Kamis, 20 Desember 2012

LOLITA DAN SEBUAH AYUNAN




LOLITA DAN SEBUAH AYUNAN


Namanya Lolita. Ia adalah anak tunggal dari keluarga Pak Ridwan. Ia juga menjadi cucu pertama di keluarga besarnya. Itu berarti, kasih sayang mereka dicurahkan betul kepada anak yang satu itu. 

Meski dimanja, ia nyatanya tetap menjadi pusat perhatian bagi orang orang-orang di sekelilingnya. Ia benar-benar mewarisi garis keturunan yang baik, macam dominan pada resipien pertama dalam biologi. Matanya cokelat muda, bening sekali bila diterpa matahari. Tubuhnya tegap, kulitnya sawo matang. Manis. Wajah natural orang Jawa. Seringkali bocah-bocah kecil mengunjungi rumahnya, bercanda-canda dengannya. 


Bukanlah kecantikannya yang menjadi perihal utama. Sifatnya itu, benar-benar menyenangkan. Ia mampu membuat suasana lebih hangat. Ia mau bergaul dengan siapapun. Padahal saat itu ia adalah anak salah satu staf pabrik gula, pekerjaan bergengsi di sekitarnya.

 Suatu hari, Lolita sakit. Ia demam tinggi. Ibu dan ayah panik. Kakek dan nenek juga panik. Mereka sedih sekali melihat Lolita. Mereka mendatangkan dokter terbaik dan obat terbaik. Dijaganya bergantian sampai Lolita sembuh. Akhirnya, separuh napas mereka sembuh. Apapun yang Lolita inginkan akan dikabulkan.

Lolita hanya memiliki satu permintaan, ia ingin sekali memiliki ayunan. Ayunan yang tingi besar berwarna emas. Lolita telah lama melihat benda istimewa itu di kartun-kartun Barbie. Lolita ingin menghempaskan tubuhnya ke udara, lantas kembali karena gravitasi. 

Sang kakek membuatkannya hari itu juga. Sebuah ayunan yang cantik dan menawan. Lolita berjanji akan bermain dengan ayunan itu kala sembuh benar. Dan benar saja. Ia tertawa lepas. Kebahagiannya itu menjadi kebahagiaan ibunya, juga ayahnya. Setiap hari, saat senja, ia mengajak ibu dan ayahnya bermain bersama. Terkadang Lolita yang didorong, terkadang Lolita yang mendorong.

Teman-teman juga menyukai ayunan Lolita. Mereka mengintip-intip rumahnya, berusaha meminta izin. Malang, sang pembantu tak mengizinkan. Saat Lolita menerawang jalanan, ia menangkap gelagat yang terjadi. Dia tersenyum kecil, lantas berbisik kepada ibunya. Ibunya yang tak kalah rendah hati itu mengangguk-angguk. Lantas membuka gerbang. Anak-anak tertawa. Mereka bisa bermain bersama-sama.

Perbuatan itu menyebabkan satu hal, menambah teman-teman Lolita. Banyak sekali yang ia kenal, termasuk Sarah. Lolita cukup dekat dengan puteri sulung buruh pabrik gula itu. Adiknya banyak, lima orang. Lolita menyukai kepribadian Sarah yang ceria. Sedangkan Sarah menyukai Lolita yang tenang. 

Mereka lalu bercerita banyak hal. Tentang cita-cita yang sama. Bersekolah di sekolah yang sama. Sudah lama Lolita ingin bersekolah di dekat-dekatnya saja. Alasannya, ada sebuah ayunan di sana. Sekolahnya pun luas. Lolita tahu, dia takkan lama di situ. Sebentar lagi ayahnya akan dimutasi. Ia cukup senang dengan teman-teman sekarang. Ia tak mau separuh harinya direnggut dengan berpanas-panasan ria setiap hari. 

Sang ayah mengizinkan. Duhai, betapa bahagianya dia. Lolita semakin rajin belajar. Dua hari sekali belajar bersama Sarah. Ia tak pernah lepas dari juara kelas. Ia juga tetap rajin les piano. Hingga akhirnya waktunya tiba. Ia harus pindah juga. Ia melanglang jauh ke ujung Pulau Jawa. Ia tak sempat menyapa Sarah karena terburu-buru. Sebenarnya ia takut, perpisahan itu datang juga. Ia benci yang namanya perpisahan. 

Ayunan itu jadi tak terawat. Besinya berkarat dimakan usia. Penghuni baru tak menyukainya, meninggalkannya. Anak-anak desa tak bisa bermain ayunan. Pembantu rumah besar itu lebih pelit. Apalagi sang empunya rumah. 

Mereka merindukan Lolita. Mereka merindukan gadis berlesung pipit itu. Apalagi Sarah. Ia terpukul sekali mendapati kenyataan Lolita pergi tanpa berpamitan. Tapi ia sadar, ia tak memiliki hak untuk meminta. Mungkin ia tak dianggap istimewa.

Sarah pulang ke rumah. Ia membuka buku diary kesayangannya. Tulisan mereka berdua. Tulisan tentang cita-cita yang sama, cita-cita yang klise, dokter. Entah Sarah, bisakah menggayut cita-cita yang setinggi langit itu. 

Kelak, kita akan membahagiakan kedua orang tua kita, dengan caranya masing-masing, kata Lolita di buku harian itu. 

Sarah ingin menjadi kakak yang hebat. Ia melanjutkan cita-citanya sendirian. Ia tahu, ia bukanlah cucu pertama, bukan pula anak tunggal. Adiknya banyak. Ia hidup dalam kebersamaan yang cukup rumit, tetapi membahagiakan. 

Hari berganti hari. Keduanya sibuk, larut, atau lupa. Banyak tokoh-tokoh baru dalam kehidupan keduanya. Ayunan itu? Semakin rusak ditinggal jaman. Tapi ajaib, rumah itu beralih penghuni lagi. Penghuni yang jatuh cinta pada ayunan yang tak terpakai itu. Diperbaikinya ayunan itu hingga menjadi seperti baru.

Suatu hari kakek Lolita menelepon. Ia mengajaknya pergi ke desa. Gayung bersambut. Akhir-akhir ini ia ingin pergi ke sana. Dibayangkannya teman-teman yang berkumpul menjadi satu. Tentunya mereka tumbuh semakin mempesona. 

Lolita disambut oleh keluarga kecilnya. Liburan yang menyenangkan. Ia merindukan pepohonan rindang, juga asap yang keluar dari cerobong pabrik, membumbung tinggi di udara. Ia juga ingin naik ayunan itu. 

“Dimana teman-temanku yang dulu?” katanya saat menjelajahi isi desa.

“Mereka, banyak yang menjadi TKW di negeri seberang.” Kata seseorang.

“Ada juga yang sudah menikah, merantau, dan belum kembali,” ujar yang lain.

“Kalau Sarah?”

“Ia sudah bekerja. Entah bekerja apa. Ia jarang pulang.”

Lolita pergi menengok ayunannya. Ayunan itu terlihat baru. Ia pun naik ayunan itu. Kakek yang mendorongnya.

Lolita menyerah. Inilah penyakit orang-orang yang berpisah. Saling berharap tetap terhubung, tapi tak ada yang berusaha menyapa. Ia salah, mereka juga salah. Lolita mau pulang. Ia sudah jengah. Ditatapnya wajah kakek yang selalu sabar menunggnya sedari tadi. Ia menyembunyikan dukanya sedari tadi. Tapi sepertinya kakek tahu.

“Jangan pulang dulu.”

Lolita tetap melangkah, hingga sebuah panggilan menghalaunya. Lolita berbalik arah. Pikiran buruknya hilang. Sebuah tubuh memeluknya hangat. Sarah.

“Aku ingin mendengarkan suara ceriamu lagi. Kautak pernah mencariku. Maaf tak berpamitan dulu sepuluh tahun yang lalu.“ Lolita sesenggukan.

“Kaupergi tanpa jejak. Bagaimana mungkin aku bisa mengejarmu? setengah mati mencari nomor ponselmu. Tapi tak dapat. Aku ingin membaca koleksi majalahmu.” Ujar Sarah, juga sesenggukan.

Lantas, mereka naik ayunan bersama, bercerita tentang cita-cita. Tentang Lolita yang belajar anatomi setiap hari. Tentang Sarah yang mengubah haluannya. Ia menjadi pelukis anak-anak sekarang, mencari inspirasi di kota seberang.

“Kelak, kalau kaujadi dokter, jadilah dokter yang ramah. Yang pintar lagi rendah hati. Jangan sampai kami yang tak punya banyak uang dalam berobat ini tambah sesak hatinya karena pelayanan yang tidak ramah. Kalau perlu kaugratiskan bagi orang-orang miskin.”

“Baiklah. Kelak, ketika anakku lahir, kaujuga yang melukis wajahku dan anak pertamaku.”

“Baik. Janji.“

Di ayunan yang sama, mereka berbagi janji lagi. Semoga Tuhan mengabulkan janji mereka ‘tuk menjadi nyata.* (Dimuat di Ruang Publik Radar Bromo, 16 Desember 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut