Rabu, 30 Januari 2013

Pertemuan Kedua


PERTEMUAN KEDUA

Entah bagaimana caranya, pandanganku yang sedari tadi gelap perlahan menjadi terang benderang. Semua baik-baik saja saat aku berdiri di tengah kerumunan orang dalam sebuah acara yang luar biasa padat. Malang Tempoe Doele, sebuah festival tahunan bagi warga Malang. Segala jajanan tersedia. Berbagai pagelaran terlaksana. Dari Tarian Beskalan hingga orang-orang berkostum jaman biyen1. Yang lelaki memakai baju batik sederhana dan celana tiga perempat dari kain katun. Sedang yang perempuan bersanggul di kepala, memakai baju kebaya dan jarik2 sampai bawah lutut. Sepanjang Jalan Ijen, jalan utama di kota Malang, benar-benar padat.

“Hei, kamu baik-baik saja?” ujar seseorang di sampingku.

Restu masih saja memperhatikanku dengan gelisah. Lelaki yang menemani kami sedari tadi itu seperti tak mau aku jauh-jauh. Bahkan saat kami bertiga memarkir motor di dekat sebuah ATM drive through.  Aku tersenyum. “Ya, aku baik-baik saja.” Mungkin karena seminggu telah mengenal watakku yang sering bepergian tanpa pamit, dia takut aku hilang atau dicuri oleh maling yang iseng atau ekstrimnya, dirampok pembunuh bayaran.


Berdesakan dengan lautan manusia itu seru juga. Kata Paklik3, kebanyakan yang ke sini adalah para mahasiswa. Maklum, universitas di kota ini banyak sekali. Aku, Paklik, dan Restu bergembira bersama. Kami meniup gelembung udara, memakan bakso, hingga berfoto di depan benteng yang terbangun sementara. Aku senang, tetapi sebenarnya ada yang lebih menyenangkan dari itu.

Restu mengajakku ke depan perpustakaan kota saat Paklik mencari musholla. Dia menggamit tanganku. Aku canggung.  Rasanya, seminggu kenal tetangga baru seperti dia seperti bertahun-tahun bertemu. Aku bisa merasakan keringat membanjiri pelipis kanan dan kiriku.

Cinta itu seperti adonan roti. Kalau dibiarkan, dia akan mengembang, bertambah besar. Dan sekarang aku tahu aku mencintainya. Restu mendekat ke arahku, dan semakin dekat. Dia mengatakan sesuatu. Lirih. Kalimat yang berakhiran huruf U.

“Apa kamu bilang?” aku tak bisa mendengarnya jelas. Restu lalu mengulangi kalimatnya lagi. Masih tak ada beda.

“Restu, kamu bilang apa?” ujarku setengah berteriak.

“Mbak, Mbak. Sudah sampai Terminal Arjosari nih. Mimpi, ya?”

Perkataan penumpang di sampingku mengembalikanku pada dunia nyata. Aku membuka kedua mata dengan berat. Apa-apaan ini? Sial. Beberapa detik kemudian, aku baru sadar. Barusan yang terjadi hanya MIMPI. Mimpi di dalam mimpi. Mimpi yang jelas-jelas mendeskripsikan sesuatu yang benar-benar terjadi di masa lalu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupaku barusan.

Bus dari Banyuwangi ini telah berhenti setelah kurang lebih tujuh jam melewati jalan pantura nan ramai. “Selamat datang di Kota Apel, Kemuning!” Kusambut diriku sendiri.

Kulangkahkan kaki keluar dari bus. Kuhirup udara dingin kota Malang banyak-banyak. Segar. Kupanjangkan leherku, mencari-cari sosok Paklik di dekat pintu keluar.

“Hooii!!” lelaki berkaus oblong putih melambaikan tangannya padaku. Paklik Raja. Segera aku menghampiri mobilnya.

“Ciee, yang baru diwisuda. Lalu mau kerja, tapi bosan di rumah saja, akhirnya mau mengunjungi akyuuu….” serobotnya dengan nada yang kealay-alayan. Paklik memang tak pernah berubah. Ditinggal enam semester tetap cerewet sperti ini. Dia memang sudah agak tua, umur tiga puluh. Namun jiwanya masih muda.

“Cie, yang baru nyetir mobil sendiri. Iya, dong. Paklik sendiri kapan kelar magisternya? Sambil menunggu kerja, aku ingin membuat liputan tentang kota ini. Nanti, ajak keliling Malang, ya!”

“Sudah lama aku punya SIM A, lo!. Asli. Tidak nembak. Paklik bulan depan yudisium. Oke. Aku mau jadi sopir gratisan. Kemanapun kamu pergi, akan kuantar.”

“Ciee, selamat yaa! Terima kasih, Paklik.

Mobil melaju di antara deru kendaraan yang lalu-lalang. Butuh setengah jam untuk menggapai daerah Dinoyo. Masih seperti dulu. Ada jalan layang dekat terminal, Lapangan Rampal, dan sungai besar terbentang di daerah Jalan Soekarno-Hatta.

Rumah Paklik masih asri dan dikelilingi bunga-bunga. Di sekitarnya, masih dikelilingi para tetangga yang bekerja sebagai perajin keramik.

Turun dari mobil, aku disambut hujan. Aku tersenyum. Dulu, kali pertama ke sini, hujan juga turun. Hujan sungguh ramah menyambutku. Bulik4 juga. Wanita asal Pekalongan itu semakin cantik saja.

“Bagaimana kabarmu, Nduk5? Sudah lulus kuliah? Kamu kangen ya jalan-jalan ke Malang lagi?”

“Iya, Bulik. Hampir tiga tahun tidak pernah kemari. Lebaran kemarin kan selalu di rumah saya di Banyuwangi. Jadi kangen. Malang itu dingin, banyak mahasiswanya, banyak fasilitasnya, banyak makaan enaknya.”

“Kangen jalan-jalan ke Malang atau kangen orang Malangnya?” Paklik menyambar tanya. Dia mengerlingkan sebelah mata. Biar aku saja yang tahu kalau aku memang merindukan Malang dan seseorang di dalamnya.

“Ya sudah. Ayo mandi dulu, nanti langsung makan.” Bulik menyela. Aku menurut. Ternyata, Bulik menyiapkan makanan lezat. Nasi hangat, brokoli berkuah, dan tahu khas malang dengan sambalnya.

Sehabis makan, kutengok sebuah rumah berdinding genteng merah di hadapanku. Rumah yang dihiasi banyak keramik guci. Sepi. Sepertinya seseorang yang kucari tak ada di situ. Entahlah, hanya firasat.

Hujan telah reda. Aku telah memendam rasa ingin tahu ini begitu lama. Sekarang aku ingin menemukan jawabannya. Jawaban atas kisahku yang tak jelas akhirnya.

 Tiga tahun lalu, berbekal kue tart yang masih tersisa, aku ke rumahnya, membagikan kue itu. Ulang tahunku yang ketujuh belas memang kuniatkan di sini, di kota kelahiran ayah. Aku melihatnya sedang sangat asyik menulis. Entah menulis apa.

“Restu,” dia memperkenalkan diri dengan pandangan yang tetap mengarah ke arah komputer. Menjabat tanganku pun tidak. Dia hanya bilang terima kasih, lalu memanggil mamanya untuk menemuiku.

Aku tak sengaja melihat kerjaannya. Sebuah reportase tentang galau massal anak-anak ujian tentang ujian nasional.

“Bagus. Hanya saja, apa tak diberikan solusi untuk mengatasi galau massal itu?” saranku waktu itu. “Aku pernah mengikuti diklat jurnalistik di kampus.”

Restu langsung menatapku tajam. “Namamu siapa?”

“Kemuning.”

“Apa? Kuning? Seperti warna matahari, dong!”

“Bukaan. Kemuning. Ka-E-Em-U-En-I-EN-Ge.”

“Ooh.” Meski terlihat enggan, dituruti juga akhirnya omonganku. Dieditnya lagi reportasenya itu. Menanyakan kepadaku mana yang kurang dan mana yang bagus.

“Terima kasih.” Ujarnya senang. Percakapan pun mengalir. Aku tahu dia anak Kimia di Universitas Brawijaya. Dia pun tahu aku mahasiswa Geografi Universitas Jember. Tak hanya perbincangan akademis, hal-hal sepele dibahas juga. Dari potongan rambutnya yang seperti Christian Bautista hingga celana polkadot pendeknya yang membikinku menahan tawa. Dia juga meledek seleraku yang masih menyukai komik Conan dan kebiasaanku menggerak-gerakkan telinga secara tiba-tiba. Ternyata ater-ater6 kue ulang tahun menimbulkan sebuah kesan. Setidaknya, bagiku seorang.

Percakapan menjelma menjadi ajakan untuk bermain mengisi liburan semesterku yang masih lama. Maka, segala sudut kutelusuri. Mengunjungi kakek Restu di Lavalette, melihat pertandingan Arema di Stadion Kanjuruhan, dan tentu saja, pergi ke Festival Malang Tempoe Doele. Di situ aku menghabiskan hari terakhirku dengan suka cita. Dia membantu membeli makanan yang kucari. Dia ikut berfoto bersama para pemusik gamelan. Dan dia tak henti-hentinya mengawasiku saat Paklik sibuk dengan titipan istrinya. Aku tahu, ada perasaan hatiku yang berubah. Dari yang biasa menjadi istimewa.

“Kamu tahu. Kamu bertambah manis dari hari ke hari. Atau pandanganku saja yang bertambah buram karena sinarmu?” ujarnya kala kami memakanan cilok bakar di tepi jalan untuk festival yang ramai.

Di situ aku tak menanggapinya. Aku takut kecewa. Kecewa akan suatu fakta yang belum kutahu.

“Aku tak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan sebelumnya. Ya, kecuali dengan ibuku sendiri.”

Aku manggut-manggut. Meski setengah tak percaya.

Aku tahu aku belum benar-benar mengenalnya. Tapi, aku merasa festival ini berlalu begitu cepat. Bahkan aku menganggap kehadiran Paklik yang menemani liburan semesterku hanya figuran saja. Aku dan Restu yang menjadi pemeran utamanya. Aku menemani setiap detik, setiap fragmen yang tersisa.

Lalu dia mengajakku rehat di depan perpustakaan kota di Jalan Ijen saat Paklik mencari musholla. Dia menggamit tanganku. Aku canggung.  Jantungku berdegup kencang. Belum sempat diucapkan kalimatnya, saat itulah aku melihat seorang perempuan menghampirinya. Wajah Restu tiba-tiba pias. Dia bercakap-cakap dengannya. Mesra. Aku tidak tahu kena racun apa hatiku hingga merasa tercabik-cabik olehnya. Restu hanya melihatku dengan tatapan penuh makna. Lalu, dia memperkenalkan seorang wanita di hadapannya

“Kemuning, ini Maria. Teman sekelas.”

“Teman sekelas? Halo? Jangan bercanda, Restu!” ujar Maria sambil menggamit tangannya.

Restu hanya menaikkan sebelah alisnya.

Tak usah menunggu waktu lama untuk pulang. Aku tak peduli dengan rentetan pertanyaan yang dilontarkan Paklik. Seminggu yang seperti musim semi berubah menjadi musim gugur yang meranggas. Aku tahu, aku sudah tak butuh jawaban. Hubungan ini belum dimulai. Ssemuanya sudah jelas. Lantas, tatapan mata itu, adakah makna lain selain cinta?

Kali ini, langkahku lebih dekat satu langkah menuju pagar rumahnya. Aku ingin bertemu Restu, meski hanya ucapan “Hai” atau “Apa kabar?”. Tapi, sedetik kemudian, kuurungkan niatku. Mungkin saja dia benar-benar tak ada. Kalaupun ada, dia mungkin tak mau bertemu denganku. Baginya, tak ada sesuatu yang perlu diperjelas.

Kembali ke rumah Paklik, kuberhadapan dengan laptop.  Membuka lid-nya, dan mulai menulis . Seperempat jam sedikit memberikan gambaran tentang kota Malang. Huruf demi huruf terangkai. Kota Malang semakin modern. Modern dengan banyak motor, dengan mobil-mobil baru, tetapi masih ada sudut yang masih “lama.” Penjual balon di alun-alun kota, Museum Brawijaya, dan hiruk pikuk pasar burung di dekat tugu kota.

Tiga puluh menit berjalan. Kuhembuskan napas panjang. Datar. Tak bernyawa. Rasanya, tulisan ini hanya sekumpulan kata yang dirangkai untuk memenuhi kriteria huruf-huruf minimal. Apa yang salah? Adakah yang kurang?

“Kalau ingin meliput Malang lebih banyak, kamu harus ikut Malang Tempo Doeloe!” ujar Paklik setengah berteriak. Dia memberikan penekanan intonasi yang tepat ke Malang Tempoe Doele. Sepertinya, dia memerhatikan apa yang kulakukan sedari tadi.

Memori itu datang lagi. Jantungku seperti keluar dan ditarik dengan karet gelang.

“Kamu kan tahu besok ada MTD. Besok aku mau ke sana. Mau ikut, nggak?”

“Sama siapa?” spontan aku menjawabnya seperti itu.

“Kita berdua saja. Kandungan Bulik-mu sudah membesar. Harus banyak di rumah. Kalau dulu kita bersama Restu, sekarang dia tak bisa ikut. Sedang mendaki Gunung Bromo katanya.”

“Ooh.” Restu tidak ada di rumah. Entah sampai kapan. Berarti aku harus ikhlas membiarkan ketidakjelasan hidup sama kapan.

“Ikut, ya?

Aku mengangguk. Bagaimana pun, untuk alasan apa pun, aku suka berjalan-jalan di kota ini. Semoga bisa menghibur lara hati.

*

Sore yang cerah. Paklik yang baik hati mengajakku berkelana. Alun-alun, Masjid Agung-nya, pohon beringinnya, dan merpati-merpati jinak yang beterbangan di sekitar air mancur. Kupotret banyak bangunan dan orang-orang. Tukang parkir di pasar besar, penjual jeruk di pinggir jalan, hingga anak kecil yang memberi makan burung-burung merpati itu.

“Ngomong-ngomong, kausudah punya pacar, Kin?” tanya Paklik saat menuju Jalan Ijen.

Aku terkaget-kaget dengan pertanyaan Paklik. “Belum. Jomblo.”

“Pantas saja tubuhmu semakin kurus.” Ledeknya, membuatku ikut tertawa. “Cari dong, Ning. Yang baik, cerdas, alim. Syukur-syukur dijadikan suami. Hehe.”

“Aku merelakan lemak tubuhku hilang karena ujian skripsi. Dan aku bersyukur karena itu.” Aku terdiam sejenak. “Aku mau saja seperti itu. Sayangnya, kenyataan mungkin berkata lain.”

“Maksudmu?”

“Aku pernah mengenal seseorang. Meski baru sekali mengenalnya, dia sepertinya baik. Dia sangat menyayangi ibunya. Ulet, tekun, dan nggak neko-neko. Sayangnya, dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas, Paklik.” Biarlah pamanku ini tahu, keponakannya sedang jatuh cinta sekaligus putus asa. Yang penting, dia tidak tahu kalau lelaki itu adalah Restu, tetangganya sendiri.

Paklik menghembuskan napas dalam. Heran, jarang sekali dia bersikap seperti itu. “Memang, siapa dia? Orang Malang juga, ya? Sudah kenal berapa lama?”

“Ada saja.” Jawabku, balas mengerling.

Paklik mencak-mencak. Paling tidak, dia memberiku sebuah nasihat. “Kauboleh menunggu, tapi, tak ada salahnya mencari tahu. Mencari jawaban kepada seseorang yang memberi harapan itu.”

Sudah Paklik. Sekarang, aku ke tempat ini, tujuannya juga itu. Tapi dia tak ada di rumah.

Aku tak mau terus-terusan sedih. Selanjutnya, topik perbincangan kami berubah. Tentang Bulik yang suka ngidam aneh-aneh, seperti ingin martabak dari telur puyuh. Kasihan juga Paklik. Dia sering kelelahan karena harus mencari sesuatu sampai ke Kota Blitar bahkan Tulungagung.

Kami sudah sampai. Inilah Malang Tempoe Doeloe. Suasananya juga masih seperti dulu. Jalanan Ijen padat merayap. Ribuan orang berjubelan di sini. Masih didominasi dengan lelaki berbatik dan wanita berkebaya. Wajah sore ini indah, cantik. Hampir-hampir aku meneteskan air mata. Aku bersyukur bisa menikmati sore di kota ini. Aku mengabadikan peristiwa ini dengan kamera yang tergantung di leher, jepret sana jepret sini. Setelah itu aku makan apa saja. Dan melihat apa saja.

“Nikmati saja hari terakhirmu di sini. Oke?.”

Aku mengiyakan kata-kata Paklik. Mula-mula, aku mengikuti langkahnya yang besar-besar itu. Aku tidak mau kehilangan jejaknya. Mataku terus tertawan dengan berbagai jajanan yang terhampar, juga dengan berbagai atraksi yang lewat. Sesekali ada para penumpang yang menaiki kuda.
           
           Mataku semakin tergiur dengan pemandangan yang ada. Kususuri outlet-outlet kecil segala rupa. Segala jajanan kucicipi. Dari permen lollipop besar, bakso, hingga semangkuk kupang. Aku baru tersadar saat di hadapanku sudah tak nampak lagi Paklik.
            
           Kucari-cari lelaki bertopi a la Maher Zein itu. Ke kanan dan ke kiri. Ke depan dan ke belakang. Benar, aku benar-benar sendirian sekarang.

Tolong, aku tersesat di sini! Tersesat adalah salah satu hal yang lebih kutakuti daripada kecoa dan cicak. Kumohon, Festival Malang Tempoe Doele terlalu luas. Rasanya ingin aku berteriak seperti itu, jika urat gengsiku lepas. Ini hari terakhirku di Malang dan aku sudah membuat masalah lagi! Tenang, Kemuning. Kamu harus tenang.

Aku melangkah pelan-pelan, dengan indera penglihatan yang bekerja sempurna. Mencari sosok lelaki berbaju batik biru ngejreng sebenarnya tidak sulit. Tapi nihil. Yang ada aku menemukan seseorang yang sama tersesatnya pula. Dia celingak-celinguk sana sini di ujung Jalan Ijen sebelah selatan.

Tunggu. Sepertinya, dia seseorang yang sepertinya kukenal. Mata bulat cokelat itu, potongan rambut bak Christian Bautista itu. Restu! Dadaku seketika bergemuruh. Di dahiku banjir keringat. Dia bertambah jangkung dan, semakin menawan.

           “Kemuning.…” Sebuah suara menyebut namaku. Aku melihat wajahnya. Seperti orang itu tak menyangka bertemu denganku. Segera aku memalingkan pandangan. Pura-pura tak tahu.

          Kali ini dia menarik sedikit ujung bajuku. “Kemuning, bagaimana kabarmu?” Dia berkata dengan nada begitu tinggi. Antusias. Rasanya, ini benar-benar mimpi. Bagaimana bisa dia di sini, sedangkan kemarin masih di Gunung Bromo.

            “Baik.” Jawabku dengan senyum sepuluh senti. Kau tahu, Restu? Melihatmu begini saja aku sudah meleleh diterpa hembus angin. Tapi, mengingat ketidakjelasan selama tiga tahun itu, aku jadi ingin berkata pendek-pendek saja.

            “Kamu tersesat juga? Aku tadi janjian dengan Paklik-mu. Katanya, kami akan bertemu di Jalan Ijen sebelah selatan. Eh, nggak ada juga. Aku malah ketemu kamu.”

            Aku menutup mulut. Pasti ini ulah Paklik. Tapi, apa iya? Bagaimana Paklik bisa tahu aku menyukai Restu? Astaga, kertas konsep liputan yang kucoret-coret kemarin kan belum kubuang. Di situ tertulis nama Restu besar-besar. Lengkap dengan tanda cintanya. Kemuning yang ceroboh! Berarti, pertanyaan di mobil tadi hanya untuk memastikan aku masih menyukai Restu? Ooh, ayolah….

            “Ning, kok melamun?”

“Ooh, iya. Wah, kalau begitu, kita tunggu saja dia.”

Lima menit yang lama. Cepatlah berlalu. Namun hingga sekarang Paklik belum juga menunjukkan batang hidungnya.

“Di sini hujan terus menerus, ya?” aku tahu pertanyaanku sama sekali tak koheren. Biarlah. Biarlah. Daripada aku membisu dan aku mati gaya menghadapinya.

            “Tentu.” Restu menjawab pendek. Kali ini, gaya bicaranya sedikit kaku, seperti yang kulakukan tadi.

           “Kuliahmu bagaimana, Restu? lancar? Katanya kamu mendaki Gunung Bromo, kok sudah pulang?” aku juga berusaha melenyapkan rasa grogiku.

            “Tentu. Aku sudah lulus sepertimu. Satu jam yang lalu aku datang dari Probolinggo. Karena ingin ke MTD, ya sudah, ke sini saja.”

“Ooh. Wisudanya lancar? Nilaimu bagus?”

            “Tentu. Aku dapat summa cumlaude lo!”

            “Selamat, ya!”

            “Kemuning sudah kerja?”

“Tentu.” Aku tergelak. Kali ini Restu yang terjebak. “Maksudku, tentu aku belum bekerja sekarang.”

          Kami lalu terdiam. Aku merasa segala sesuatu berjalan lambat sekarang. Dan aku tak suka itu. Orang-orang yang berpakaian baju batik berjalan selangkah demi selangkah, seperti slow motion. Anak-anak kecil meniup balon bergelembung perlahan. Para wanita yang menarikan Tari Beskalan juga tak kunjung selesai. Apa namanya ini? Apa aku jatuh cinta lagi? Atau sebaliknya kadar cintaku sudah luntur jauh-jauh hari?

           “Maafkan aku, Kemuning.” Akhirnya Restu membuka suara. Isi kalimat yang membuat hatiku campur aduk olehnya. Baru sekarang minta maaf. Kenapa? Harapanmu yang dulu itu, kemana?

        Aku bingung harus menjawab apa. “Maaf karena apa? Kamu tidak bersalah atas apapun.” Tegasku, berpura-pura tegas lebih tepatnya.

Restu terdiam beberapa saat. “Waktu terakhir kamu ke sini, tiga tahun lalu, saat aku ingin menyampaikan..”

“Ooh, tidak mengapa. Tak usah kamu pikirkan. Yang berlalu biarlah berlalu.” Aku tidak menyangka bisa berkata seperti itu.

         “Aku ingin kamu tahu sesuatu,” katanya lugas. Seakan-akan dia tahu, aku sedang menunggu-nunggu kepastian darinya, sejak lama.

            “Sesuatu apa? Semuanya sudah jelas. Maria datang kepadamu waktu itu.” Pertahananku mau runtuh. Aku takut aku tak dapat menahan tangis sekarang. Harapanku sudah hancur berkeping-keping.

            “Itu, aku akan menjelaskan kepadamu tentang Maria. Aku dan Maria tak pernah berstatus istimewa. Dia temanku, selamanya. Tidak kurang, tidak lebih. Dia kecewa karena kutolak. Dia hanya mempermainkanmu, ingin membuatmu marah dan cemburu.”

            “Dan kamu membiarkanku pergi begitu saja?”

            “Kata siapa? Aku berusaha menghubungi nomormu, tapi tidak aktif. Aku minta nomormu yang baru pada Paklik. Tapi dia menolak. Dia bilang, kamu tidak ingin dihubungi oleh siapapun setelah kamu kembali ke Banyuwangi.

  Dan aku tak pernah bertemu denganmu lagi, setelah pertemuan kita yang dulu.”
         
         Aku tersenyum getir. “Kamu tidak perlu memperjuangkan apapun, Restu. Kita tidak pernah memulai apapun.”
            Restu menggeleng. “Kita telah memulai sebuah ikatan bernama pertemanan. Dan kita akan melangkah yang lebih jauh lagi. Apakah perlu kita dustakan kenyataan-kenyataan yang terhampar di hadapan kita? Saat kita ke Lavalette, Pasar Gadang, Kauman, dan Festival Malang Tempoe Doele ini? Apa perlu kita uraikan lagi sesuatu yang sudah jelas-jelas kita rasakan?”

            Aku terhenyak mendengar kata-katanya. Dusta jika aku bilang aku telah melupakan semuanya.

            “Kemuning, apa perlu kita susuri lagi empat kecamatan kota ini, ruas-ruas jalan di kota Malang agar tahu muara apa perasaan kita sebenarnya?”

            Aku menangis. Campur aduk rasanya. Aku tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat seorang gadis sesenggukan di bawah pohon palem di sudut jalan yang ramai ini. Sungguh aku tak peduli.

Restu merasa bersalah. Diberikannya sapu tangan polkadot warna hijaunya kepadaku.

        “Ning, jangan menangis lagi, ya. Lusa, saat kamu sudah di rumah, aku mau ke Banyuwangi. Aku akan menemui orang tuamu. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku tak ingin kehilanganmu lagi.”

            “A, apa? Apa aku tak salah dengar?” Seketika aku dihujani kebahagiaan yang luar biasa indah.

“Tidak, Ning. Aku bilang, lusa aku akan ke Banyuwangi, menemui orang tuamu.”

“Tapi, Restu, kamu tahu, ini terlalu jauh!” kali ini orang-orang heran dengan suaraku yang melengking tajam.

            “Haha. Tenang, Ning. Tidak akan seperti yang kamu bayangkan kok. Aku tahu semua butuh proses. Kamu jangan menangis lagi, ya? Kumohon…..”

           Aku mengangguk. Tak kusangka, tiga tahu berlalu, setelah perjuangan mati-matian memendam perasaan, aku bertemu Restu juga, mendapatkan kejelasan.

           “Ciee, ada yang lagi bahagia, nih. Tersesat membawa berkah ya, keponakanku?” tiba-tiba Paklik muncul di antara kerumunan orang-orang. “Maaf, ya, tadi kutinggal. Aku masih bisa memperhatikan kalian, kok. Selamat!! Sudah, dengar apa kata Restu. Ternyata, kenyataan tidak berkata lain, bukan?”

            Aku tersenyum lega. Aku telah mendapatkan kepastian. Kepastian atas hubunganku dengan Restu. Di sini, di tempat ini, saat mengikuti Festival Malang Tempoe Doele. Pada perteman kedua yang lebih indah.

*

Catatan kaki:
1.     Jaman biyen            : Zaman dulu
2.     Jarik                       : bawahan kebaya, biasanya berwarna kecokelatan
3.     Paklik                      : Paman (bahasa jawa)
4.     Bulik                       : Bibi (bahasa jawa)
5.     Nduk                       : Panggilan untuk anak perempuan
6.     Ater-ater                 : Mengantar makanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut