Senin, 12 Agustus 2013

MENIKMATI KUMPULAN CERITA SANG PUJANGGA



Dalam kesusasteraan Indonesia, keahlian berpuisi Sapardi Djoko Damono tidak perlu diragukan lagi. Bisa dipastikan, masyarakat akan terus mengaitkan namanya dengan puisi “Hujan Bulan Juni”. Ya, bait-bait ciptaannya itu seakan abadi, lekat pada ingatan pembaca.

Ada satu fakta menarik tentang SDD. Selain pandai menulis puisi, beliau ternyata piawai menulis cerita, esai, kolom, artikel, dan terjemahan berbagai karya asing. Mungkin sangat berkaitan dengan latar belakang akademis beliau sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya UI.

Baru-baru ini, terbit kumpulan cerita SDD berjudul “Malam Wabah” dan “Pada Suatu Hari Nanti.” Kedua judul tersebut sebenarnya dua buku yang digabungkan dalam satu edisi atau satu jilid. Mengapa? Gunanya untuk memisahkan tema yang ada.

“Malam Wabah” merupakan buku berisi 13 kisah, menghadirkan tokoh, alur, beserta konflik cerita –seperti ketentuan penulisan cerita pada umumnya—. Uniknya, para tokoh yang terlibat adalah benda-benda mati, dapat mengisahkan persoalan mereka. Mulai dari rumah-rumah, sepatu tua, hingga dedaunan jeruk purut di atas pagar rumah sepasang suami-istri.

Seperti cerita “Rumah-rumah”. Dikisahkan tiga rumah berdekatan dan bisa berbicara. Rumah Nomor 11 membenci diri sendiri karena tidak bisa memilih pemiliknya. Penghuni rumah pun selalu pulang dan pergi sekehendak hati (hal 2).

Rumah Nomor 13 selalu mengeluhkan keributan sepele keluarga Rumah Nomor 11. Pada dasarnya, dia sebal bukan karena keributan di sana, melainkan status “dikontrakkan” pada dirinya, tetapi belum berpenghuni.

“Saya tidak tahu Saudara siapa, tetapi saya sangat mengharapkan agar Saudara-lah yang nanti mengontrak saya. Saya suka kepada Saudara karena Saudara kadang-kadang membaca cerita pendek —oleh karena itu, tentunya melek huruf, sabar, cerdas, berpengetahuan luas, intelek, hanya saja tidak mampu membeli rumah” (hal 3).

Sementara itu, Rumah Nomor 15 sering berdebat dengan Rumah Nomor 13. Renovasi setengah jadi yang menjadikan rumah itu tak sempurna –dan katanya berhantu—, sering menjadi penyebab olokan Rumah Nomor 13.

Jika cerita-cerita pada “Malam Wabah” terkesan baru, maka “Pada Suatu Hari Nanti” memuat 10 kumpulan cerita atau dongeng lama–baik lisan maupun tulisan— yang ‘dipelintir’ menjadi versi yang lebih berbeda. Mulai dari Ken Arok, Rama dan Shita, hingga Malin Kundang.

Malin Kundang yang kita kenal pasti lelaki miskin yang merantau ke negeri seberang. Sukses sebagai pedagang ditambah memiliki istri cantik membuat Malin lupa pada ibunya sehingga dikutuk menjadi batu.

 Dalam cerita berjudul “Sebenar-benar Dongeng tentang Malin Kundang yang Berjuang Melawan Takdir Agar Luput dari Kutukan Sang Ibu”, Malin tak sepenuhnya anak kurang ajar.

Malin memang dikutuk menjadi batu. Tapi, saat kutukan ibunya mengenai perahu dan para awak, dia lompat ke laut, lantas mencari-cari ibunya di segala tempat agar mendapat permintaan maaf keesokan hari (hal 75).

“Setiap kali pasar bubar, Malin tidak tahu mesti ke mana karena lupa letak rumahnya. Kalau malam turun, Malin duduk di pasar sepi, yang dibersihkan oleh beberapa tukang sampah yang sama sekali tidak pernah memperhatikannya. Ia tetap setia menunggu. Siapa tahu besok-besok ada perempuan yang ikhlas mau mengaku sebagai ibunya dan menerima permintaan maafnya (hal 82).”

Kumpulan cerpen ini tentulah unik. Pembaca disajikan alur cerita berbeda dengan cara bertutur yang tak hanya prosa-prosa, bisa juga hanya kumpulan potongan dialog, namun tetap filosofis.

Kelebihan lain adalah kover menarik dengan lukisan artistik. Kemasan per judul buku dibuat bolak-balik, mengingatkan kembali pada dwilogi Padang Bulan dan Cinta di dalam Gelas karya Andrea Hirata.

Ini akan membuat geliat karya sastra semakin semarak di perbukuan tanah air. Apalagi, ciri khas SDD tetap hadir, dengan kalimat-kalimatnya yang sederhana namun puitis.

  
Judul : Malam Wabah & Pada Suatu Hari Nanti
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 88 halaman dan 94 halaman
Terbit : Cetakan I, Juni 2013
Harga : Rp49.000

ISBN: 978-602-7888-40-1

*dimuat di Koran Jakarta, 6 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut