Senin, 07 April 2014

Pertemuan di Tengah Hujan

I
Aku duduk di beranda rumah ditemani emak. Anak-anak tetangga berkumpul di depan halaman rumahnya yang luas. Mereka bermain jemblong singit. Salah satu dari mereka menangis karena harus jaga terus. Akhirnya ada yang mengalah, hingga satu per satu pulang karena hujan.  Halaman rumah jadi sepi. Aku dan Emak masuk ke dalam rumah.
 “Ngomong-ngomong, teman mondok kamu dulu itu mau menikah lo, le? Syafi’i namanya.” Kata emak membuka percakapan. Topik yang sama selama satu minggu. Mungkin juga sama untuk mingu depan.
“Iya. Sudah tahu kok, Bu.” Jawabku asal.
“Kamu kapan nyusul?”

Kugaruk-garuk kepala yang tak gatal. Pertanyaan ini lagi. Emak, aku sudah berusaha untuk mendapatkan belahan jiwa, mati-matian. Aku sudah bersosialisasi dengan banyak orang. Namun belum menemukan jawaban. Kata-kata “Emak nggak minta apa-apa”, dan “Emak cuma pengen kamu lekas punya cucu” telah cukup membuatku paham. Namun, namanya takdir, siapa yang bisa menebak? Aku bersosialiasi, bertemu banyak kawan. Pekan kemarin, aku telah berusaha mendekati Ning Mimin, guru satu madrasah. Sayang, telah ada seseorang yang memberi kepastian. Aku selalu merasa tak cocok dengan perempuan-perempuan yang pernah kutemui.
 “Doakan saja ya, Mak.” Aku tahu, tanpa diminta pun, emak telah merapal doa dalam tiap ba’da salatnya. Aku juga tak ingin terburu, meski batas waktu seakan terus memburuku. Umurku telah kepala tiga. Aku adalah seorang guru madrasah. Gajiku lumayan dengan kehadiran dua sapi di kandang rumahku. Aku sudah berusaha bersabar. Bertahun-tahun. Menanti dan menanti. Namun, aku juga manusia. Kesabaran ada batasnya. Apa harus bersabar terus-terusan?
Jendela basah oleh hujan. Hujan, mungkinkah aku bertemu dengannya, seseorang yang bernama entah di tengah derumu yang deras?
 *
II
Aku masih menatapnya. Mataku perih karena memandangi komputer butut ini terlalu lama. Ujian akhir tahun segera tiba. Dari sekian guru yang berada di sekolah dasar, hanya aku yang dipercaya sebagai penanggung jawab soal. Mengetik berlembar-lembar, lalu mencetaknya berpuluh kali lipat. Tiap lima belas menit, aku melayangkan pandangan pada tembok rumah yang bercat kuning lusuh agar mataku kembali segar. Setelah itu mengetik lagi, mengedit lagi.
 Pikiranku melayang. Kudengar dialog-dialog di sinetron kesukaan ibu.
“Kamu pergi terlalu lama. Aku telah menunggumu!” kata seorang wanita dengan suara serak tertahan. Pedih. Pasti wajahnya sedang muram.
“Maafkan aku..” diiringi dengan suara musik yang mengharu biru. Pasti lelaki di sinetron itu mengiba-iba, sampai berlutut di hadapannya.
Kutirukan dialog itu, dengan ekspresi yang lebih dramatis. Dengan bibir yang kumaju-majukan. Aku tertawa, menertawai nasib. Bisa ditebak, berates episode itu akan berakhir bahagia, selama-lamanya.
Apa aku sudah diracuni televisi? Novel-novel yang kubaca? Puisi-puisi yang bertebaran di toko-toko buku? Aku menggigit jari. Jauh di lubuk hati, aku juga ingin merajut kain-kain halus untuk kaus kaki anak-anakku kelak, lalu terkantuk-kantuk, nyaris tertidur. Setelah itu, aku benar-benar terlelap di atas kursi sofa yang empuk. Tengah malam, orang yang istimewa mengambilkanku selimut agar aku tak kedinginan dan digigit nyamuk. Intinya, aku tak mau hidup dalam kesendirian.
Aku juga ingin ada seseorang yang menggombal. Sok cuek, tapi bisa memberi kejutan ulang tahun, menyulap restoran berhiaskan lilin yang temaram.
Untuk sejuta kalinya aku berdoa, berdoa dalam kesepian. Doa yang sama dengan doa ibu, ayah, dan kedua kakakku. Semoga Tuhan memperkenalkanku dengan seseorang. Yang bisa menggandengku ke masa depan. Menyusuri jalanan berbunga, dan berbelanja di pasar tradisional. Entah kapan. Aku telah bertemu banyak orang, banyak teman. Namun hatiku belum berpaut.
Apa aku memang tidak ditakdirkan, Tuhan? Ah, berhenti berpikir negatif. Berhenti. Berhenti. Bukankah semuanya sudah tergores di langit maha mulia? Ya, kan?
Aku menanti. Tetap menanti. Berharap, meski sering nyaris putus asa.
Lalu, aku pun tertidur pulas di tengah hujan. Tak sadar, emak membalutkan selimut ke tubuhku.
*
I
Mimpi apa aku semalam? Bangun mendadak siang. Ban sepeda bocor. Menunggu diperbaiki selama setengah jam. Lalu tergesa menuju sekolah agar tidak terlambat mengajar.  Belum aku diminta mengayuh sepeda lagi ke dinas pendidikan, mengantar sebuah laporan.
Urusanku telah selesai. Aku mau pulang. Tenggorokanku panas. Cuaca terik. Dari dinas pendidikan ke madrasah, jarak cukup jauh. Syukurlah hujan mulai turun. Aku bisa rehat sebentar. Rintiknya semakin deras. Kupilih turun sebentar di sebuah halte di pinggir jalan.
Lama. Hujan ini terlalu lama. Perutku keroncongan. Tapi aku tak boleh terus mengeluh. Kususuri pemandangan. Bus antar kota yang melaju, mencipratkan sedikit air. Pengendara sepeda motor yang memakai jas hujan, dan sedikit anak SMA yang baru pulang sekolah.
Aku baru tersadar kalau aku tidak sendirian. Sesosok perempuan nyata duduk di sampingku. Dia sedang duduk tenang. Menanti angkutan datang atau dijemput? Entahlah. Sontak aku menggali ingatan, dia adalah ibu guru yang pernah kutemui pada sebuah pembinaan. Namanya Jannah. Ya, Jannah.
Terakhir aku bertemu dengannya, dia adalah sosok guru yang ramah, telaten, meski agak cerewet. Tetapi, lihatlah, mengapa aku baru menyadari kalau ia punya mata seteduh itu? Mengapa rasanya kakiku tak berpijak? Inikah jatuh cinta? Jatuh cinta setelah sekian lamanya menanti. Aku jatuh cinta di tengah hujan.
“Jannah..” dia menatapku. Aku memberinya sebuah senyuman. Dia terkaget. Kuperkenalkan diriku. Dia tersenyum, menertawai kelupaannya. Entah mengapa, firasatku mengatakan dialah yang akan menjadi piihan untuk masa depan.
Samar, harum bunga menyeruak di sekelilingku. Membuat suasana lebih hidup. Membuat hatiku lebih segar. Aku gembira tak terkira. Semoga ini jawaban dari Tuhan atas doa-doaku.
*
II
Mimpi apa aku semalam? Hari ini, anak-anak tak bisa diatur. Aku sampai kelelahan dibuatnya. Syukurlah aku bisa pulang. Tentu setelah mengambil fotokopian soal yang banyak dengan penantian super lama.
Bosan. Agak bosan juga duduk terus-terusan di halte ini. Terlebih hujan telah turun. Tapi aku merasa aku tak sendirian. Benar, ada seseorang memanggilku. Suara lelaki. Aku menoleh kepadanya. Dia mengenaliku! Dia menyebut namaku. Lamat, aku mengingat akan sosoknya. Dia guru madrasah yang pernah kutemui dalam sebuah pembinaan, namanya Akbar. Aku kagum akan semangatnya mengajari puluhan siswa berikut resolusi perpustakaannya. Pernah kuintip jemari tangan kanan dan kirinya, siapa tahu ada cincin tersemat di situ. Tidak ada. Tapi aku tidak terlalu yakin dulu. Kuanggap diriku masih seperti anak kecil.
Dia menanyaiku banyak hal. Tentang sekolah. Tentang rumah. Dan tentang keadaan. Tiba-tiba ada sebuah jawaban menyelusup ke dalam hatiku, suatu pertanda. Inilah orangnya. Kami pun bercakap-cakap. Lama.

Aku tersenyum. Rupanya aku jatuh cinta di tengah hujan. *

Footnote: Ini adalah cerpen yang pernah saya kirimkan ke redaksi koran di kota saya. Nggak diterima sih, alias ditolak #pukpukmumul :D. Tapi saya senang karena tulisan ini bisa selesai. Hore! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut