari blog lama yang sudah tak terjamah ID beserta passwordnya

Karena ini zaman baheula, tentu kekurangannya ada (sampai sekarang pun iya). Tidak diedit karena dengan cara inilah tahu apa aja kekurangannya.

Eh, kebetulan juga ada nama Kenny, itu nama salah seorang temanku, hihi. Entah dulu terinspirasi olehnya atau ngarang udah lupa
 
Namun aku suka aja bahasanya :P

Selamat membaca!

***

6 Maret 2011

Sebenernya cerpen ini udah lumayan lama. Ceritanya waktu itu lagi ikutan lomba cerpen yang diadakan www.mahasiswa.com.

Yap, begitulah. Alhamdulillah akhirnya menang sebagai Juara II.


Karena ada yang memprovokasi saya supaya mempublish cerpen ini *makasih banyak ya Mbah -,-* ya sudah..

itung-itung sharing hobi juga.


Oh ya. Buat Tambahan. Nama tokoh utamanya ini asli lho...!! hehe. Maksudnya emang bener ada. Mbak yang namanya tercantum di cerpen ini emang yang udah banyak membantu sy waktu nulis.. now she is studying at Gajah Mada University. Thanks a lot, Mbak ^^




NAMAKU SI BIRU


Namaku si Biru.
 
 Begitulah Junda, pemilikku memanggilku sejak dua bulan yang lalu. Hmm.. menurut kalian sosok apakah aku ini? Yang jelas, aku adalah benda elektronik yang terbuat dari bahan anti karat. Berbentuk balok, terdapat sisi yang dapat di buka, dan terdapat layar berukuran sedang di dalamnya. Dengan tuts-tuts keyboard berjumlah delapan puluh enam, kinerjaku sempurna sudah. Sering aku bertemu dengan teman-teman di perpustakaan kampus, taman kota, atau cafe-cafe di mall. Kehadiran kami yang sangat dibutuhkan menjadi pertimbangan para mahasiswa untuk memiliki benda seperti aku ini, termasuk Junda. Ya, benar. Aku adalah laptop, berwarna biru tepatnya. Oleh karena itu Junda memanggilku si Biru. 
 
Sudah menjadi tugasku untuk mempekerjakan sistem operasi agar aktif, menampilkan tampilan word untuk tugas paper, dan tak luput dari aktifitas internet. Aku bersyukur menjadi kebutuhan primer Junda, dan dapat menemani kesehariannya. Dia adalah mahasiswi semester dua prodi biologi yang pandai. Tak pernah ada kata absen atau bolos mata kuliah, selalu tepat waktu mengerjakan tugas, dan dapat memanfaatkanku dengan sebaik-baiknya. Meski ada banyak film di folder E-ku, dia tidak mau menyentuh ikon judul film sama sekali saat ada tugas. Dan meskipun sinyal wi-fi penuh lima undakan, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bercakap-cakap tak jelas di dunia maya. Aih, intinya Junda adalah mahasiswi berkualitas. Tak hanya segi intelektualitas, tetapi kepribadiannya. Selalu cermat dalam keuangan, dan tak pernah mempertontonkan aurat. Tak pernah bergaul terlalu bebas, juga tak pernah bergaya borjuis seperti yang dianut mahasiswa obsesi selebritis. Tahu sendiri, bukan? masih ada mahasiswa yang suka berkedok kaya padahal dia telah menyakiti orang tua secara perlahan, menghabiskan uang. 
 
Mentari telah kembali ke peraduan. Gemintang yang berkilauan nampak redup ditingkahi lampu-lampu metropolitan. Qira’ah Ar-Rahman yang disetel di masjid terdengar merdu. Namun alunan sucinya dikalahkan dengan suara televisi yang dinyalakan di rumah-rumah.
 
Junda masih menekan tuts-tuts keyboard di tubuhku, rupanya dia sedang menulis proposal.
 
“Jun, apakah perusahaan itu akan menerima proposal kita? LSM saja ditolak mentah-mentah. Fadhil sudah menjadi korbannya,” ujar Rina, teman kosan Junda.
 
“Semoga saja, Dik Rina. Kalau ada tembusan dari rektor bisa memperkuat proposal kita. Kita juga mengundang pewarta berita. Lagipula, apa salahnya coba, organisasi kepenulisan kampus mengadakan festival sastra untuk anak-anak berkemampun luar biasa?” Junda menjawab dengan senyum. Lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
 
“Baiklah. Terserah kakak saja, lah.” 
 
Hmm.. Aku suka ini. Lihat, Junda telah menyelesaikan proposalnya. Efisien sekali waktunya. Hanya satu jam. 
 
Dengan tujuan mengoptimalkan potensi anak-anak istimewa, kami selaku pengurus Okus –Organisasi Kepenulisan Kampus- berencana mengadakan festival sastra yang akan diikuti siswa SMPLB se-kota kabupaten. Oleh karena itu, diharapkan dengan sangat kontribusi perusahaan untuk mensponsori acara kami.”
 
Itu adalah kutipannya. Kalian tahu, selain aktif di organisasi kepenulisan, Junda juga mengikuti kegiatan mahasiswa yang bermanfaat seperti ini. Tetapi kewajiban utamanya untuk kuliah tak dia tinggalkan. Buktinya IPK pertama sampai sekarang tak pernah lepas dari angka 3,5. 
 
Namaku si Biru.
 
Angin bertiup semilir. Suhu kamar kosan Junda tidak sesejuk ini. Hm..mungkin ini yang disebut taman kota. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat ini. Untuk mencari referensi tugas atau juga menulis. Menulis apa saja. Oh, ya, aku lupa memberitahu kalian kalau Junda juga berprofesi sebagai jurnalis. Artikelnya tentang kesehatan remaja sering diterbitkan majalah nasional. Empat cerpennya yang ditulis di folderku juga telah terbit dalam kumpulan cerpen para penulis muda. Apakah sekarang dia akan membuka Word yang terprogram dalam organ tubuhku?
 
Waktu berjalan sekian menit sampai tak ku sadari ada teman Junda yang datang menemuinya. Aku ter-shut down.
***
 “Aduuh. Maaf Jun, aku terlambat. Rico terlambat menjemputku dari M-Studio,” sesosok perempuan bertubuh tinggi menghampiri Junda yang duduk di kursi kayu panjang dekat air mancur. Penampilannya sangat berbeda dengan Junda.  Sepatu high heel, T-shirt ketat, celana jeans, juga rambut yang dibiarkan tergerai. Rapi, namun dandanannya terkesan menor.
 
“Oh.. Ya, tak mengapa. Jadi kamu benar-benar membutuhkan ini sekarang?” jawab Junda, melirik sebentar ke arah si Biru.
 
Kenny, nama perempuan itu, kawan satu jurusan mengangguk. Binar matanya menyorotkan keagresifan. Namun air mukanya nampak berlawanan, dibuat sepolos mungkin.“Ya, benar sekali. Laptop yang dibelikan papaku di Singapur rusak berat. Monitornya retak. Aku membutuhkan laptopmu untuk mengerjakan tugas Pak Herman. Tahu sendiri bukan jadwal pemotretanku di majalah fashion sangat padat? Tak mungkin juga aku berpanas-panas ria pergi ke rental. Aku juga ingin menganalisis masalah dengan tenang di rumah. Tak perlu diketikkan orang lain.”
 
 “Baiklah, silahkan kamu bawa. Tetapi usahakan dua hari lagi kamu kembalikan, ya?” Junda terlihat iba. Berharap anak pejabat DPRD kota ini tertolong. Kenny adalah mahasiswi cerdas. Buktinya dia bisa masuk universitas tanpa tes.
 
“Tenang saja. Aku hanya membutuhkan waktu satu hari untuk menyelesaikan semuanya.” Sahut Kenny cepat.  Lalu melirik arloji di tangan kirinya. “Sekali lagi maaf. Sekarang aku harus cepat pulang. Lebih baik ku kerjakan tugas itu sekarang.” Pamit Kenny. 
 
“Oh.. Ya, silahkan. Aku juga ada kegiatan di kampus.”
 
“Baiklah. Err..Assalamu’alaikum..” Ujar Kenny gagap.
 
“Wa’alaikum salam..”
 
Berlalulah Kenny, sambil membawa si Biru yang telah berada di tas mahal miliknya.
***
Namaku si Biru.
 
Huah.. Lama sekali aku tertidur. Mungkin aku akan mengabdi lagi pada jalan hidup Junda. Ayo, Jun. Lekaslah, kerjakan proposal lagi, atau operasikan Word untuk tugas biologimu. Aku takkan menyesal menjadi laptop mahasiswi baik seperti  kamu.
 
Perlahan sisi badanku terbuka. Hey! Tunggu. Ini bukan tangan Junda. Tangannya selalu pelan menyalakan aku. Saat ini badanku kesakitan karena begitu kuatnya dia membuka sisi monitor. Sudut kemiringanku juga tak pernah seekstrem ini. Sakkiiit!
 
Perlahan crystal eyeku mendeteksi sesosok manusia. Ya, ini bukan Junda. Tetapi Kenny, majikan Cerry, si laptop berwarna ungu. Semoga aku tak diapa-apakan olehnya. Karena menurut penuturan Cerry, Kenny sangat sembrono dan berhati keras.
 
Proses booting selesai. Tapi, apa-apaan ini? Membuka foldernya banyak sekali. Flashdisk harus dibaca segera. Semua folder ini milik Junda.
 
Dengan cepat dia mengklik folder E yang berjudul “TuGas Pak HerMaN”. Aku menjadi cemas karenanya. Bukankah ini tugas yang harus dikumpulkan besok lusa? Jangan-jangan dia mau menjiplak tugas majikanku?
 
Benar saja. Folder ini langsung saja di copy pada flashdisk Kenny. Ingin rasanya aku berkata jangan. Junda telah menyelesaikan tugas ini semalam suntuk. Sambil menunggu waktu sahur puasa sunnahnya. Huh, benar kata Cerry, dia bukan mahasiswi cerdas seperti yang orang bilang.
 
“Ku harap kau baik-baik saja dengan perbuatanku ini. Mudah sekali menipu orang setolol kamu. Sok alim, kuno pula. Lihat aku, lihat kemampuanku menarik hati para adam. Tak usah belajar keras untuk mendapat nilai tinggi, toh papa selalu siap membiayai sogokanku seperti tes pertama dulu. Aku juga tak perlu mengerjakan tugas karena memiliki trik ini. Cukup mengumpulkan lebih awal. Hm.. yang penting penampilan dan karir. Agama dan otak nomor buncitlah....” perkataannya itu benar-benar membuatku ingin hang. Atau mematikan SO secara tiba-tiba. Busuk.
 
Aku sudah menyangka Kenny tidak sebaik yang orang-orang sangka, seperti yang menjadi penilaian Junda. Kenny tidak murni sebagai mahasiswi cerdas.
 
Kenny lalu menyalakan Cerry. Kondisinya masih bagus. Sangat berkilau. Ingin cepat-cepat ku sapa dia, berbagi cerita.
 
“Hai,” pekikku.
 
Cerry memandangku. Heran. “Kenapa kau bisa ada di sini, si Biru?”
 
“Kenny telah mengcopy folder tugas Junda. Betapa jahatnya dia.” Jawabku sendu.
 
“Hmmh.. sabar sajalah si Biru. Ini tidak seberapa. Bandingkan dengan aku yang sudah muak menemani hari-harinya selama ini.”
 
“Tidak seberapa, maksudmu?” tanyaku penasaran.
 
“Hmh.. Aku tahu, Junda adalah anak manusia yang baik. Aku sering mendengarkan cerita teman-teman lain tentang kelebihan majikanmu  itu. Cerdas, pandai mengatur waktu, juga berperilaku yang baik. Aku kesal dengan perbuatan Kenny. Dia selalu membantingku saat stres. Dia tak meghiraukan jerih payah orang tuanya. Webcamku dipergunakan untuk berpacaran saja. Memakai pakaian seronok pula. Folder-folderku juga tak bermutu. Tak ada satupun tugas yang menjadi karyanya. Semua hasil plagiat. Kamu tahu, malam hari aku masih menyala, namun harus ku telan pil pahit Kenny mengoperasikanku dalam keadaan mabuk. Aku menjadi benda yang tak berguna.”
 
Aku terperangah. Sebegitukah?
 
“Lalu, bagaimana dengan Junda? Tak mungkin ku biarkan majikanku teraniaya. Bisa saja dia bermasalah dengan Pak Herman nanti.
 
Cerry kembali menatapku. “Maafkan aku. Tak ada yang bisa ku lakukan.”
 
Kalau aku menjadi manusia, aku akan menangis. Menangis sekeras-kerasnya. Aku juga akan memberitahu Junda agar tak meminjamkanku lagi pada Kenny ini.  
 
Namaku si Biru.
 
Tuhan Maha Adil. Meskipun harus berurusan dengan dosen karena kesamaan tugas mereka, akhirnya Junda memenangkan “kasus” ini. Kenny tidak bisa melawan kebijaksanaan Pak Herman. Huah! Ku harap mahasiswa Indonesia tidak seperti Kenny ini.  Apapun strata sosial atau jabatan yang mereka miliki.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut