Selasa, 17 Februari 2015

DOA



Siang yang terik. Sudah waktunya istirahat. Perut mulai terasa lapar. Saya dan ketiga teman memutuskan untuk ke luar mencari makan. Biasanya sih, saya memilih yang dekat-dekat saja; di dekat kosan atau di kantin. Biar lebih lama juga istirahatnya. Berhubung ada perlu juga, ya sudah lah. Let we go. Dari kantor, kami berempat naik motor. Jarak tempat makan nggak jauh, mungkin bisa ditempuh lima sampai sepuluh menitan sahaja.

Tempat ini belum pernah saya masuki. Paling banter hanya numpang lewat (dengan kondisi toko tutup) dan melihat selebaran yang dipasang di depan. Dengar-dengar sih, lumayan. Soalnya, kalau kantor punya acara, pesan makannya di sini. Asyik. Di warung makan bergaya peresmanan ini –alias njupuk-njupuk dewe atau ambil-ambil sendiri—, lauk-lauknya terhidang menggoda. Ada tempe bacem, urap-urap, sayur bening, ikan bakar, ayam, daging sapi olahan, sampai lalapan segar. Oke, tentu saya tidak heran karena memang lazim sekali ada lalapan di warung makan di tanah sunda.

Saya pun mengambil piring, menyendok nasi, memilih lauk. Lauk pilihan saya jatuh pada ikan bakar berukuran lumayan dengan lumuran bumbu hitam. Hmm. Sepertinya ada bumbu jahenya, deh. Soalnya harum-harum gitu wanginya :D.

Kami berempat berhadap-hadapan. Ruang makan tidak besar, tidak pula kecil. Setelah cuci tangan, makanlah kami. Everything goes well. Acara ini diselingi dengan obrolan tentang postingan di media sosial, harga kosan di sekitar situ (soalnya bangunan kosan tersebut tinggi dengan fasilitas wah), dan sebagainya, dan sebagainya.

Oke, terlepas dari perbincangan, saya menikmati hidangan makan siang hari ini. Lapar, saudara-saudara. Apalagi dengan pesanan jus alpukat yang hmm, kayaknya seger banget. Piring saya habis, eh, nasinya habis, beserta lauknya. Tinggal tulang belulang saja Hehehe.
           
         Ada satu titik di mana saya merasa malu, lupa, dan kesindir. Di tengah makan tadi, ada seorang ibu dengan dua anak berseragam sekolah. Mereka duduk tak jauh dari posisi saya. Mereka juga sama, mengambil nasi dan lauk. Hidangan sudah tersaji. Tapi kok, tapi kok, mereka nggak langsung makan?
        
       Oh. Itu dia. Karena mereka berdoa. Berdoanya nggak sebentar. Terlihat khusyu’. Duh, mereka berdua masih anak-anak, belum sampai SMP. Saya jadi malu. Tadi itu saya sudah berdoa belum, yaa? Kalaupun berdoa, sudah khusyu’ belum, yaa? Setiap saat sudah membiasakan belum, ya? Agama saya mengajarkan basmalah, juga dengan doa “Allaahumma baariklana dst…”. Masalahnya, apakah doa itu sudah dilaksanakan dengan tulus? Paling nggak diri ini bersyukur masih bisa makan beratus butir nasi. Gimana dengan doa setelah makannya? :(
          
          Jaman TK dulu, pasti ada jeda waktu untuk berdoa bersama. Sayangnya bukan anak TK lagi *sigh*.

            Alasan paling klasik saat nggak berdoa adalah lupa. Lupa karena buru-buru. Lupa karena yang dimakan sedikit. Lupa karena yang dimakan hanya sebutir permen. Berarti, harus lebih dibiasakan lagi, nih, berdoanya.

            Jadi teringat candaan seorang penulis. Dia makan dan minum. Saat makan, dia tidak 
berdoa. Saat minum, malah berdoa. Lalu ditanya, kenapa tidak berdoa? Biar setannya cegukan karena habis makan langsung didoain :p

            Jam terus berputar. Saya mulai ketar-ketir sekarang, pengin balik ngantor. Selesai makan, mampir ke tempat lain sebentar, kami pun pulang. Kembali ke rutinitas lagi.

Makananya tadi sudah bayar? Sudah doong …. :). Ternyata lumayan, ya, ikannya. Nasi plus tempe bacem dua potong plus ikan plus jus alpukat dihargai Rp21 ribu *otak langsung membandingkan dengan harga makan per bungkus a la anak kosan yang bisa sampai 4ribu saja*.

            Saya berharap kapan-kapan bisa ke sana lagi. Mm, ketemu adik-adik imut itu lagi. Kapan-kapan yang belum pasti kapan. Yang pasti, saya dapat pelajaran. Saya kembali diingatkan, untuk berdoa sebelum makan. Thank you, fellas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut